#darimasalalu

“Diam-diam, kini perasaanku dengan lancangnya merindukanmu. Padahal aku belum izinkan kau masuk.”

Gue nggak bisa tidur dan otak gue penuh serasa ingin dimuntahkan. Membuka drafts yang menumpuk di blog, ternyata menemukan dua kalimat di atas. Tertulis “5 years ago”. Nyebelinnya, gue masih ingat siapa objek tulisan ini dan bagaimana rasanya. Seingat gue, tulisan ini pernah gue publish, tapi gue redraft karena ketahuan orangnya. Simply, karena gue keki ketahuan. Bodoh ya?

Ah, tidak apa-apa. Karena bodoh, kita bisa belajar banyak hal. Asalkan mau. Ya kan?

Sudah 5 tahun. Berlalu. Ternyata ada rasa aneh yang belum benar-benar pulih.

Advertisements

Kepada Pria Pencinta Ombak

Kamu telah menemukan ombakmu. Riak yang menyertaimu,

mendengarkan apa yang kau katakan, pun yang tidak.

Yang mengisi pantaimu.

Lalu kau bosan.

 

“Yang terus berulang, suatu saat henti.”*

 

Alunan Banda Neira mengantarmu pada dahaga

akan pantai dengan ombak yang lebih menantang.

Jiwa peselancarmu enggan diam.

 

Kusambut kau dengan biru, pantai dan langit.

Serta suka cita rasa yang menggelitik resahmu.

 

Pada akhirnya, dengarlah sayang

Riuh gemuruh hatimu

Apakah itu untuk aku?

 

Berhentilah. Kembalilah.

Aku bukan pantai yang kau cari.

 

*lirik dalam Banda Neira - Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti
Image:

Steven Spassov

On Not Being Okay

“Git, kenapa lo? Galau banget update-nya. Nggak kaya lo deh. Lo biasanya strong!”

“Eh, masa? Keliatan banget emangnya?”

Tiba-tiba seorang teman menyapa gue seperti itu ketika kami bertemu. Jelas gue kaget, mengingat gue mendapat komentar yang serupa dari orang yang berbeda sebelumnya. Kaget karena komentar seperti itu datang di saat gue (merasa) hidup gue sedang baik-baik saja.

Kedua orang tersebut memang bukan orang yang bertemu gue tiap hari. Mereka hanya berasumsi melalui update media sosial gue.

Alih-alih mengelak (karena tentu saja percuma), gue bertanya apakah yang membuat mereka berpikir gue sedang galau. Otomatis, pikiran gue mulai mengingat-ingat apa saja yang gue post di media sosial selama ini. Kayanya hanya tentang lagu, buku, dan beberapa keluhan kecil yang (menurut gue) masih dalam level wajar.

Selepas dari situ, gue malah jadi ‘galau’ beneran. Apa iya memang gue galau? Jangan-jangan selama ini gue tidak menghiraukan itu dan berpura-pura baik-baik saja? Jangan-jangan gue lalai memeluk kesedihan gue sendiri? Jangan-jangan karena galaunya sudah kronis, gue malah nggak sadar lagi soal itu?

Iya, gue malah kepikiran dan khawatir kalau gue selama ini mengingkari kesedihan-kesedihan gue hanya karena nggak mau dibilang lemah, menganggap lalu dan melupakannya. Gue khawatir gue secara tidak sadar seperti menabung kesedihan.

Entahlah. Tapi mungkin sesekali kita perlu memeluk kesedihan itu, mengakui bahwa tidak apa-apa jika kita tidak sedang baik-baik saja. It’s okay to be not okay. :”)

Terima kasih, Mr. Sonjaya!

Ok, mungkin tulisan kali ini cenderung narsis. Tapi salahkan Mr. Sonjaya yang membuat lagu memakai nama gue #EH. Jadi nggak salah dong kalau gue merasa lagu ini ‘dekat’ secara personal dengan gue? XD

Bukan cuma soal judul lagu sih ya, ini juga soal maknanya. Lagu ini diperuntukkan kepada para perempuan kelas pekerja yang setiap hari harus menghadapi kerasnya ibukota dunia.

Gita

Setiap hari pergi ke Jakarta

Coba meraih mimpi dan cita

Agar hidup lebih bahagia.

Video klipnya pun menggambarkan keseharian gue (ya walaupun nggak cuma gue lah ya yang mengalami itu). Berangkat kerja, naik Commuter Line, ke kantor, ketemu masalah, pulang, berebutan ruang dengan para commuter lain, sampai di kost/rumah, lelah, kadang begadang masih harus mengerjakan tugas kantor, kadang begadang hanya karena sibuk memikirkan hari esok. Rutinitas yang hampir selalu berulang tiap hari.

Banyaklah cerita engkau bagi

Suka dan duka yang kau jalani

Terselip harapan dalam hati

Semoga kau tetap bernyali

Dear para pejuang ibukota, perempuan dan laki-laki, terima kasih untuk tetap tangguh menjalani hari-hari. Semoga semakin tumbuh rasa empati dan tetap beretika setiap kita dalam perjalanan. Semoga semakin hari, hidup kita semakin baik. Semoga semakin didekatkan kepada mimpi-mimpi yang kita miliki. Semoga tetap bernyali.

Dear Mr. Sonjaya, terima kasih untuk lagunya. Untuk gue dan untuk semua perempuan pekerja. Terus menyentuh jiwa-jiwa dengan karya. Salam 🙂

Photo by Rémi Walle on Unsplash

Andai Kata, Andai Kita

dulu kau bilang

“lebih baik kita coba,

daripada terus berandaikata.

aku punya rasa,

tapi ragu jika kusebut cinta.”

 

aku bilang

“tak apa. asalkan kita bisa bersama.”

 

andai kata cerita kita tak nyata,

apakah kita bisa saling mencinta?

 

andai kita tak pandai membaca tanda,

apakah saat ini kita masih bersama?

 

Photo by Rémi Walle on Unsplash

Apakah kami, para jomblo, tidak berhak bahagia?

“Awas loh nanti lama-lama keenakan sendiri terus.”

HAHAHAHA. Seriously, guys?

Yep. Itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang biasanya dilontarkan orang-orang ketika melihat gue terlihat bahagia saat traveling atau sibuk bekerja. Setelah rentetan pertanyaan “Kapan nikah?” atau “Kamu ngga mau nikah?”. Biasanya gue akan tertawa-tawa atau senyum meringis. Karena sebagai seorang introvert, bersendiri adalah suatu kesenangan bagi kami. Sesekali kami, para introvert, memang butuh teman untuk berbagi. Tapi dalam beberapa momen, kami mungkin akan lebih memilih melakukannya sendirian.

Jadi, tentu saja “Lama-lama keenakan sendiri” itu tidak berlaku bagi gue. Karena bagi gue, bersendiri pun bisa jadi menyenangkan.

Kadang merasa miris juga dengan orang-orang yang berpikir bahwa kami, para lajang, tidak boleh terlihat bahagia dengan kesendiriannya karena itu akan membuat asumsi bahwa kami tidak ingin menikah dan orang akan mencoret kita dari daftar pasangan potensial untuk dijadikan calon pendamping. Err!

Ngga bohong kalau kadang-kadang gue bertanya-tanya sendiri, “Jadi, gue ngga boleh kelihatan bahagia kalau gue masih sendiri?” atau “Apakah gue harus terlihat vulnerable, kelihatan desperate butuh pendamping supaya orang-orang bisa tahu kalau gue available untuk didekati?” Continue reading