Komensalisme

Menjelang tengah malam sekitar 2 hari yang lalu, tetiba saja nomer tanpa nama masuk ke ponsel saya. Kebetulan kondisi mood saya saat itu sedang baik sehingga saya mau mengangkat telepon tersebut. Kalau mengingat situasi dan kondisi tersebut, jika saja itu telepon itu datang di saat saya sedang malas berkomunikasi mungkin telepon tersebut tak akan saya hiraukan.
Tapi ya, telepon itu saya angkat seolah saya ‘tahu’ siapa yang menelepon. Detik pertama sang penelepon menyapa, saya langsung tahu itu siapa dan otak saya pun seperti berkata “Tuh kan benar!”. Dia yang tak lain adalah teman-antara-dekat-dan-tidak saya. Setelah sebelumnya dia menghilang tanpa kabar apa pun. Komunikasi terakhir kami itu terjadi berbulan-bulan lalu, pun dengan kondisi yang hampir sama seperti kemarin. Berbulan-bulan tanpa kabar, tetiba larut malam menelepon, curhat panjang lebar sampai kuping saya panas. Lalu setelahnya menghilang.
Telepon kemarin (entah kenapa) sebenarnya tidak terlalu mengagetkan, saya seperti sudah berfirasat saja begitu. Apalagi sebelumnya akun Twitter anak ini sempat mengirimkan spam berupa DM ke saya, seperti pertanda. 
Bagian mengagetkan adalah detik-detik setelah dia menyapa saya, suara paraunya jelas terdengar bahwa dia habis menangis. Ada yang salah. Tentunya saya tahu itu, tapi apa? Saya bertanya kenapa, dia hanya menjawab banyak masalah. Saya biasanya hanya menjadi pendengar, tapi jeda yang dia berikan kadang terlalu lama sehingga memaksa saya untuk memberikan dia barang sepatah-dua patah kata suportif. Meski kata-kata saya pun sepertinya tidak banyak membantu.
Komunikasi kami terputus sebelum dia menyelesaikan ceritanya. Ketika saya tanya apakah dia masih mau cerita, dan saya pun mencoba menghubunginya…dia malah tak ada respon. Mungkin setelah ini butuh berbulan-bulan lagi sampai dia memberi kabar.
Saya selalu menjadi pihak yang mendengarkan, kadang-kadang agak menyebalkan juga karena dia tak pernah mencoba bertanya atau memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi. Mungkin karena itu juga saya masih segan bercerita banyak kepadanya. Padahal jika melihat kebiasaan dia cerita dengan saya, seharusnya saya juga bisa berlaku sebaliknya. Ada garis tak kasat mata, entah saya atau dia yang bangun.
Mungkin karena kami sama-sama tak mau terjebak dalam friendzone? Hem.
Tak tahulah, yang jelas saya sepertinya terperangkap dalam simbiosis komensalisme. 😀
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s