[not a Review] Critical Eleven by Ika Natassa

Uhuk. Coba siapa yang di sini penasaran sama Critical Eleven-nya Ika Natassa, bela-belain ikut PO yang kayanya kalau bisa dilihat yang terjadi adalah sikut sana sikut sini di dunia virtual macam mamak-mamak rebutan baju limited edition saat obral 70%?

Critical Eleven by Ika Natassa

Critical Eleven by Ika Natassa

Ok, saya salah satu korban antusiasme Critical Eleven yang kecewa! Bukan apa-apa, sudah siap segala rupa mantengin laptop, menunggu dengan manisnya di waktu yang sudah ditentukan, sudah klik sana-sini, begitu klik ‘Check out’ menuju proses selanjutnya… DANG! ERROR! Apa yang terjadi selanjutnya adalah saya yang misuh-misuh karena dalam hitungan 11 menit saja Critical Eleven sudah habis tandas di seluruh toko buku online yang melayani PO. Akhirnya saya merasa ini titik balik saya di dunia per-PO-an buku, merasa sepertinya saya sudah bukan waktunya lagi main selap-selip sana-sini buat berburu buku hanya demi membaca lebih awal. *alasan macam apa* 😀  Belajar menahan nafsu dan rasa penasaran, juga belajar sabar.

Akhirnya, antusiasme saya pun turun ke titik -1. Sudahlah nanti saja beli di toko buku langsung, begitu pikir saya yang berusaha menyabar-nyabarkan diri mengingat waktu peluncuran resmi di toko-toko buku masih lebih dari sebulan lagi.

Seiring berjalannya waktu *tsah*, ternyata peluncuran Critical Eleven dimajukan beberapa hari. Riang gembira dong tentunya, yes! 

Ini kapan bahas bukunya yak?! 😀 😀

*kretekin jari* *siapin amunisi*

Siaaaap?

PLOT

Tanya Laetitia Baskoro (Anya), seorang management consultant, dipertemukan pertama kali dengan Aldebaran Risjad (Ale) yang seorang tukang minyak dan kerjaannya di tengah lautan; dalam penerbangan dari Jakarta menuju Sydney. Dari pertemuan singkat itu kemudian berlanjut ke tahap lebih serius, pernikahan.

Konflik tentunya mengisi long distance marriage mereka, apalagi ketika keduanya dihadapkan dengan kehilangan seseorang yang berharga dan amat diharapkan dalam hidup mereka.

Ale dan Anya kemudian belajar bagaimana menjalani rumah tangga palsu mereka di depan keluarganya. Ale yang clueless harus berbuat apa dan masih beradaptasi dengan rasa kehilangan itu. Sedangkan Anya masih belum benar-benar bisa mengikhlaskan apa yang telah hilang.

Satu yang pasti, keduanya masih saling mencintai.

COMMENTS

Sulit untuk dikatakan, tapi sayangnya saya harus bilang ini bukan novel (paling) favorit saya dari Ika Natassa. Meski tetap saya acungi jempol dengan tulisan Kak Ika yang keren, mengalir, selalu penuh dengan emosi. Tentunya dengan tokoh pria baru yang too-good-to-be-true yang selalu berhasil Kak Ika ciptakan dan kembali membuai khayalan para ciwi-ciwi dewasa muda macam saya. *uhuk* Bagus, sama seperti tulisan-tulisan Ika Natassa sebelumnya.

Tapi hanya sebatas itu. Bagus, tapi tak sampai membekas di hati saya seperti Antologi Rasa misalnya. Kurang greget gitu. Entah ini karena pengaruh kekecewaan saat PO (sisa-sisa dendam kesumat, mak!), cerita yang tidak terlalu personal, atau plot yang terasa dragging.

Berhubung saya saat membaca ini dalam status belum berumah tangga, tidak menjalani long distance marriage, dan (Alhamdulillah) belum pernah mengalami kehilangan seseorang yang disayangi; saya merasa konfliknya terlalu lama. Bertele-tele, terutama saat Anya sulit sekali memaafkan Ale. Mereka saling mencintai setengah hidup dan sama-sama merasa perceraian bukan solusi, tapi kok Anya lama sekali berkubang dalam sakit hatinya itu ya.

Ya kalau dicari-cari sih alasannya bisa karena luka di hati Anya akibat kehilangan masih belum kering, eh sudah ditimpa lagi dengan rasa sakit hati yang diciptakan Ale. Jadi bisa dibilang wajar sih ya kalau Anya masih susah buat menerima dan menentukan jalan hidup. Wajar… dan mungkin ini sayanya saja yang kurang sabar. HEM! >,<

Ada yang bilang Jakarta itu, jika diibaratkan dalam sebuah hubungan, adalah seperti pasangan yang abusive, yang selalu menyiksa, yang membuat kita berulang kali mempertanyakan arti kasih sayang dan cinta, yang menguji kesabaran setiap kali dia memukul kita berulang-ulang, but yet we stay. Yet, we don’t leave.

Dari sekian banyak kalimat-kalimat yang quotable, yang satu ini malah yang paling ‘ngena’. Yang hidup di Jakarta, yang sudah pernah hampir setiap hari merasakan bagaimana keadaan lalu lintas dan transportasi di Jakarta di saat peak time, yang menjadi saksi kejam dan kerasnya hidup di ibukota… pasti langsung mengangguk-angguk, mengiyakan. We curse the apathy, the traffic, the chaos, and the pollution. Yet, we stay. We try to love Jakarta just the way it is.

Advertisements

One thought on “[not a Review] Critical Eleven by Ika Natassa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s