Saya-Kamu: Sahabat?

Heyhooo, miss me much, anyone? Hehe
How’s your day lately? 
Walaupun sedikit telat, sepertinya saya harus menyapa bulan ini. Baiklah, selamat datang di Oktober! Kurang dari 1 bulan lagi akan saya akan bertambah usia (dan berkurang jatah umur di dunia). *ALERT: siapin kado dong dari sekarang! xp*
Ok, saya hanya ingin berbagi kepingan-kepingan cerita yang terjadi beberapa hari ini. Sekitar 1 minggu yang lalu, saya bersama 2 teman saya menghabiskan Sabtu sore bersama. Duduk-duduk, dan ngobrol ringan. Boleh dibilang itu momen galau kami bertiga. Saya sebenarnya datang dengan hati yang cenderung stabil, tapi ternyata salah satu teman saya ini cukup usil dengan menanyakan 1 rentetan pertanyaan yang cukup membuat saya kembali mengaduk-aduk memori yang sudah saya simpan di bagian paling bawah.
“Kamu sendiri bagaimana dengan dia, Git? Masih berhubungan? Terakhir kali berhubungan kapan?”
Tentulah secara otomatis saya me-recall kembali memori terakhir saya dan dia -sebut saja Mr. Fullstop- mengobrol. Padahal isi obrolannya pun tak begitu istimewa, tapi segala sesuatu tentang dia ini masih saja bisa membuat saya -ehem- galau. Menyebalkan ya?
Bincang-bincang kami dilanjutkan sampai topik : Perempuan-Lelaki Bersahabat? Topik yang sangat klise. Saya bilang perempuan-lelaki bisa kok murni bersahabat kalau masing-masing dari mereka bisa menjaga privasi. Menurut saya semakin banyak hal-hal pribadi, mulai dari yang paling random sampai yang paling serius, maka cenderung semakin menumpuk pula rasa nyaman itu. Rasa nyaman yang akhirnya lama-kelamaan berubah jadi rasa sayang. Sampai mungkin salah satu dari mereka tidak menyadari bahwa sense of belonging mereka terlalu kuat dan berubah arah.
Mungkin susah ya untuk tidak membagi cerita kepada orang yang sudah kita percaya atau orang yang bisa membuat kita nyaman untuk berbagi, kecenderungan untuk curhat itu selalu ada kok. Nah itu dia yang kadang-kadang menjerumuskan kita. Keenakan cerita membuat kita berpikir bahwa hanya dia yang bisa mengerti.
Jangan main api, itu kuncinya! Kalau memang cuma mau berteman, ya sudah…sewajarnya. Kecuali kalau memang ada unwritten law yang disepakati berdua. Ya nggak?
Menemukan ‘orang yang dicintai’ pada sahabat dan menemukan ‘sahabat’ pada orang yang dicintai itu 2 kondisi yang berbeda loh. Kamu beruntung kalau bisa mengalami 2 kondisi itu, di 1 orang. 😉
See ya! *dilanjut nanti ya*
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s