Saya-Kamu: Sahabat? part 2

Kembali hadir untuk berbagi cerita…:D
Dengan topik yang sama dengan sebelumnya, tapi sekarang isinya sebagian besar tentang apa yang saya alami. 
Kejadian awal tahun ini sedikit banyak membawa perubahan pada pola pikir saya mengenai sahabat lawan jenis (lelaki). Setidaknya itu membuat saya belajar untuk hati-hati menjaga apa yang saya punya.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, perempuan dan lelaki bisa murni bersahabat kok asalkan sama-sama bisa mengatur hal-hal privasi. Beri garis batas yang jelas ketika kamu memang HANYA ingin bersahabat dengan dia. Karena seringkali kedekatan dan intensitas curhat itu membuat rancu garis itu, atau bahkan menghilangkannya. 
Saya beri contoh, 2 kondisi yang berbeda. 1) Saya dan Mr. Fullstop 2) Saya dan Mr. Opportunist 3) Saya dan Mr. Sweeto
1) Saya dan Mr. Fullstop
Saya akui dulu terlalu banyak hal yang kami bagi. Bahkan hal-hal random sekalipun. Terlalu banyak cerita yang akhirnya malah tanpa sadar merancukan garis batas yang sudah kami buat. Susah kalau sudah melibatkan hati. Banyak hal-hal irasional yang akan membuat kamu berpikir bahwa dia adalah (satu-satunya) orang yang bisa membuat kamu nyaman dan yang paling mengerti kamu.
Hasilnya? Salah satu dari kami -tepatnya saya- menyerah atas kondisi itu. Terlalu rancu untuk dijalani, terlalu munafik untuk bilang saya melihatnya hanya sebagai sahabat. Saya mundur perlahan. Malu karena sudah merusak sesuatu yang selama ini kami percayai. Iya, saya merasa tidak cukup kuat untuk berada di lingkaran itu. Apalagi ketika saya sudah tidak bisa ikut merasa bahagia ketika dia bahagia.
Sekarang jangan tanya hubungan kami bagaimana? Buat saya sih buruk. Entah deh buat dia, bahkan mungkin dia sendiri tidak merasa ada yang salah pada persahabatan kami dulu.
2) Saya dan Mr. Opportunist
Kenapa saya bisa sebut dia Mr. Opportunist? Ya, tentunya karena dia memang oportunis! Dia ini sering sekali memanfaatkan saya dalam berbagai kesempatan, minta tolong inilah-itulah. Saya yang memang punya prinsip: “Selama saya bisa/mau membantu dan mengusahakannya, ya saya bantu” selalu (kebetulan) bisa membantu dia. Lama-kelamaan dia suka ngelunjak dengan semena-mena menyuruh saya.
Saya menjadikan dia perbandingan karena saya merasa hubungan saya dengan yang satu ini ‘terjaga’. Walaupun, secara garis besar sifat Mr. Opportunist dengan Mr. Fullstop itu sama. Pertemanan kami diawali karena saya dan dia berada di 1 paguyuban daerah. Dia angkatan 2007 dan saya 2008. Tapi berhubung saya memang seharusnya seangkatan sama dia, jadilah saya terhitung akrab dengan dia.
Saya sering jadi bahan bullying dia, yah…walaupun tidak jarang juga dia menraktir saya pada beberapa kesempatan. Tapi saya selalu merasa saya dan dia ya tidak lebih dari itu. Kami memang beberapa kali melewatkan waktu berdua saja, tapi ya paling bahan obrolan tidak jauh-jauh dari topik seputar perkembangan paguyuban daerah itu. Bisa dibilang hubungan kami ‘profesional’. 
Dan mungkin karena dia menganggap sudah seperti ‘saudara’ (mencoba berpikir positif, hem!), jadi kadang-kadang dia suka kelewat ngeselin kalau minta bantuan. Misalnya, dia ini padahal ingin baca buku tertentu, tapi dia malah menyuruh saya membelinya agar dia bisa meminjamnya. Di lain waktu misalnya dia ingin menraktir saya, dia akan bilang bahwa dia hanya ingin bayar hutang. Atau, ketika dia ingin ditemani makan, dia seperti seorang jendral yang memberikan perintahnya seenak jidat dengan mengirimkan sms: ‘Git, makan yuk! Gw lagi kesel!”
Meeeeh! Mana ada minta tolong pakai tanda baca ‘!’. Anak SD juga tahu kalau itu kalimat perintah. 
Orang-orang akan mudah men-judge hubungan kami lebih dari sekedar bersahabat. Tapi kenyataannya apa yang kami lakukan-kami bicarakan benar-benar jauh dari itu. Makanya saya selalu merasa hubungan saya dan Mr. Opportunist ini berbeda. Mungkin bakal susah dimengerti ya…tapi perasaan saya ketika saya melihat Mr. Opportunist ini bercerita, ketika dia menyampaikan pendapatnya yang suka nyebelin, atau ketika dia mengejek saya dengan gaya ceplas-ceplosnya itu jauh berbeda dengan perasaan saya ketika Mr. Fullstop melakukan hal yang sama.
3) Saya dan Mr. Sweeto
Bisa dibilang ini persahabatan (dengan lawan jenis) paling manis dan paling membuat saya banyak tersenyum. Satu rasa untuk mendeskripsikan hubungan ini : sayang dan care (saya susah menemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang pas untuk kata ini). Kami mungkin menjalani hubungan persahabatan yang klise juga: kakak-adik. Kali ini saya memerankan seorang kakak, dan dia adiknya. 
Bagi saya terlepas dari perasaan saya yang sampai saat ini belum terdeskripsikan dengan jelas, dia akan selalu menjadi adik yang manis, adik yang tidak pernah saya punya dalam hidup saya. Seseorang yang dengan polosnya akan membuat saya terus tersenyum tanpa dia sadari. 
Bedanya yang ke-3 ini dari kedua kasus sebelumnya, keakraban saya dan dia tidak banyak diketahui orang. Hanya orang-orang terdekat saya yang tahu ini. Orang-orang lain kebanyakan tahunya saya dan dia akrab sebatas teman sekelas waktu SMA.
Saya suka melihat mata dia yang bercahaya ketika dia bercerita tentang hal-hal yang dia anggap menarik, senyum bersemangat ketika dia bercerita tentang kegiatan di kampusnya, atau juga sikap polosnya kalau bercerita tentang orang-orang yang dia pernah berhubungan dia.
Intensitas saya dan dia berhubungan tidak sesering seperti saya dengan Mr. Fullstop atau Mr. Opportunist, hanya beberapa kali sms atau tegur sapa di akun jejaring sosial kami. Tapi dia sering mengejutkan saya dengan cerita-ceritanya yang cukup banyak menghibur saya. Hanya itu. Sesederhana itu.
Rasa sayang dan care saya terhadap dia, membuat saya selalu ingin menjaga hubungan ini agar tidak kelewat batas yang sudah kami sepakati. Dia percaya saya sebagai kakak, dan saya selalu berusaha menjadi kakak terbaik sebagai sebagai ucapan terima kasih saya karena dia selalu dapat membuat saya tersenyum
Hehe, masih banyak ingin diceritakan sebenarnya tapi sampai di sini dulu saja. Mungkin banyak yang tidak bisa ambil bedanya dari ketiga jenis persahabatan yang saya ceritakan itu. Saya cuma mau bilang banyak kok perempuan dan lelaki berhasil tetap bersahabat tanpa harus merusaknya dengan urusan hati. 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s