letter to you

Selamat malam, Kamu 🙂
Orang bilang merasakan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama itu hal yang harus kita usahakan, singkatnya itu kadang bukan sesuatu yang mudah. Hal ini jauh berbeda ketika saya bertemu denganmu. Lelaki yang membuat saya tersenyum setiap detiknya ketika kita sedang bersama.
 
Kamu, lelaki yang selalu dapat membuat saya merasa ingin menjadi yang terbaik. Kamu, lelaki yang dengan baik hati menemani saya makan malam padahal saya tahu kamu lelah. Kamu, lelaki yang mau mendengarkan segala celotehan saya dan mampu membuat semua obrolan jadi penuh makna.
 
Saya jatuh cinta, dengan sangat dan cepat. Sesuatu yang saya ingkari sedari dulu, lalu lama-kelamaan saya sadari dan akhirnya saya terus simpan dalam hati.
 

Saya jatuh cinta, dengan sukarela. Meskipun ketika kamu masih bersama dengan perempuan manis itu, saya masih terus belajar menata rasa yang selalu tentang kamu. Menjadikannya samar agar kamu tetap nyaman berhubungan dengan saya. Untuk menyelamatkan KITA, atas nama persahabatan.Saya tak pernah marah melihatmu mencintainya, bahkan saya (dengan setengah hati, yang saya sadari kemudian) terus menyemangatimu. Tapi sungguh, harapku agar kamu bahagia adalah tulus.
 
Tahukah kamu apa yang terjadi denganku ketika kamu dengan begitu santainya mengatakan kamu rindu? Saya tak habis-habisnya tersenyum, berhari-hari. Hati saya berdentum-dentum. Rasanya milyaran kupu-kupu beterbangan dalam perut saya. Sebaliknya, saya tak tahu apa yang kamu rasakan. Mungkin kamu menulisnya sambil lalu, mungkin detik berikutnya kamu lupa, mungkin hari berikutnya kamu katakan itu pada orang lain.
Dalam selipan waktu yang kita habiskan bersama, kalau kamu sadar, saya seringkali mencuri pandang dan kemudian diam-diam tersenyum. Menaruh tangan di dada merasakan debar-debar yang takut terdengar olehmu. Menahan tangan agar tak sembarang menggenggam tanganmu atau memeluk tubuh kurusmu.
 
Rasa ini selalu tentang kamu, meskipun saya sibuk berbohong bahwa saya mencintai orang lain. Kita tak pernah berbagi peluk, tak pernah bertukar kecup manis, tak pernah pula berpegangan tangan. Itulah yang awalnya membuat saya berpikir tak ada romansa di antara kita. Kita hanya belajar tentang satu sama selain, saling mendengarkan dan bercerita. 
Saya jatuh cinta, berulang kali, dengan lelaki yang sama. Kamu.
“But then, I realised that actually, it was not platonic. It was romantic. 
I am the only one in love. YES, I KNOW IT. And I also know that I cannot tell you about it.
 
All of it will come back to falling in love with YOU. Desperately, I will look for the one who is ‘like’ you. You will always be a shadow, controlling my feelings about everybody else.
 
But we never happened. And that’s okay. 
One thing I don’t know, is it really true that I’m the only in one in love?”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s