Aside

[not a Review] Ada Apa Dengan Cinta 2

Hype film ini sudah terasa dari jauh-jauh hari. Sebagian besar orang di lingkungan gue pun membicarakannya dan gue adalah salah satu orang yang memasukkan ini dalam daftar film yang harus ditonton di 2016.

Saat film AADC pertama keluar, gue masih anak SD yang polos dan lugu dengan pengalaman nonton film di bioskop satu-satunya adalah Petualangan Sherina. Mengingat usia yang saat itu masih dibawah umur, jadilah gue hanya merasakan hype-nya dari kakak-kakak gue. Pengalaman nonton AADC sampai selesai pertama kali justru dari VCD yang disewa waktu gue SMA.

Cinta dan Rangga

Dua tokoh ini berhasil meninggalkan kesan yang sepertinya akan lama tinggal di benak para penonton, semacam Galih & Ratna. Ngga cuma tokohnya, gaya bicara dan aktingnya jadi sesuatu yang remarkable. Diingat semua orang dan dibicarakan dalam periode yang cukup lama. Kutipan-kutipan dialog, potongan-potongan puisi, selipan OST, seolah menempel kuat pada memori. Buktinya meski berjarak sudah hampir 14 tahun, beberapa orang masih bisa melafalkan dialog ataupun puisi-puisi yang ditampilkan, bahkan biasa menjadi celetukan candaan.

Nostalgia dan Sebuah Jawaban

Datang dengan rasa penasaran dan ekspektasi sederhana, terlebih rencana tak terduga, gue akhirnya menonton AADC 2 juga di… Yogyakarta! Hahahaha.

Bukan, bukan karena memang menyengajakan datang ke Jogja demi menonton AADC 2. Kebetulan saja rencana perjalanan gue tepat di saat film ini baru rilis. Jadi lebih spesial dan baper karena inti cerita AADC 2 dimulai di Jogja, karena di Jogja gue punya memori yang tidak bisa dilupa, karena Jogja selalu istimewa. *halah*

Bagi gue, AADC 2 adalah sebuah nostalgia. Dengan kenangan masing-masing, baik itu yang terkait dengan filmnya maupun perasaan personal. AADC 2 adalah sebuah obat rindu di mana gue (dan penonton lainnya, gue rasa) bisa melihat kembali Rangga dan Cinta. AADC 2 adalah sebuah jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan.

Bagian paling diingat tentunya ketika Cinta dan Rangga duduk bersama, mengonfrotasi masalah mereka yang belum selesai. Selain karena wajah Rangga yang close-up, kata-kata yang mereka sampaikan saat itu jadi viral dan diingat terus. 😁

“Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu… jahat!”

Puisi dan Kekinian

Dalam Ada Apa Dengan Cinta, puisi adalah salah satu elemen penting dari jalannya cerita. Syukurlah kali ini puisi-puisi Aan Mansyur dipilih untuk mengisi film AADC 2. Sebagai penikmat puisi-puisinya, gue merasa pemilihan Aan Mansyur cukup pas menggambarkan perasaan-perasaan anak muda masa kini dalam puisinya. Tetap puitis, romantis, tanpa galau yang berlebihan. Tapi efeknya… baper berkepanjangan. *sama aja itu mah!*

“Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.”

Secara keseluruhan, AADC 2 adalah sebuah sekuel yang manis.

Beberapa kali gue meringis saking gelinya dengan dialog Cinta dan Rangga, di beberapa adegan gue malah bisa senyum-senyum sendiri. Cheesy, tapi menyenangkan.
Plot cerita? Ah, apakah cuma gue yang masa bodoh dengan cerita ini? 😁

pic: iberita.com
Advertisements

One thought on “[not a Review] Ada Apa Dengan Cinta 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s