My Chronicle (Review Vice Versa – Alanda Kariza)

Hari ini berjalan agak lambat rasanya. Tapi jauh lebih baik daripada kemarin. Setidaknya hari ini saya masih bisa ‘bernapas’, berjalan lebih teratur, berpikir lebih fokus. 
Kuliah hari ini pun berlangsung lancar. Harusnya ada 2 mata kuliah, tapi mata kuliah pertama (jam 10:00-11:40) diganti jadi Senin depan karena dosennya berhalangan hadir. Makanya saya baru berangkat ke kampus sekitar jam setengah 1. Padahal kuliah ke-2 (Sistem Informasi Kesehatan) dimulai jam 12:30 yang seharusnya jam 13:00. Ya, jadi ceritanya saya itu lupa kalau mata kuliah itu untuk hari ini dimajukan setengah jam. Baru sadar pas sampai di kelas dan terkaget-kaget ketika tahu dosennya sudah datang dan sedang menyampaikan materi. 
Sebelum-sebelumnya mata kuliah ini selalu menjadi mata kuliah paling ‘garing’. Entah itu karena ngantuk, entah karena bosan, yang pasti ada saja yang membuat saya tidak memperhatikan penjelasan dosennya. Hehe. Tapi, tadi itu saya (alhamdulillah) banyak menyerap materi yang disampaikan dosennya. Sayangnya itu adalah sesi terakhir mata kuliah itu di semester ini. Hahaha, telat banget ya saya sadarnya…
Selesai kuliah, saya pergi ke Gramedia. Biasa, mengecek buku-buku apa saja yang baru. Dan akhirnya saya membeli 3 buah novel, padahal saya masih punya novel-novel yang belum dibaca. Hasrat saya terhadap buku terkadang tidak bisa ditahan. 🙂
credits to : terrantbooks.com
Salah satu dari novel yang saya beli itu judulnya Vice Versa-nya Alanda Kariza. Tertarik membeli buku ini karena saya sudah tertarik dulu dengan pemikiran-pemikiran sang pengarang yang saya baca dari blog dan Twitter-nya. Hmm, sebenarnya itu bukan novel sih, tapi seperti kumpulan cerpen gitu. Dari 18 cerita, sampai saat saya menulis di sini saya baru membaca 4 cerita. Dan yang pertama saya baca adalah cerita berjudul Platonik. Padahal cerita ini merupakan cerita ke-8. Baru setelah itu saya membaca dari cerita ke-1 sampai ke-3.
Pasti tahu kenapa saya tertarik membaca cerita itu terlebih dahulu kan?
Ya karena judulnya persis sama dengan apa yang sedang saya pikirkan, saya rasakan, akhir-akhir ini. Walaupun isinya ternyata sedikit berbeda dengan kisah saya. Alexa dan Remedy (tokoh dalam cerita itu) akhirnya bersama. Persahabatan mereka akhirnya berubah. Hubungan mereka akhirnya bukan lagi platonis. 
Cerita yang saya baca kemudian adalah ‘Vice Versa’. Vice Versa berarti kebalikan dari yang lainnya. Dari cerita itu saya mendapatkan ‘pencerahan’ (woelaa!) bahwa perasaan sayang terhadap seseorang datang tanpa kita tahu sebabnya. Kita menyayangi, menyukai, mencintai seseorang tanpa perlu ‘kenapa’. Coba saja, ketika kata tanya ‘Kenapa’ dihadapkan kepada kita saat kita menyayangi seseorang pasti akan susah untuk dijelaskan. Ya, perasaan itu datang dengan sendirinya, tanpa kita paksa dan tanpa alasan. Oleh karenanya, ketika perasaan itu pun pergi, hendaknya tidak kita paksa. Rasa sayang bisa datang tanpa kenapa, sayang pun bisa hilang seperti itu. Yes, it’s vice versa.
Cerita selanjutnya yang menarik perhatian saya adalah cerita berjudul ‘Ikan’. Ada bagian yang menarik :

“Aku dan kamu sama-sama setuju bahwa kita berdua berbeda.”

“Aku dan kamu adalah dua hal yang selalu berkebalikan, tapi melengkapi seperti yin dan yang, seperti hitam dan putih, seperti vice dan versa. Kita bukanlah sesuatu yang terarsir di tengah-tengah seperti irisan. Kita adalah dua hal yang secara seimbang menjadi satu. Dulu.”

“Aku menghancurkannya. Aku membuat ‘kita’ menjadi sesederhana ‘aku’ dan ‘kamu’. Aku membuat ‘impian kita’ menjadi ‘impian aku’ dan ‘impian kamu’. Aku membuat ‘hidup kita’ menjadi ‘hidup aku’ dan ‘hidup kamu’. Aku membelah tempat kita berpijak menjadi dua tebing yang saling berjauhan.”

Membaca cerita itu sambil mendengarkan suara halus Frau menyanyikan “Mesin Penenun Hujan” disertai juga suara rintik-rintik hujan dan kemudian saya menyadari lirik dari lagu tersebut pun membahas soal ‘kebalikan’

merakit mesin penenun hujan
hingga terjalin terbentuk awan
semua tentang kebalikan
terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu

keputusan yang tak terputuskan
ketika engkau telah tunjukkan
semua tentang kebalikan
kebalikan di antara kita

Waaah…pas banget semuanya!
Walaupun belum selesai membaca buku ini, saya merasa kalau cerita-cerita yang ditulis Alanda Kariza ini ‘dekat’ sekali dengan kehidupan kita, khususnya perempuan seumuran saya. Makanya tidak heran kalau banyak dari cerita-cerita yang ditulis Alanda mengena di hati. Alanda juga menulisnya dengan mengalir, seperti menulis catatan harian. Alanda bisa mengemas ide-idenya dengan sangat apik dalam suatu cerita pendek. Sederhana, tapi meninggalkan kesan. Atau mungkin karena beberapa ceritanya terasa mirip dengan kisah -ehem- saya makanya membuat saya merasa seperti membaca catatan harian saya.
Ya, dan ini resmi menjadi salah satu buku yang diterbitkan oleh Terrant Books yang menjadi favorit saya. Hampir semua buku yang diterbitkan oleh Terrant Books adalah buku-buku yang worth reading. Kagum juga Terrant Books sepertinya sangat menghargai idealisme dari pengarang-pengarang buku itu. Tidak melulu mengikuti selera pasar.
Advertisements

2 thoughts on “My Chronicle (Review Vice Versa – Alanda Kariza)

  1. mba , saya mau tanya . mba beli vice versanya di gramedia ? boleh tau gramedia mana ? soalnya di gramedia kota saya (Bogor) belum terbit. makasih mba , mohon dijawab ya mba soalnya saya juga lagi nunggu” buku itu, makasih mba :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s