Ketika Sepasang Sahabat Kehilangan Kesempatan untuk Saling Mendengarkan

“Belakangan ini, kita kehilangan kesempatan untuk saling mendengarkan: setiap kali aku mengeluh, kau mengeluh. Setiap kali aku marah, kau ikut marah. Kita jadi tak punya waktu untuk saling mendengarkan, kita menjadi hanya mementingkan diri kita masing-masing.” (Memoria, Curhat Setan – Fahd Djibran)

Ya, beberapa hari kemarin saya dan sahabat mengalami masa itu. Masa dimana kami berdua kehilangan kesempatan untuk saling mendengarkan dan mengerti. Memang mungkin diawali oleh keegoisan saya, sebagai sahabat. 
Saat itu saya sedang benar-benar tidak bisa ‘diganggu’. Saya (terlalu) disibukkan dengan tugas-tugas akhir semester yang menuntut diselesaikan. Seperti biasanya, ketika saya terlalu ‘asyik’ dengan dunia saya sendiri, saya menutup mata dan telinga dari orang-orang di sekitar saya. Saya berubah jadi sensitif (untuk diri sendiri), tapi kebalikannya…jadi sangat tidak peka terhadap lingkungan.
Saya lagi-lagi lupa bahwa saya punya sahabat yang (saat itu) sedang membutuhkan kehadiran seorang teman. Akibat dari kecuekan saya, saya jadi tidak tahu-menahu tentang keadaannya. Sampai akhirnya wall yang saya kirimkan padanya dibalas dengan sebuah message sekitar seminggu. Dan dari situ saya tahu, dia sedang tidak bisa berdamai dengan ‘lingkungannya’. Saya sadar, mungkin dia pun butuh waktu untuk dunianya sendiri. Merapikan urusannya. Tanpa saya.
Kami tetap saling membahas message tapi tetap tak ada sapa atau obrolan. Saya mengerti. Mungkin dia pun menunggu saya menyapa? Entahlah. Yang pasti saya merasa saya enggan memulai obrolan terlebih dahulu, apalagi dalam keadaan emosi saya yang juga tak menentu. Akan lebih salah lagi, kalau akhirnya saya malah jutek sama dia.
Saya sebut itu JEDA. Sebuah antara. Dimana kami, sepasang sahabat, memutuskan ‘bersembunyi’ dari masing-masing diri kami. Bukan karena saling membenci, saya yakin itu. Karena sungguh, saya menyayangi dia layaknya saudara. Walau tanpa hubungan darah.
Dan di dalam JEDA itu. Saya jatuh terpuruk. Suatu masalah datang, membuat saya menangis semalaman. Sampai bernapas pun sulit. Saya enggan memberitahunya. Saya merasa enggan mengganggunya dengan masalah saya di saat dia sendiri mungkin sedang berjibaku dengan masalahnya. Di situ saya merasa saya tak punya sahabat. Saya tak punya dia. 
Dan JEDA itu memberi makna dalam untuk diri ini. Bagaimana saya, manusia, membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, merapikan apa-apa yang berantakan, tanpa bantuan orang lain.

Untuk sahabat tersayang, Puput Antika Sari, maaf karena saya selalu jadi sahabat yang mengecewakan justru di saat kamu membutuhkan seseorang yang bisa mengerti. Maaf untuk setiap keegoisan dari diri ini yang menuntut pengertian darimu. Dan terima kasih untuk setiap maaf yang kamu berikan. Semangat 89!
Advertisements

2 thoughts on “Ketika Sepasang Sahabat Kehilangan Kesempatan untuk Saling Mendengarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s