Aside

Tentang Menjadi Dewasa dan Belajar Mengurai Ketakutan

Pada suatu masa gue yang lemah ini pernah mengalami stres karena urusan pekerjaan. Sebenarnya ini kayanya hal biasa yang pernah dialami hampir semua kaum pekerja di Jakarta.

Gue mengalami gegar kebiasaan (karena kalau ‘gegar budaya’ alias culture shock kok rasanya ndak pas) #duileh, dari semula seorang freelancer yang terhitung bisa kerja sambil santai-santai menjadi seorang pekerja kantoran yang 5 hari seminggu harus menempuh perjalanan Depok-Slipi PP (Ngga perlu dijelaskan kan ya bagaimana kondisi lalu lintas dan transportasi ibukota di saat peak time?). Belum lagi load pekerjaan yang menumpuk dan saat itu gue belum bisa me-manage dengan baik. Bro serius deh, kondisi ini bikin gue bawaannya pengen cepet-cepet nikah aje (sama Song Jong Ki, tapi); seolah itu adalah solusi setiap masalah.

Nah masalahnya ketika gue stres efeknya itu kelihatan banget. Gue yang jadi sering lupa melakukan sesuatu lah, sering menunda pekerjaan lah, bikin banyak kesalahan lah, dan ini suka memengaruhi fisik juga. Stamina terganggu yang berarti bikin gue sering tumbang. Yang gini-gini kaya lingkaran setan, ujungnya gue jadi malas atau takut ke kantor. Tiap lihat e-mail masuk atau Whatsapp yang berhubungan dengan kerjaan, perut gue mules.

Tentulah kondisi kaya begini bikin Mbakbos dan Masbos khawatir. Sampai pada suatu saat, di sela-sela agenda Mbakbos dan gue yang padat, kami bisa duduk berdua bahas ini. Kayanya sih lebih tepat sesi curhat gue.

Di situ lah gue belajar mengurai masalah.

Mbakbos (M): Lo ada masalah apa sih Git?
Gue (G): Aku ngerasa ngga bisa manage kerjaan Kak. Bingung nentuin prioritas. Terus jadinya banyak yang missed. Aku lupa, terus pas ada yang salah ya aku ngerasa bersalah karena aku ngga bisa membuktikan kalau aku benar.
M: Terus apa yang lo takutin?

Sejenak gue termenung. Giliran ditanya, lah gue malah bingung jawabnya.

G: Eng… Apa ya? Takut salah Kak.
M: Terus kenapa kalau takut salah?

Diam lagi. Berpikir lebih lama.

G: Eng…takut disalahin Kak.

M: Ok, takut disalahin. Terus? Kalau disalahin, kenapa?

G: Ya, takut bikin kecewa orang Kak. Eng… takut dimarahin sih sebenarnya.

M: Terus kalau dimarahin kenapa? Ngga bikin lo mati kan?

*JEDERRR* Kalimat yang Mbakbos gue katakan itu bak petir menggelegar di otak gue. #drama Alhasil gue cuma bisa cengengesan. Iya ya… kan gue ngga bakal mati kalau dimarahin doang kecuali kalau pas yang marah datang, hujan badai, dan petir menyambar gue. Ok, ini mulai melenceng…

Mbakbos pun melanjutkan

M: Dan ada yang marah ngga pas lo salah? Gue? Mas E?

G: Ngga sih…

M: Nah kan! Lo tuh harus belajar percaya diri Git. Ketika lo benar atau merasa benar, ya lo harus percaya diri. Sebaliknya ketika lo salah, lo harus berani bertanggungjawab. Yang pasti cari solusi supaya masalah itu beres dan lo ngga mengulanginya lagi.

Iya, kalau diingat-ingat lagi Mbakbos dan Masbos gue ini ngga pernah marah walaupun gue salah. Makanya ini bikin gue takut mengecewakan mereka.

Lagi-lagi, Mbakbos pun bilang

M: Kita (Mbakbos & Masbos -red.) sih senang-senang saja ya Git kalau lo bisa kerja dan menyelesaikan tugas dengan cepat. Tapi kalau itu bikin lo stres, ya sudah, jangan. Lebih baik lo kerja dengan beres, one at a time; ketimbang lo kerja cepat tapi malah berantakan.

Gue pun cuma bisa manggut-manggut. Ada kelegaan ketika Mbakbos menjelaskan ekspektasi mereka ke gue. Selesai konsultasi dengan Mbakbos itu, gue jadi merasa ketakutan-ketakutan gue terurai jadi kecil banget dibandingkan masalah di dunia ini. Ibarat kata cuma butiran debu di alam semesta ini. Sayangnya saat gue tertekan, gue kadang terlalu fokus sama ketakutan dan masalah gue sampai lupa untuk cari solusinya.

Ketika kita berkutat hanya pada ketakutan-ketakutan yang bahkan belum tentu terjadi dan masalah-masalah yang ada, kita jadi lumpuh. Di sini lah pentingnya melihat dari sudut yang lain. Dengan begitu kita bisa melihat bahwa sebenarnya ketakutan kita bisa diurai, pun begitu dengan masalah yang kita hadapi.

Karena menurut gue, salah satu proses menjadi dewasa adalah memahami bahwa merasa takut bukan lagi alasan yang bisa diterima untuk tidak melakukan sesuatu.

Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s