#miris

Hollaaaa! Apa kabar, Semesta? 🙂
Kalau dilihat dari tanggal terakhir saya nulis di sini kayanya kok lama banget ya. Kangen, uhm…:D
Seminggu ini adalah minggu yang berat banget buat dijalani. Urusan kuliah : UTS-presentasi-tugas-rencana magang-tes toefl dan urusan non-kuliah : sakit-stres-rumbel-dll. Dimulai dari hari Senin malam ketika perut saya mulai terasa tidak enak. Lalu Selasa pagi makin sering kerasa melilit dan perih banget dan mual dan lemas sampai akhirnya saya memutuskan untuk bolos kuliah. Sorenya sedikit meriang. Terus sampai Rabu pun masih merasa gak enak perutnya. Padahal pada hari Kamis saya harus presentasi tugas KB, Kontrasepsi dan Infertilitas lalu Jumatnya disusul UTS Surveilans Kesehatan Masyarakat dan Statistik Non-Parametrik. Belum cukup di situ, hari Sabtu saya masih harus menjalani tes Toefl. *sigh*
Mana hari yang paling berat?

Sabtu.
Hari itu saya izin datang telat ke Rumbel BEM UI demi mengikuti tes Toefl ini. Datang ke sana, dengan persiapan belajar ‘seadanya’. Menit-menit menjelang tes dimulai, saya mendapat kabar bahwa ayah saya sakit dan saat itu kakak beserta ibu saya sedang dalam perjalanan Cirebon-Jakarta untuk menjemput ayah saya di Bandara SoeTa. Tahu dong rasanya ketika dikabari berita seperti itu kaya gimana?
Pastinya kaget dan kepikiran macem-macem, jadilah saya sukses mewek di ruangan itu. Walaupun akhirnya saya bisa mengontrol emosi karena tes Toefl dimulai. Setelah selesai Toefl, entah sudah seperti apa muka saya. Kemudian, dari situ saya datang ke Rumbel BEM UI dan menghadapi kenyataan bahwa staf saya tidak ada yang datang. Otomatis hanya saya dan Fira (Koor. Acara) yang bisa ‘megang’ teknis kegiatan belajar mengajar hari itu di Rumbel. Jujur saat itu rasanya lemes banget, kecewa, dan lain-lain. Saya sedang dalam kondisi kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Sedangkan kondisi menuntut saya tetap semangat dan tersenyum. 
Saya sendiri merasakan susahnya menahan tangis di sana. Tentunya saya gak mau lah nangis di depan orang-orang. Sampai akhirnya Fira nanya ke saya “Kamu lagi sakit, Git?” Dan saya jawab “Hah? Ngga, Fir. Kenapa?” . Lalu Ezat menimpali “Ah iya kan, Git? Liat deh mukanya.” Saya masih bersikukuh mengelak. Ya, mana mungkin saya ngaku. :’)
Selesai Rumbel, saya ‘bermasalah’ dengan salah satu sahabat. Dan itu sukses bikin saya merasa kecewa dan merasa ‘mungkin memang gak ada yang bener-bener namanya sahabat’. Tambah kacaulah emosi saya saat itu. Rasanya ibarat kena tabrakan beruntun. Terbentur sana-sini. Terguling, terbalik.
Sepanjang perjalanan Rumbel-Kost, saya menahan nangis. Sudah berkaca-kaca tuh, dan saya jatuh. Persis seperti adegan-adegan film atau sinetron yang pemerannya jatuh sambil menangis. Untungnya gak sampai kenapa-kenapa. Sampai di kost, emosi saya langsung meledak. Cukup membuat mata sipit saya tidak terlihat. -___-
Menangis memang satu-satunya cara untuk mengeluarkan emosi saat itu. Sangat manjur karena setelahnya saya merasa sedikit lega. Apalagi mengetahui bahwa ayah saya masih dalam kondisi ‘tidak apa-apa’ dan sudah tertangani dengan baik. *alhamdulillah*
Hari itu, saya merasa nasib saya miris sekali. 
But, what doesn’t kill you makes you stronger, Ta! :’)
p.s Oh ya, dengan segala kerendahan hati, mohon doanya ya untuk kesembuhan ayah saya…Terima kasih!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s