Mengunjungi Kenangan Masa Kecil Melalui Musikal Petualangan Sherina

Berbicara tentang Petualangan Sherina mau tak mau juga membahas sebuah fase di kehidupan gue. Saat film Petualangan Sherina dirilis di tahun 1999, film itu berhasil menciptakan trend di anak-anak seumuran gue saat itu. Tas ransel kegedean, permen mnms di kotak bekal, plester di sana-sini padahal nggak ada luka, you name it. Bahkan sampe bikin gue pengen banget mengunjungi Bosscha. Gue yang saat itu memang sudah jadi fans Sherina dan lagu-lagunya, jelas saja film tersebut jadi sesuatu yang membekas di masa kecil gue.

Segala aksesoris, majalah, tabloid yang bahas film itu pasti gue beli. Bahkan gue ingat gue pernah sangat amat marah dengan nyokap dan sepupu gue karena buku yang membahas seluk beluk behind the scenes Petualangan Sherina (yang belinya kudu di Jakarta waktu itu) nyokap gue pinjamkan begitu saja ke sepupu gue (baca: meminjamkan berarti memberi). Gue ogah main sama sepupu gue itu berminggu-minggu setelahnya dan hubungan kami merenggang (halah!) gara-gara itu.

Nah, begitu tahu film Petualangan Sherina ini dialihwujudkan menjadi pertunjukan musikal, terang saja gue penasaran. Ngebayangin lagu-lagu dan film favorit dimainkan kembali dengan sensasi berbeda, WAH! Ternyata nggak cuma gue yang merasakan itu. Saat pertama kali diadakan, gue nggak sempat menonton karena kehabisan tiket. Sumpah deh, cepet gila habisnya. Pas giliran mau beli, nyisa tiket yang harganya nggak cocok buat kelas menengah ngehe kaya gue. #teteprealistis Ya sudah deh, kali itu gue harus puas gigit jari lihat temen-temen gue update di media sosial soal betapa bagusnya musikal Petualangan Sherina ini.

Sepertinya ya Jakarta Movement of Inspiration, yang memproduksi musikal Petualangan Sherina, mendengar jeritan hati para rakyat yang nggak bisa menikmati pertunjukan pertama di akhir tahun 2017 kemarin. Akhirnya mereka membuat kembali di bulan Februari 2018 ini. Begitu periode pembelian tiket early bird dibuka, widih gila gila gila, itu juga nggak kalah cepat habisnya sama yang pertama. Alhamdulillah, gue masih beruntung bisa dapat tiket dengan harga early bird meski harus dapat duduk terpisah-pisah dengan 2 teman gue yang lain. Prinsipnya: YANG PENTING NONTON.

INI LAMA AMAT YA BAHAS MUSIKALNYA? HAHAHA. BIASA, GUE EMANG ANAKNYA GITU. Continue reading

Advertisements

IDGAF

M: Let’s meet again

F: To discuss about world peace?

M: To kiss you for sure.

F: You know my answer.

M: And you know how persistent I am.

 

Photo by Denys Argyriou on Unsplash

yang hilang demi sadar penuh

bersembunyi dari gaduh
penipu ulung, pemain drama, pelawak kawakan
semua semarak dalam satu sandiwara
teater maya, namanya.

berlindung dari riuh
mata silau, telinga pekak
dan rasa kadang mati.

sesekali bahagia, berkalikali mengeluh
lalu buat apa yang sementara?

elok dan pujapuji dicari sampai berpeluh
pada siapa kau ingin buktikan itu
jika tak ada yang hirau

lukamu masih belum sembuh
sabarlah sebentar. duduk dan istirahatlah
pejamkan mata kalau ingin

lalu, kembalilah saat kau sadar penuh.

 

Photo by Kaylah Otto on Unsplash

struggling, but surviving

“Acting fine is a cognitive process.” – Karen Lowinger

I’ve hit rock bottom. Jatuh, sejatuh-jatuhnya. Menangis sampai tertidur justru menjadi ‘obat tidur’ saya. Bangun di tengah lelapnya tidur karena merasa sesak pun bukan hal aneh yang terjadi hari-hari terakhir. Keadaan yang sampai membuat saya sangat negatif dalam segala hal. Hal itu pula yang membuat saya memutuskan untuk detoks dari beberapa media sosial.

Mengalami kesedihan saat usia sudah dikatakan dewasa, mungkin membuat saya (berusaha) mampu untuk menghadapinya sendiri. Setidaknya tidak ada penyangkalan. Saya menerima dan mencoba melaluinya.

Ketika kamu tetap harus melalui hari-harimu, karena tentu saja dunia tidak berhenti berputar hanya karena kamu bersedih, kamu akan memasang topeng itu. Topeng baik-baik saja. Everything is okay. Sekali lagi bukan untuk menyangkal kesedihan, tapi semata-mata kesadaran diri bahwa kamu tetap ingin dan harus menyelesaikan kewajibanmu. Continue reading

Hidup ini kadang lucu ya. Di saat orang-orang lain mengawali tahun baru mereka dengan resolusi dan optimisme, saya (terpaksa) harus mengalami kesedihan yang teramat dalam. 2018 menyambut saya dengan duri-duri tajam, membuat hari-hari terakhir ini rasanya penuh sesak.

Di akhir tangis, lalu saya menertawai diri sendiri. Mau apa kamu kalau di awal begini saja sudah hancur lebur?

Saya tak menyangka akan sepatah ini jadinya. Sampai benar-benar terjadi. Sampai saya akhirnya merasakan kembali menangis sampai tertidur. Sampai saya benar-benar merasa sesak yang sakit, sungguh sakit. Iya, saya tiba-tiba terbangun karena merasa amat sesak. Merasa jatuh terpuruk, sendirian, dan gelap.

Berjelaga

ada lubang di tubuhku. lubang yang dicipta sendiri.

menganga, mengisap semua bahagia. yang tinggal hanya sesak.

serta rindu.

 

ah ya, rindu.

pada satu orang yang kini membuat hidup semakin berjelaga.

 

ingin rasanya lari lalu tenggelam. mungkin di samudra?

agar aku lupa.

[not a Review] Film Wonder dan Kenangan Masa Kecil

Kemarin akhirnya menyempatkan nonton Wonder. SENDIRI! Yak, setelah sekian lama nggak nonton sendiri di bioskop, demi Wonder gue bela-belain nonton sendiri. Bisa dibilang kepengen nonton ini karena terhasut rekomendasi orang-orang di media sosial yang bilang film ini sedih dan menyentuh. Jadi, walaupun sebenarnya sudah diprediksi filmnya akan sedih, gue nggak tahu tuh apakah gue akan serta-merta mewek atau cuma berlinangan air mata kaya gue nonton Coco. Seingat gue, terakhir gue mewek terus-terusan nonton film di bioskop itu pas nonton film Jepang “Her Love Boils Bathwater”. Nah, pas banget kan kemarin itu gue lagi ‘dapet’ tuh. Sebuah kombinasi sempurna, kan? Film sedih + hormon! Telen aja noh aer asin~~

Oke baiklah, gue akan serius dan tentu saja sesuai judulnya, ini bukan review. INI CURHAT! Yang pasti ini film sukses bikin eik mulai meneteskan air mata, bahkan di menit-menit pertama. Persoalan inferioritas, sekolah, keluarga memang selalu bikin emosi gue dibolak-balik. Ada banyak momen dan adegan yang sebenarnya beberapa kali membuat gue mewek (nggak nyampe sesenggukan sih). Yang paling gue ingat justru bagian ketika August “Auggie” Pullman pertama kali masuk sekolah umum setelah sebelumnya selalu homeschooling. Kenapa? Continue reading