[PUISI] pantas saja dia tak jua terima pesanku

I
bagaimana bisa aku sampai di sana
kalau tiba-tiba badai datang menghempasku
aku terjebak dalam pusaran perih

gelap
hitam

berputar, berputar
terus berputar

entah kapan berhentinya
kapan berhentinya?

kapan…?

padahal aku harus bertemu dengannya
demi seseorang yang menungguku

pikiranku melayang ke suatu masa

seorang gadis ucapkan satu permintaan padaku
“Bisakah kau sampaikan rasa ini padanya?”
“Tentu saja bisa.” jawabku dengan penuh percaya diri

aku akan menyusuri pelangi untuk pergi ke sana
dan datang padanya sampaikan rasa

tak pernah terpikirkan olehku
kalau aku tak kan bisa purnakan tugasku

dan di sini lah aku
pelangi sudah terlanjur hilang
tak akan ada pelangi,
dan aku tak kan bisa pergi ke sana

haruskah rasa itu berhenti di sini
ikut mati bersamaku dan tak kan pernah tersampaikan?

setidaknya biarkan rasa ini bertahan
kalaupun memang tak tersampaikan
biarkan rasa ini tetap hidup, kembali pada pemiliknya
jangan biarkan dia bodoh hanya karena menungguku

berputar, berputar
semakin keras berputar

wahai badai
jangan hancurkan hatinya

aku berbisik,
berharap gadis itu mendengar
maafku yang sia-sia

II
ada apa denganmu?
apakah lengkung pelangi terlalu panjang untuk disusuri
sampai pesanku tak jua diterimanya

kemanakah gerangan?

tak tahukah kau
aku begitu gelisah menunggu

apakah dia sudah menerimanya?
bagaimana reaksinya?
aku begitu ingin tahu

tak ada kabar darimu
tapi aku masih ingin percaya, kau akan kembali
dengan sekeranjang kabar baik di tanganmu

aku bodoh atau memang sabar karena mencintainya?

sampai akhirnya aku tahu
mengapa dia tak jua membaca pesanku
karena memang kau tak pernah sampaikan padanya

ya,
kemarin akhirnya kau datang…

tapi kenapa datang bersama badai?
bukan dia…?

itu pun hanya sebuah bisikan
aku mengenalinya,

itu kamu…
suaramu masih sama
ketika kaukatakan “Tentu saja bisa.” dengan begitu yakin

dimana kamu?
kemanakan rasa yang kutitipkan padamu?

harusnya kau tak sombong waktu itu
nyatanya kau gagal dalam tugasmu

tahukah kau rasa itu berhasil kembali padaku?

tapi sayangnya…
aku harus ikut mati bersamanya

sama denganmu
aku terhempas badai
dengan rasa di dekapanku

tapi aku lega…
tahu kalau ternyata rasaku terhalang badai
bahkan sebelum sampai bertemu pelangi
bukan karena kau membawa kabur rasaku

tahu bahwa bukan dia yang tak mau membaca pesanku
bukan dia yang tak menghiraukan rasaku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s