Terbatas, Bukan Berarti Tidak Mampu

Akhirnya…saya bisa ‘bernapas’ dengan baik dan benar juga. Rasanya kaya orang asma baru pake inhaler. Empat hari kemarin, berturut-turut, saya menghabiskan malam dan dini hari saya di depan laptop dengan tugas-tugas akhir semester yang menumpuk-puk-puk! Datangnya gak santai lagi, langsung breg bareng-bareng. Mana dikumpulinnya dengan batas waktu yang sama. Bahkan saya sampai membatalkan rencana kepulangan saya ke Cirebon demi tugas-tugas ini. Mempertimbangkan kemungkinan bahwa saya gak bakal bisa pulang dengan ‘tenang’ dengan membawa tugas-tugas ini ke rumah. Kalau kaya gini, UAS tertulis di kelas sepertinya jauh, jauh lebih baik!
Sebenarnya belum selesai semua juga sih, masih ada 1 tugas UAS yang harus diselesaikan. Berhubung batas waktu pengumpulannya itu masih Sabtu minggu depan, sepertinya saya berhak mengambil rehat dulu. Ya kan? Ya kan? *alesan dalam upaya prokrastinasi*
Oke, berkeluh-kesahnya dicukupkan sampai situ…Saya cuma mau berbagi cerita tentang kejadian hari ini yang lumayan memberikan kesan tersendiri bagi saya.
Ya, jadi ceritanya kan sudah sejak 1 bulan ini setiap Sabtu siang saya aktif datang ke PKM UI untuk urusan Rumah Belajar BEM UI 2010. Nah, sama seperti hari Sabtu sebelumnya, saya datang ke tempat itu. Agak lebih pagi dari biasanya karena menurut sms dari PO-nya panitia diharuskan datang jam 10.30 untuk rapat bersama SC lalu dilanjutkan dengan sesi wawancara panitia dan pendidik Rumbel 2010 ini. Datang di sana lalu menghadapi kenyataan bahwa di sana belum ada siapa-siapa. Ternyata eh ternyata, si PO-nya saja baru bangun jam 10.45 (menurut jam pribadi saya).
Oke, menunggu lah saya di tempat itu. Sendirian. Terus satu per satu panitia yang lain datang, tapi sang PO belum juga datang. Nah, ketika menunggu itu, gw melihat salah satu teman panitia keluar dari satu ruangan. Pakai penutup mata dan tongkat. Ternyata di saat yang sama, School of Volunteers (SOV) lagi mengadakan semacam pelatihan gitu yang temanya Disabilitas. Ya, teman saya yang tadi itu ternyata ‘diamanahkan’ untuk menjadi orang tuna netra selama 1 jam. Teman-teman yang lain ada yang jadi tuna rungu, ada yang lumpuh, dan lain-lain.
Teman saya yang pura-pura jadi tuna netra itu digodain melulu, yah namanya juga anak-anak iseng. Terus ada yang keluar lagi tuh dari ruangan tadi, dia langsung menghampiri teman saya itu. Terus temen saya mengadu “Mas, saya digodain mulu nih sama anak-anak.”
Dan orang tadi bilang “Sabar, saya 20 tahun digodain.”
Baru deh saya sadar, lelaki itu tuna netra! Yang ini benar-benar tuna netra. Wow! Dan saya kagum dengan kemampuannya yang bisa ‘menghilangkan’ keterbatasannya. Dari situ gw dapat banyak pesan, melihat teman saya yang digodain terus lalu membandingkannya dengan orang-orang di luar yang menjadi tuna netra. Kita terlalu sering memandang rendah orang lain, khususnya penyandang disabilitas. Kita terpaku dengan keterbatasan mereka, melupakan bahwa mereka juga punya kemampuan lain. Kemampuan yang mungkin saja bisa mengalahkan kita sebagai orang yang dalam kondisi sehat dan sempurna. Mereka membutuhkan lingkungan yang inklusif. Yang mengakui mereka, tanpa meragukan kemampuan mereka hanya karena kelemahannya.
Alhamdulillah, hari ini banyak cerita dan hikmah bertebaran…:)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s