[not A Review] Under The Southern Stars by Anida Dyah & Writing Workshop #AwesomeJourney

Beberapa waktu lalu saya menerima tanggung jawab sebagai Person in Charge untuk sebuah pelatihan menulis dari nulisbuku.com dan KEHATI bertema traveling. Saya pun kemudian disibukkan dengan berbagai macam hal yang harus dipersiapkan berkaitan acara tersebut, termasuk salah satunya kontak dengan para pembicara. Kali itu, untungnya, saya hanya tinggal follow up mengenai materi pembicara untuk hari H. Itulah kali pertama saya kepo dengan salah seorang pembicara yang akan mengisi sesi di pelatihan menulis nanti.

Pembicara: Anida Dyah, @nidnod

Ok, she’s a traveler. Oh, dia penulis Under The Southern Stars toh.

Sudah sampai situ saja, pencarian saya pun terhenti. Saya belum pernah baca bukunya, walau sangat mengenal buku tersebut saat lihat dari halaman sampulnya. Salah satu buku yang selalu menarik perhatian saya untuk diangkat dari tumpukan buku di meja display, tapi tak cukup membuat saya ingin membelinya. Ada rasanya 2-3 kali kunjungan saya ke toko buku; saya mengambil buku tersebut, membaca sinopsisnya, tapi kemudian tetap mengembalikannya ke tempat semula.

Seminggu terakhir kemarin, setelah kepulangan saya dari kota kelahiran, tiba-tiba muncul rasa penasaran atas buku itu. Sayangnya saat saya beberapa kali mencari di 2 dari 3 toko buku besar yang ada di sekitar Margonda, buku itu sudah tak ada lagi. Stok kosong, begitu yang tertulis di mesin pencarian di toko buku tersebut. Makin menjadilah rasa penasaran saya, sampai akhirnya H-1 acara penulisan, saya berkesempatan mengunjungi toko buku ke-3. Nothing to lose. Beruntung kali ini ternyata buku ini masih tersedia di gudang mereka.

Meskipun penasaran, saya tak langsung membaca buku ini. Baru menjelang tengah malam saya akhirnya bisa menjamah buku ini. Tak disangka halaman-halaman pertama justru membuat saya tercekat dan terpikat, berhasil menarik saya lebih dalam dan ingin terus membacanya. Tercekat karena this book feels very personal to me. Terpikat karena (jujur) saya tak mengira perempuan ini bisa begitu pandai merangkai kata. Maklum, maaf saja mulanya saya mengira buku ini akan membosankan. Entah karena faktor buku tersebut berubah menjadi sesuatu yang memiliki ikatan emosi dengan saya, atau memang si penulis cerdas dan lihai dalam bercerita (setelah menyelesaikan bukunya kemudian saya yakin penulisnya memang cerdas, baik secara emosi dan intelegensi).

Siapa itu Anida Dyah?

Sekitar H-3 saya beberapa kali berbalas email dengan Mbak Anid untuk urusan materi pelatihan menulis di akhir minggu. Baru ketika hari H saya dapat bertemu langsung dengannya. Saya yang datang agak terlambat dan langsung sibuk urus sana-sini, tak sempat memperkenalkan diri secara langsung.

Perempuan yang saya lihat hari itu sungguh sangat berbeda dari bayangan saya sebelumnya ketika melihat dirinya pada beberapa foto di dalam bukunya tersebut. Dia, dengan ulasan make-up sederhana tapi terlihat chic dan cantik, tampak seperti wanita modern pada umumnya. Tak akan terbayang sosok ini telah banyak melalui perjalanan panjang menjelajah dunia. Apalagi sosok tubuhnya yang mungil, orang tentu susah menebak bahwa dia seorang solo traveler tangguh nan pemberani, pernah mengalami asam-garam saat melakukan perjalanan-perjalanannya.

Perempuan tersebut adalah orang yang sama yang berani mengambil keputusan melepaskan semua kenyamanan yang diperolehnya dengan keluar dari pekerjaan yang cukup memberinya kehidupan mapan saat itu untuk keputusan yang banyak orang bilang gila, yaitu melakukan perjalanan dengan alasan hidup ini terlalu singkat untuk dinikmati ketika weekend atau cuti selama dua minggu saja. Jleb.

Kenapa buku ini terasa sangat personal?

Mbak Anida dengan sangat beraninya keluar dari zona nyaman. Mengambil career break, begitu istilah yang diberikannya, untuk sesuatu hal yang bisa dikatakan ‘abstrak’. Tak bisa dijelaskan dengan mudah dan tak banyak orang mampu mengerti soal itu.

Fase tersebut persis ketika saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Dengan modal nekat, mencoba menjadi orang yang egois dengan hanya memikirkan soal apa yang saya inginkan (bukan apa yang saya harus lakukan), menurunkan gengsi, berdamai dengan kenyataan, bernegosiasi dengan impian-keinginan-kemampuan dan tentunya  tetap menikmati hidup. Walaupun kebebasan yang saya dapatkan itu ditukar dengan masa depan saya jadi tak jelas, tak ada pemasukan yang cukup menunjang, pertanyaan dan ucapan orang-orang yang kadang membuat saya tak percaya diri, serta banyak hal lainnya yang pasti tak melulu menyenangkan. Entah bagaimana saya justru yakin tak lama lagi saya akan ditunjukkan jalan yang lebih baik.

“Tidak ada yang ingin menukar kenyamanan dengan ketidakpastian hanya untuk senang-senang.” (p.2)

“…kebebasan mungkin merupakan bentuk egoisme dan tidak bertanggung jawab, tapi bagiku hal itu dirasa perlu. Selama masih bisa, kenapa tidak mengambil keputusan luar biasa untuk menikmati masa muda? Semua hal besar tidak pernah mudah. Kau harus keluar dari zona nyamanmu, menghadapi ketakutan terbesarmu, lalu mencari jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpimu. Seperti sebuah revolusi dalam level individu.” (p.55)

Banyak kata-kata yang tersebar dalam buku Under The Southern Stars terasa begitu membuat saya tertohok. Melempar saya ke suatu memori hampir satu tahun lalu itu.

“… Siapapun pasti tergoda dengan kata-kata keliling dunia. Semua ingin melakukannya. Tetapi mengepak barang dan benar-benar pergi? Tidak semua orang bisa.” (p.75)

Rangkaian kalimat di atas kali ini mengingatkan saya ketika saya dan teman-teman banyak merencanakan daftar perjalanan yang ingin kami lakukan. Semua ajakan yang bersambut dengan “Yuk! Ayo direncanakan dong! Kapan?” , tapi kemudian dibalas dengan pertanyaan-pertanyaan yang kami sudah tahu sendiri jawabannya. Alasan sibuk dan sebagainya muncul tak berkesudahan. Wacana perjalanan pun hanya sebatas pengisi obrolan saat berada di titik jenuh.

Apa yang diceritakan?

Under The Southern Stars adalah sebuah jurnal perjalanan yang beralih tampilan juga isi menjadi buku. Kisah perjalanan Anida Dyah, solo traveler perempuan Indonesia yang menjelajahi Australia setelah meninggalkan pekerjaan yang dirintisnya selama 4 tahun. Dia bersama Judith, perempuan Jerman dan 2 laki-laki berasal dari Perancis. Ketiga teman perjalanannnya itu dia temukan setelah memasang iklan online dalam sebuah situs iklan serba ada. Bersama-sama mereka melakukan road trip dari Perth ke Melbourne yang berjarak 4,500 km selama 30 hari. Bisa dibayangkan ketika 4 kepala dengan segala perbedaan yang dimilikinya, baru bertemu dan berkenalan beberapa hari kemudian melakukan perjalanan selama itu. Dan tanpa itinerary. Wow.

Bisa dibayangkan kan bagaimana ‘menariknya perjalanan mereka?

Buku ini menceritakan kisah seru mereka dengan tetap secara bijaksana memperlihatkan bahwa sebuah perjalanan tak melulu ‘wah’, tak selalu sesuai rencana, juga tak terus-terusan menyenangkan.

Pelajaran dalam sebuah perjalanan

Pelajaran dalam sebuah perjalanan (pic taken from Anida Dyah’s workshop material)

Dalam sesi penulisan #AwesomeJourney kemarin, Mbak Anid menggambarkan sisi lain dari sebuah perjalanan. Tentang bagaimana merasakan hidup dalam momen, menangkap segala pelajaran yang terserak baik dari alam maupun manusia, menyimpannya dalam bentuk memori lalu menceritakan kembali demi menebar inspirasi.

Cool author, great book, inspiring session!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s