No Reason

Aku mencintainya. Hmm, bukan.
Aku mencintaimu.
Dan kamu tahu? Aku kesal setengah mati ketika kau bertanya ‘kenapa’ atas perasaanku.
Kamu bertanya kenapa, seolah ada yang salah dengan perasaanku.
Aku perempuan dan kamu jelas-jelas seorang lelaki. Ada yang salah kalau tiba-tiba aku, ehm…, mencintai kamu?
Kenapa?
Berkali-kali aku pun bertanya pada diriku sendiri. Kenapa? Kenapa kamu?
Lalu apa yang aku dapatkan? Bukan jawaban.
Yang keluar justru daftar berbagai kejelekan kamu, daftar perbedaan kita, daftar kekesalan yang sering kamu lakukan. Semua hal yang harusnya tidak membuat aku jatuh cinta, padamu.
Makanya, aku kesal setengah mati ketika kau bertanya kenapa. Karena aku sendiri tak punya jawaban. Karena aku kesal pada diri sendiri, begitu banyak perbedaan dan kekecewaan, kenapa masih tetap kamu yang aku pilih?
Aku tidak mencintaimu. Aku kesal dengan sifatmu yang tak peka. Aku benci dengan kata-katamu yang sering ‘pedas’ dan keluar tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku kecewa dengan sikapmu yang acuh tak acuh.
Tapi kenapa aku tetap bilang bahwa aku mencintaimu?
Tidak tahu.
Aku pun sadar, aku yakin, dan akhirnya mau mengakui…aku mencintaimu. Justru karena aku tak punya alasan untuk menjawab kenapa aku bisa mencintai kamu. Justru karena rasa ini tetap berujung padamu sekalipun sifatmu yang tidak peka, kata-kata pedasmu, sikap acuh-tak-acuhmu membuatku kecewa.
Kau tanyakan itu satu kali, dua kali, lalu tiga kali…dan mungkin masih ada pertanyaan yang sama nantinya. Tunggu saja sampai kamu lelah bertanya, sedangkan aku terlalu muak menjawabnya. Mungkin ketika itu, aku bisa dengan jelas menjawab pertanyaanmu dengan ‘Ya, aku pernah mencintaimu’.
Asal kamu tahu, rasa ini muncul dari ketiadaan. Entah siapa yang memulai hingga rasa ini ada. Tapi, ya aku akui, aku yang mengembangkannya sampai seperti ini. Rasa ini pun (mungkin) akan berakhir pada ketiadaan pula.
Rasa ini muncul tanpa aku cari-cari, tanpa aku inginkan, dan yang pasti tanpa alasan. Biarlah, kalau memang kamu begitu keberatan dengan perasaanku ini. Biarlah aku yang menyimpannya, biarlah hilang dengan sendirinya…
Advertisements

2 thoughts on “No Reason

  1. “cinta bisa memilih,cinta bisa datang dengan sendirinya cinta bisa pergi dengan sendirinya,tapi hanya 1 yang tidak bisa dilakukan oleh cinta yaitu cinta tidak bisa menunggu”(Doni the El Homblo – Pelem JOMBLO)

    Cinta monyet: “Aku mencintai karena aku dicintai”.
    Cinta sejati: “Aku dicintai karena aku mencintai.”
    Cinta monyet: “Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu.”
    Cinta sejati: “Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.”
    Erich Fromm, Pakar Sosiologis-Psikologi Sosial Filsuf Humanis

    Selalu ada keindahan dalam setiap masalah.Itu adalah salah satu cara kita belajar
    Kecantikan bukan di wajah,melainkan cahaya yang keluar dari dalam hati. (Kahlil Gibran)

    Begitulah cinta, ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…
    Fyodor Dostoyevsky (1821-1881)

    genak bener dah tuh ni postingan,ape sejelek ntu ye gw??masak gw tidak peka, kata-kata pedas, sikap acuh-tak-acuh.mang segitunye ye kejem gw??asa gw baek deh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s