Hello Partner!

Gue termasuk orang yang malas sesumbar untuk sesuatu yang ngga pasti dan bikin orang bakal kepo nantinya. Misalnya, urusan pasangan.

Kadang gue sendiri bingung kalau ditanya jomblo atau ngga sekarang ini, yang pasti status di KTP masih ‘Belum Kawin’. Meski pada kenyataannya gue dan dia sepakat untuk mencoba bersama-sama menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan ‘what-if’ kami, gue sendiri menganggap kami hanyalah butiran debu *lah* *apa sih*. Kesepakatan kami memang tidak tersurat dengan ‘Yok, kita pacaran!’ macam yang dilakukan dedek-dedek menggemaskan itu, tapi gue memegang kalimatnya yang disampaikan kepada gue ‘I think we should try it because fate is something beyond human.’ Jawaban paling tepat untuk pertanyaan macam ‘Kita ini apa ya?’ mungkin adalah ‘Kita ini PARTNER.’ Iya, ngga? HARUS IYA. *maksa*

Namun, ketika perasaan gue ke dia kian hari kian jelas, gue merasa insecure sendiri. Dengan awal yang tidak mutual, gue tentu bertanya-tanya apakah dia pun sudah mendapatkan jawabannya. Tentang gue, tentang kami. Apakah gue siap kalau akhirnya nggak sesuai harapan gue? Apakah gue bisa menerima dia kembali seperti dulu jika itu terjadi?

Bagi gue, dia adalah orang yang selalu buat gue berusaha menjadi yang terbaik. Bagi gue, dia adalah orang yang mengajarkan gue untuk ngga ‘take things for granted’. Bagi gue, dia adalah sosok yang gue kagumi dan gue banggakan. Bagi gue, dia adalah seseorang yang membuat gue iri dengan segala aktifitas-aktifitas yang dia lakukan sementara gue ngga bisa (atau belum sempat) melakukannya. Bagi gue, dia adalah sahabat yang bisa gue andalkan. Bagi gue, dia adalah laki-laki yang selalu membuat gue tersenyum dan menghargai hal-hal sederhana. Dan bagi gue, dia adalah salah satu orang yang gue sayangi sampai gue rela meski dalam kebahagiannya itu nggak ada gue.

Dulu dia adalah orang yang ‘unreachable’, sederhananya karena gue menganggap gue ngga punya ‘kelebihan’ apapun yang bisa gue berikan ke dia. Hal-hal yang bisa membuat dia merasakan seperti apa yang gue rasakan ke dia. Bagaimana gue merasa kagum dengan apa yang dia lakukan, bagaimana gue merasa iri dengan semua pengalaman dia, dan bagaimana gue merasa bangga dengan hal-hal yang dia capai. *tiba-tiba minder*

Perasaan gue kini sampai pada tahap di mana gue mengharapkan apapun yang terbaik untuk dia LEBIH daripada gue mengharapkan yang terbaik untuk gue sendiri. Gue pengen melihat dia sukses mencapai cita-citanya, membanggakan orang-orang di sekelilingnya, menjadi orang yang bermanfaat. Tapi kok kayanya bohong banget ya kalau gue ngga sedikitpun berharap ‘yang terbaik untuk dia’ itu adalah bersama gue. Di sisi yang lain, gue merasa ngga tega membawa dia masuk ke dalam ketidakjelasan hidup gue. Makanya gue dipandang terlalu ‘santai’ dengan hubungan ini oleh beberapa teman yang secara sukarela jadi tempat sampah gue.

Celetukan mereka hampir sama, “Ingat umur, Git.” HAHA.

Dan gue cuma bisa cengengesan doang. Manalah gue lupa umur sendiri. 😆 Tapi ya gue percaya kalau sudah saatnya juga akan ditunjukkan kok jalannya. Ya, kan? Gue cuma berdoa saat momen itu datang semoga papa-mama masih sehat, semoga gue dan siapapun partner gue itu dalam kondisi dan pribadi yang lebih baik dan dewasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s