sebuah kursi usang

Saya pernah menuliskan ini:

“hati itu…mungkin ibarat ruang tamu, yang hanya memiliki 1 kursi, dan kamu (pernah) duduk di sana. Ketika kamu pergi, kursi itu rusak. Tamu-tamu lain mulai berdatangan, tapi mereka tak bisa duduk di kursi yang rusak itu. Sekalipun pintu rumah telah terbuka lebar, sekalipun sudah tak ada kamu di dalamnya, bagaimana bisa tamu-tamu yang lain duduk jika kursi yang kamu tinggalkan itu rusak? Dan kamu pun tak pernah tahu. Berharap kamu datang memperbaikinya saja seperti berharap hujan datang pada musim kemarau, apalagi berharap kamu bersedia duduk kembali di sana. Lalu pertanyaannya, sampai kapan aku biarkan kursi itu rusak?”

Saya sudah buka pintu itu, mempersilakan tamu baru duduk di kursi itu. 
kemudian dengan sisa-sisa yang ada, saya perbaiki kursi itu. tapi mungkin ia merasa tak nyaman, mungkin juga terlalu lelah. kursi itu tak lagi sempurna. kursi itu terlalu usang.
saya bisa apa kalau ia tak nyaman? saya tak bisa memaksanya untuk tinggal, apalagi memintanya memperbaiki kursi usang itu.
saya bisa apa kalau saya berkeras ingin ia tetap tinggal? ia butuh tempat melepas lelah, sementara kursi yang saya punya tak mampu menopang rasa lelahnya.
saya hanya bisa memohon:
tolong jangan patahkan kursi itu kembali
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s