Tentang Menjadi Pengangguran (kembali) dan Konsekuensinya

Make a choice to be a happier person. Be ready for whatever consequences your choices bring. Expect the best out of everything.” 
– Christie Kanter
BINGO! Yang saya tahu setiap kita memilih sesuatu, kita pun sebenarnya memilih konsekuensi-konsekuensi yang melekat pada keputusan itu.
Itu pun yang saya pertimbangkan ketika mengambil keputusan ini: Resign.
Impulsif? Keputusan ini bisa bilang beberapa persen memang dipengaruhi sifat impulsif saya.
Tapi bukan mendadak. Bukan sekali-dua kali pikiran untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saya. Terutama ketika menghadapi pressure yang cukup tinggi di kantor.
Ini adalah pekerjaan full-time pertama saya, bekerja sebagai Project Executive di sebuah perusahaan riset pemasaran lokal yang cukup mumpuni. Memang jauh dari latar belakang pendidikan saya, tapi saya memang (semula) berpikir selama pekerjaan itu bisa saya kerjakan, saya mendapatkan ilmu dan pengalaman baru, plus dibayar pula jadi hal itu bukan masalah besar. Dengan salary yang mungkin tidak begitu besar (dibandingkan teman-teman saya yang lain) tapi cukup, jenjang karir cukup jelas, lingkungan kerja yang nyaman, rekan kerja yang suportif dan asyik, atasan-atasan yang super baik tentunya membuat saya bertahan dengan pekerjaan itu.
Ok, kalau semua bagus, terus kenapa resign?

Jawabannya: Mungkin saya sudah lelah. HAHAHA.
Oke, serius.
Alasan #1
Buat yang tahu dan berpengalaman di bidang market research  (dan biasanya perusahaan berjenis penyedia jasa) , jam kerja kami terlampau fleksibel. Memang aturannya kami masuk jam 8.30 pagi kemudian pulang jam 17.30, pada kenyataannya kami seringkali overtime. Saya sendiri rekor pulang pagi adalah jam 5.30 pagi!
Pengalaman terburuk saya:
Hari pertama : masuk jam 8 pagi (well, saya jarang datang terlambat! :P), kemudian pulang jam 3 pagi
Hari kedua : masuk jam 8.30 pagi, pulang jam 5.30 pagi
Hari ketiga : masuk jam 2 siang, pulang jam 7 pagi ( ini sebenarnya jam 1 dini hari kerjaan saya sudah selesai, tapi saya lebih memilih menginap karena kelelahan).
Jangan tanya deh bagaimana kondisi jiwa raga. HAHAHA. Hari-hari dilalui seperti zombie. XD
Alasan #2
Saya gagal memanajemen stres. Sebenarnya masih berhubungan dengan alasan #1 sih ini. Dengan kondisi raga yang jadi gak keurus, kemudian ditambah lagi pressure meningkat kalau sedang megang project dengan klien super-demanding wah…itu ujian hidup deh ya. Gak bisa tidur, giliran tidur malah mimpi kerjaan, bawaannya pengen nangis melulu.
Belum lagi kehidupan yang cuma berkutat kost-kantor saja, dan karena telanjur capek makanya waktu senggang malah lebih milih dipakai untuk tidur ketimbang bersosialisasi. Kehidupan asmara? wah berantakan! Tapi waktu itu sibuk kerja jadi tameng sih kalau saya lagi gak mau diganggu. 😀 😀
Bahkan saking stresnya, saya sempat coba merokok. Ehem. Ini aib sih sebenarnya, tapi ini untuk menggambarkan sejauh mana saya stress dan gak bisa handle lagi. Untungnya otak masih bener dan gak sampai coba-coba yang lebih ‘aneh’. Cuma coba beberapa batang dalam waktu beberapa hari kok. Gak sampai 1 bungkus (rokoknya masih ada sampai sekarang tuh!). Syukur –Alhamdulillah- gak sampai ketagihan juga.
Tersadar dengan itu semua, akhirnya saya mulai memikirkan untuk mengundurkan diri. Gak baik lama-lama, itu yang ada di pikiran saya. Pertama kali terlintas di bulan ke-9 saya bekerja, saat itu memang kebetulan dapat project yang lumayan berat buat saya yang masih hijau (belum 1 tahun gitu!). Tapi kemudian urung dilakukan karena kemudian saya dapat project baru dan akhirnya dipromosikan oleh atasan untuk naik jabatan.
Setiap saya kepikiran untuk mengundurkan diri, sepertinya selalu ada hal-hal yang menahan saya dan meminta saya untuk berpikir lagi lagi dan lagi. Keinginan itu muncul lagi saat saya mendapat project besar berturut-turut, tanpa jeda. Ditambah klien yang lagi-lagi demanding keterlaluan (yang namanya klien emang pasti DEMANDING sih ya -__-), bahkan saya pernah nangis di kantor (dan klien *project lain* kebetulan mampir ke meja saya). Kondisi kesehatan pun mulai menurun yang kemudian berpengaruh ke kinerja dan ya…saya pun kewalahan.
Setelah lama tertunda akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajukan pengunduran diri. Deg-degan macam mau dieksekusi. Keputusan yang dianggap nekat karena saya belum mendapatkan pengganti pekerjaan. HAHAHA. Tapi lega banget rasanya ketika sudah mengajukan itu sambil membayangkan hari-hari setelah ini. 😀
Selama 1 bulan terakhir, sepertinya atasan dan senior saya memanfaatkan momentum itu dengan melimpahkan project-project mingguan bertubi-tubi. HUFT. Tapi membayangkan saya akan segera meninggalkan orang-orang kantor yang baik semua, meninggalkan rutinitas yang melelahkan tapi ternyata juga menyenangkan, meninggalkan klien-klien yang demanding-nyebelin tapi kadang baik juga itu pastinya bikin perasaan campur aduk.
Masih segar dalam ingatan, project terakhir saya berhubungan dengan klien dari India yang sifatnya bikin elus-elus dada tiap detik. Sampai saya berpikir kalau orang tersebut sepertinya diciptakan Tuhan untuk membuat manusia-manusia yang berhubungan dengan dia belajar sabar. XD XD XD
Lalu bagaimana setelah menjadi pengangguran?
SENANG!!! YAY! I’M FREEEEE!!! Senang rasanya ketika bangun pagi tidak perlu pasang alarm, tidak perlu buru-buru mandi (ini mah bawaan malas kali yak! HAHA). Senang rasanya gak pulang larut malam lagi, gak berhadapan dengan klien-klien cerewet lagi.
Tapi…iya, ada tapinya! Seperti yang saya bilang, tiap pilihan ada konsekuensinya. Dalam pilihan ‘KEBEBASAN’ ini konsekuensinya adalah saya tidak dibayar, saya harus kembali mulai dari 0 untuk mencari pekerjaan dan ya saya jadi GAK ADA KERJAAN! XD XD
‘You reap what you sow‘ lah ya.
Ketika saya mulai menikmati kebebasan yang saya pilih, bukan berarti saya senang-senang terus. Ada satu waktu saya bolak-balik tidak bisa tidur memikirkan bagaimana masa depan saya selanjutnya, apa yang harus saya lakukan, bagaimana saya bertahan hidup.

Beranilah memilih. Zona nyaman itu bisa ada di mana-mana, bahkan ketidaknyamanan bisa jadi zona nyaman hanya karena kamu merasa ‘terbiasa’ dengan itu. Tanya dan diskusikan dengan keluarga, teman dan orang-orang di sekitar. Karena walaupun ini keputusan untuk hidup kita sendiri, kadang ada beberapa hal yang akan mempengaruhi lingkungan sekitar kita. Persiapkan diri dan mereka sehingga mereka pun bisa mendukung kita ketika menghadapi konsekuensi yang kita dapatkan. Lalu berusaha, berdoa yang terbaik, dan bersabar dengan kesabaran yang terbaik.

*mohon doanya semoga semakin bijak dalam mengambil keputusan, semakin kuat dalam menghadapi masalah, dan semoga segera berhenti jadi pengangguran 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s