[FIKSI] Catatan Harian Pelangi

Catatan Harian Pelangi
12 Juni 2010
06.00
Di hijau hutan itu, di ujung jalan setapak berbatu itu, di kursi besi yang masih basah bekas hujan semalam itu,
Gadis bernama Sasi Kirana itu menunggu. Sasi Kirana artinya bulan purnama, itu yang kau bilang padaku. Tak seperti namanya, Sasi justru sangat mencintai matahari. Sasi benci keluar malam hari, ketika matahari sedang pergi meninggalkannya.
Makanya ia memintamu datang pagi ini. Karena ini adalah satu-satunya waktu dimana ia dan kamu bisa berdamai. Ya, karena kamu justru membenci matahari. Kau, berkebalikan dengan Sasi, tak pernah suka siang hari. Menurutmu, matahari menjadi sangat angkuh di siang hari.
Sasi dan Aruna, dua insan berkebalikan. Tapi sungguh aku iri melihatmu dengannya. Seperti bulan dan matahari, berkebalikan tapi tak terpisahkan. Bulan tak akan bersinar tanpa matahari. Bukankah begitu, Aruna?
Sasi, gadis yang kau bilang bersinar seperti bulan. Gadis yang dengan senyumnya merebut hatimu. Gadis yang membuatku cemburu. Di ujung pagi yang hampir habis, gadis itu tetap menunggumu. Bodoh, menurutku, kenyatannya kau tak akan datang. Dan aku masih tak juga mengerti mengapa kau bisa mencintai gadis bodoh itu sedemikian rupa.
07.45
Matahari datang, Aruna! Matahari yang tak pernah sekalipun kau sukai kehadirannya. Terheran-heran aku dibuatnya. Dia tersenyum dan tertawa, tak tampak sama sekali kesedihannya. Tak ada satu tetes air mata pun untukmu, Aruna. Sungguh, aku terpesona. Sekarang aku tahu mengapa kau dibuatnya terlena. Dia tersenyum lembut dan manis seperti kembang gula yang pernah kau belikan padaku di pasar malam. Dia bersinar seperti yang kau selalu ceritakan padaku di tiap pembicaraan kita.
Matahari datang dan kau pergi. Lalu mengapa gadis itu begitu bahagia, Aruna?
“Kau datang juga, Aruna! Aku tahu kau pasti datang. Hampir pesimis aku menunggumu di sini. Aku takut awan kelabu menghalangimu datang. Apalagi semalam hujan deras sekali. Kamu datang, Aruna…” suara gadis itu bergema sampai ke tempatku.
Di mana dirimu, Aruna? Mengapa dia bisa melihatnya sedangkan aku tidak?
“Aku sudah cukup senang kalau kamu akan selalu datang di tiap hariku. Aku sudah cukup senang melihatmu di setiap ujung pagiku. Aruna, terima kasih telah menjadi matahariku.”
Itukah kau, Aruna? Sinar yang malu-malu menerobos daun-daun pohon berumur ribuan tahun itu?
“Selamat datang, matahari. Selamat pagi, Aruna…” gadis itu tersenyum lagi, senyum terbaik yang pernah dia berikan. Lalu dia beranjak pergi meninggalkan jejak sepi.
Berbeda dengannya, aku justru harus terus menerus menyeka air mata ini. Kau pergi untuk selamanya, Aruna. Bagaimana bisa aku tersenyum dan tertawa?
Aruna Sinara, kau tahu kenapa aku mencintaimu? Karena tanpa kamu sadari, kamu selalu bersinar, terkadang angkuh seperti matahari yang kamu benci. Karena keangkuhanmu itu mampu membias menjadi pelangi. Ya, seperti kamu yang selalu datang sehabis hujan.
Selamat datang, matahari. Selamat jalan, Aruna.
p.s

Jangan lupa janjimu, satu pelangi untukku. Tentu saja, sehabis hujan.

Gemilang Pelangi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s