Balada Pengangguran *wink*

Salahkan sindrom pasca-resign yang buat saya jadi resah gelisah setiap tanggal gajian pada tiap-tiap bulannya. Iya, dengan status masih pengangguran, bawaan iri dan ketidakjelasan masa depan menghantui pikiran saya. Tapi toh balik lagi ke titik ketika saya memilih keputusan resign saat itu (cek tulisan “Tentang Menjadi Pengangguran (Kembali) dan Konsekuensinya”). Belajar menghadapi konsekuensinya yang kadang-kadang walaupun sudah dipersiapkan di awal, tapi tetap saja ada satu-dua hal yang di luar ekspektasi awal.
Jadi ceritanya hari ini demi menghalau segala pikiran negatif, saya berusaha mendistraksi diri dengan berbagai macam hal. Mulai dari beres-beres barang untuk pindahan yang entah kenapa malah bikin pikiran tambah rungsing mengingat BARANG SAYA KENAPA BANYAK BANGET, SIK! *inhale-exhale* , dan sampailah saya ke saat saya berkelana ke pelosok dunia maya *tsah*.
Terus saya menemukan suatu tulisan di blog seseorang yang mampir di newsfeed FB saya yang isinya tentang pengunduran diri dia dari status PNS. Dalam tulisannya dia menuliskan bagaimana keputusan resign itu merupakan sarana dia belajar menentukan pilihan. HAHAHA. Itu sedikit membuat saya teringat dengan keputusan resign saya juga.

Kenapa?

Saya kembali disadarkan suatu fakta! Manusia memang cenderung tidak pernah puas. Ketika saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya dengan alasan ingin memiliki pekerjaan dengan jam kerja normal, menjanjikan hidup ‘tenang’ , deesbe (sebut saja, salah satunya dengan ‘menjadi PNS’); sementara di suatu titik bumi sana ada seseorang yang dengan ikhlasnya memutuskan untuk mundur dari PNS. Tanpa mengesampingkan justifikasi dia (karena saya yakin tiap orang punya latar belakang berbeda yang membuat dia memutuskan itu), saya tidak mengingkari bahwa saya sekarang menjadi salah satu dari sekian ratus ribu orang yang menyebut beliau ANEH, GAK BERSYUKUR, deelel. (kayanya dulu pas saya resignjuga banyak pengangguran yang bakal teriak gitu ke saya, HAHA)
Wajar dong? Sebagai salah satu orang yang sedang meratapi nasib memikirkan masa depan dan berencana akan berjuang bersama banyak orang demi 1 posisi berstatus abdi negara, rasanya mendengar keputusan dia itu sakitnya di….sinih. *tunjuk ke dada* *oke ini dramatisasi doang*
Again, semua tak sama. Mau dibanding-bandingin sampai kapan juga, manusia itu ajaib dengan semua keinginan-keinginannya yang tak hingga.
Saya pun ingat satu cerita singkat ketika saya bertemu seseorang di suatu tes psikologi proses recruitment sebuah perusahaan. Saat menunggu giliran interview dengan bagian HR, saya sempat mengobrol singkat dengan dia.
Saya sebenarnya sudah kerja di sini loh” kata dia sambil senyum-senyum.
Saya dan salah satu perempuan yang kebetulan ada di dekat kami juga lantas heran “Hah? Di mana? Terus ngapain ikut kaya gini lagi?
Di bagian X *saya lupa*. Hehe. Saya mau balik ke kantor aja, cape di lapangan. Gitu-gitu aja. Makanya daftar jadi admin.
Well, well…saya pun jadi ketawa-ketawa. Berapa orang coba di luaran sana, yang saat ini terjebak di dunia korporasi dan harus menghabiskan berjam-jam di belakang meja berteriak pengen kerja di lapangan karena merasa kerja di belakang meja itu “gitu-gitu aja”??
Intinya apa?
Banyak bersyukur, bro! Kalau belum bisa, BELAJAR! Iya, ini saya juga masih belajar. Kalau masih jadi pengangguran, syukuri hal-hal yang lain seperti Alhamdulillah masih sehat jadi tenaganya bisa dipakai untuk cari kerja, Alhamdulillah punya waktu kosong untuk nikmatin hidup *halah* dan melakukan hal-hal lainnya yang gak bisa dilakukan saat masih bekerja, Alhamdulillah aja terus. Sabar, syukur, ikhlas.

Kalau kata bang Maher Zain,

“You’re so confused, wrong decisions you have made haunt your mind and your heart is full of shame

But don’t despair and never lose hope because Allah is always by your side

Insya Allah, Insya Allah Insya Allah you’ll find a way


Bahkan yang lebih mantap lagi, Allah SWT bilang 

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS. 14:7)

Nulis ini bukan sok bener ya, ini juga reminder sih. Seperti yang saya sebutkan tadi di awal, saya lagi cari distraksi. Daripada melakukan yang aneh-aneh, saya berusaha menumbuhkan pikiran-pikiran positif dengan nulis ini. Hehe. Hehehe. >,<

Hidup itu isinya pilihan dan konsekuensi, sisanya kejutan. Iya, bersiaplah.

Terus syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. *oke ini mah minjem lagunya dmasip*



Cheers! :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s