#Labirin 2

Inilah cerita tentang seorang laki-laki penuh luka, terjebak dalam sebuah labirin kenangan.
Labirin penuh pintu-pintu yang menipu, yang mengajaknya berputar-putar, mengelabuinya sampai ia kembali tersesat, menyangka ia telah menemukan jalan keluar tapi ternyata ia kembali ke titik yang sama.
Suatu ketika laki-laki itu menemukan sebuah pintu, ia sebut Pintu Pertama. Perempuan bergaun putih tersenyum menyambutnya saat laki-laki itu membuka pintu itu. Diajaknya ia berjalan-jalan melihat dunia di luar labirin, mengobati lukanya, membalutnya dengan perban. Tapi entah apa yang terjadi sampai akhirnya dia memutuskan kembali ke labirin tadi. Setengah berlari, seolah-olah begitu rindu ingin cepat sampai.
Dia berada kembali di labirin itu dengan luka-luka yang kembali terbuka. Ia mengambil napas sebentar kemudian berjalan lagi. Melihat kanan-kiri, mencari pintu lain untuk keluar.
Tak lama, dia melewati sebuah pintu. Pintu yang penampakannya amat jauh dari Pintu Pertama, yang ini begitu usang hingga pintu ini tak bisa menutup sempurna. Mungkin karena hasrat keingintahuannya yang begitu besar, ia pun kembali membuka pintu itu. Penuh harap akan bertemu jalan keluar yang benar-benar membawanya lari dari masa lalunya.
Apa yang ditemukannya?
Seorang perempuan, duduk menekuk lutut di lantai sembari menatap kursi yang tak kalah rusak dengan pintu di depannya. Perempuan itu memintanya memperbaiki kursi itu sampai setidaknya bisa diduduki kembali. Laki-laki itu setuju dengan syarat perempuan itu mau menyembuhkan luka-lukanya. Kursi itu hampir selesai diperbahiki, meski belum terlalu baik kondisinya. Perempuan itu kemudian menyuruh laki-laki itu duduk di kursi itu dan mengobati luka-lukanya. Belum juga luka itu mengering, laki-laki itu memohon izin untuk pergi. Katanya ia lelah, katanya ia tak ingin membuat luka yang sama pada perempuan itu.
Perempuan itu tak kuasa menahannya, dibiarkannya laki-laki itu beranjak. Ia berpamitan sembari meninggalkan jejak di hati perempuan itu. Ditepuknya puncak kepala perempuan bermata bulan sabit lalu mengucapkan selamat tinggal. Laki-laki itu kembali masuk ke dalam labirin.
Ia menyusuri satu per satu lika-liku dalam labirin, menyapu benaknya dengan serbuan kenangan. Tak jarang ia terjebak di jalan buntu, memaksanya kembali berputar arah. Menemukan persimpangan yang satu berlanjut ke yang lain.
Kali ini ia sampai di depan Pintu Ketiga, pintunya begitu manis berhias bunga. Hati siapa yang tak tergoda ingin mengetuknya. Pada ketukan yang ke-2, pintu terbuka. Laki-laki itu tersenyum, di dalamnya ia melihat jalan setapak dengan bunga-bunga berwarna merah muda di sisi-sisinya. Tak hanya itu, matanya yang jeli menangkap sosok indah yang lain. Perempuan dengan kamera di tangannya, mencoba menangkap momen seekor kupu-kupu yang terbang kesana-kemari. Laki-laki itu lupa sejenak akan lukanya, ia asyik ikut berpetualang bersama perempuan itu. Mencari momen, menciptakan kenangan.
Namun nampaknya laki-laki itu hanya berpura-pura. Ataukah karena ia begitu cepat merasa bosan? Yang pasti, hal selanjutnya yang laki-laki itu lakukan adalah mencari Pintu Ketiga kembali. Ingin segera pulang. Lagi-lagi pusaran dalam labirin itu menariknya. Ia tak berontak. Detik berikutnya laki-laki itu berada di titik ia pertama melangkahkan kaki.
Ia tak kemana-mana. Masih di tempat yang sama, labirin kenangan. Penuh luka.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s