[not a Review] The Architecture of Love by Ika Natassa

Bisa dibilang ini buku paling mahal yang pernah gue beli. HAHAHA. Masukkan ongkos pesawat Jakarta – Makassar PP, taksi, makan, serta peluh yang bercucuran dalam kalkulasi, tentu saja ini jadi yang termahal. #ahelah #lebay

Tapi, sebut saja gue beruntung. Menghadiri book launch-nya langsung di Makassar dan mendapatkan 1 di antara 150 buku limited edition setelah dengan sabar mengantri jelas bukan sesuatu yang biasa (bagi gue).

Berhubung bukunya sendiri belum dirilis resmi di toko buku-toko buku, gue akan berusaha sebisa mungkin tidak memberikan spoiler.

TAOL dan Antrian yang Mengular

Berkesempatan ke Makassar dan datang ke Makassar International Writers Festival 2016 #MIWF2016 menjadi suatu berkah tersendiri buat gue. Beberapa agenda menarik, alhamdulillah bisa kesampaian untuk dihadiri. Salah satunya ya peluncuran buku The Architecture of Love-nya Ika Natassa ini. Sebenarnya gue tahu kalau fans Kak Ika ini luar biasa gokil, berbagai skenario tentang book launch berkeliaran di otak gue. Tapi mengingat ini diadakan di Makassar, gue pikir posibilitas gue masih terhitung aman. Nyatanya…

Ada baiknya gue ceritakan kronologis perjuangan gue waktu itu. #penting Setelah ditimbang, dipikirkan dan disusun strategi, H-1 gue sudah merencanakan akan berangkat lebih pagi ke acara tersebut. Pagi harinya dengan antusiasme tinggi (plus it’s the first day of my period! hmm, sensasinya itu loh 😣), gue mulai siap-siap. Acaranya jam 10.00 pagi, gue berangkat naik taksi jam 8.30 dari wisma tempat gue menginap yang ternyata jaraknya kira-kira cuma 1 km doang ke Same Hotel, tempat acaranya berlangsung. Asumsi gue, gue masih ‘kepagian’.

Begitu sampai hotel, gue diminta langsung ke lantai 3. Bersama beberapa orang yang bertujuan sama, gue pun nurut. Lift terbuka, panitia langsung menyambut kami dengan ramahnya dan bilang…

“Langsung ke lantai 7 ya. Antriannya sudah sampai lantai 7 soalnya.”

Jreng! Kami pun serentak bengong. Apaaaa? Lantai 7? Antrian? Lalu gue pun baru ngeh begitu melihat ke arah tangga lantai 3 yang saat itu sudah diduduki orang-orang yang mengantri, satu orang satu anak tangga. WHAT THE…!! Salah seorang dari rombongan bertanya berapa orang yang sudah mengantri dan apakah dia masih dapat bukunya, yang kemudian dibalas dengan santai oleh panitia…

“Ngga tahu, Kak. Yang penting usaha dulu saja…”

NGOK! Mau ngga mau muka-muka kami berubah jadi asem-asem gimana gitu. Tapi ya sudah tuh ya… gue dan yang lain pun nurut lah itu ke lantai 7 yang mana ternyata mulai dari tangga lantai 6 sampai ke atas itu hanyalah tangga darurat yang ala kadarnya (ngga ada AC, sempit, dan tentu saja…gerah!). Di tangga darurat itu kami sudah disambut antrian orang yang saat gue masuk makin terus bertambah panjang sampai katanya ke lantai 10. Duh, gusti…

Sementara hati ini kebat-kebit mikirin nasib gue bakal kebagian bukunya atau ngga, gue sibuk kipas-kipas. Gerah tak tertahankan, semalam kurang tidur dan hari pertama dapet pun, paduan ini bikin raga lemas dan hampir menyerah karena antriannya stuck. Semua yang mengantri ngga ada yang tahu pintu registrasi kapan dibuka. Secercah harapan pun muncul begitu sedikit demi sedikit antrian mulai maju, meski gue masih kepikiran soal ketersediaan buku. Kan gak asik banget ya sudah berjuang sampai sini, terus ngga kebagian. T.T Namun, berkah Tuhan datang ketika terdengar sayup-sayup suara panitia yang memberi pengumuman “Harga bukunya 84 ribu ya. Disiapkan uang pasnya biar cepat masuk.”

IMG_20160521_111920_1463800799605

Lucky me! *peluk erat*

Ini kapan mau bahas bukunya woi! Baiklah… *seruput kopi*

#TAOLDay

Seperti yang sudah diketahui, buku TAOL ini diangkat dari #PollStory di Twitter. Jujur, gue sebenarnya ngga mengikuti serial TAOL ini. Bukan bagian dari orang-orang yang menunggu kelanjutan ceritanya setiap hari Selasa dan Kamis. Ya pernah sih ikut vote untuk poll-nya, tapi sebatas itu saja. Gue merasa lebih baik baca nanti kalau sudah selesai saja, lebih mudah dan praktis.

Sampai berikutnya, gue baca info kalau cerita bersambung ini akan dibukukan. Saat itu juga gue memutuskan untuk beli bukunya saja. Bagaimana pun lebih enak baca yang sudah menjadi buku dengan alur cerita yang lebih jelas dan deskriptif.

Gue pernah menyebutkan dalam tulisan gue sebelumnya di sini kalau Kak Ika ini memang penulis multitalenta. Bukan hanya pintar dalam meramu kata, dia juga sangat lihai dalam membangun antusiasme pembaca dan tentu saja memuaskan dahaga para fans-nya, mulai dari bikin book launch, ngasih gimmick, dll. Kemudian talenta tersebut dipadu dengan teknik pemasaran yang tepat serta kolaborasi dengan orang-orang yang juga mumpuni. Sesuatu yang jarang ditemukan pada penulis-penulis lainnya, terutama di zaman penulis dan pembaca dapat terkoneksi dengan berbagai macam cara dan bentuknya melalui teknologi.

Di hari itu, di tengah-tengah fans-nya Kak Ika gue merasakan atmosfer yang berbeda. Ternyata ngga cuma gue yang bela-belain datang jauh-jauh dari luar Makassar. Keseruan dan kebahagian seperti teradiasi dalam ruangan itu. Kalau mau lihat video keseruannya bisa dilihat di Youtube channel Kak Ika di sini. (important note: ada momen ketika Mbak Lily dari MIWF nanya siapa saja yang datang dari luar Makassar dan gue mengacungkan tangan lalu menjawab gue dari Jakarta. lumayan jadi bagian voice over. LOL). Serius deh, gue aja bahagia, apalagi penggemar setia TAOL yang tiap Selasa-Kamis mengikuti #PollStory-nya dengan rajin.

Ok…sekarang mending bahas bukunya saja. 😀

Plot

“Because you’re as lost as I am, Raia. And in a city this big, it hurts less when you’re not lost alone.” – River

Kali ini Ika Natassa kembali lewat The Architecture of Love dengan tokoh pria too-good-to-be-true baru: River Jusuf. Seorang arsitek yang pergi ke New York untuk ‘melarikan diri’ dari masa lalunya di Indonesia. Sang heroine, Raia Risjad, adalah seorang penulis fiksi yang juga terbang jauh-jauh ke New York untuk mengejar inspirasi setelah kehilangan muse-nya dalam menulis.

Masing-masing membawa beban dari masa lalu, baggage from their own pasts. Then, they met in New York. Sama-sama hilang arah, menemukan teman adalah salah satu berkah. Di situlah cerita mereka dimulai. Bagaimana mereka berbagi momen dan cerita di kota yang menjadi harapan banyak orang. Konflik lalu muncul ketika mereka berjuang dengan masa lalu masing-masing dan berusaha memberanikan diri menghadapi ketakutan juga kemungkinan-kemungkinan di masa depan.

Pada akhirnya, love comes to the brave ones.

Comments

Mungkin bakal banyak yang tidak setuju dengan gue, tapi gue bilang gue lebih suka ini daripada Critical Eleven. Menurut Kak Ika, novel ini termasuk novel tercepat yang dia buat. Lahir prematur. Gue bisa ngeh sih dengan jalan ceritanya yang lebih ringan, sangat ringan kalau bisa dibilang. Tapi gue suka. Entah karena keringanannya tersebut atau mungkin unsur ‘relatedness’ dalam cerita ini.

TAOL menjadi teman perjalanan gue dari Makassar menuju Jakarta. Setia menemani mulai dari ketika gue sarapan, gue di DAMRI ke bandara, saat di airport menunggu boarding pesawat yang ketika itu delay *curcol*, sampai berhasil gue selesaikan beberapa menit sebelum pengumuman bahwa pesawat akan segera landing. Dan di sela-sela itu, gue beberapa kali harus mengambil jeda, menutup buku, dan mengambil napas. Ada beberapa bagian yang membuat gue tiba-tiba sesak oleh emosi, bahkan sempat berkaca-kaca. Lalu malah giliran gue yang tertarik ke masa lalu. Di beberapa bagian juga gue merasa ngga mau buku ini cepat habis. Jelas ini ada campur tangan hormon yang kali itu lagi ngga stabil sih, tapi terlepas dari itu… gue seperti kembali diingatkan bagaimana gue bisa suka dengan karya-karya Kak Ika. Words, the way she tells, emotions.

Seperti yang gue selalu bilang, suka atau tidaknya pembaca atas sebuah cerita/buku itu layaknya kesukaan kita terhadap suatu masakan. Tergantung selera. Di suatu sesi diskusi tentang menulis karya yang mengguncang nalar publik bersama pentolan Mojok.co di #MIWF2016 yang gue hadiri kemarin, Maman Suherman (jurnalis, penulis, dan host) yang saat itu jadi moderator seperti biasa merangkum sesi tersebut dan mengatakan kurang lebih seperti ini

“Suatu karya yang dapat menyentil pembaca itu biasanya mengandung proksimitas, aktualitas, dan ada drama.”

OH YES! Benar sekali. Proksimitas, orang-orang akan menyukai suatu karya ketika emosinya terlibat di situ. Ada ‘kedekatan’ yang dirasakan pembaca atas karya yang disajikan. Kaya yang gue bilang tadi, relatedness. Bisa berupa pengalaman yang sama, tempat yang pernah dikunjungi, bahkan sesederhana nama yang sama. Aktualitas berperan dalam menciptakan suasana menjadi lebih hidup dan terasa menyatu dengan keseharian pembaca. Menjadi kekinian, menampilkan sesuatu yang ‘nyata’. Lalu kemudian ada drama. People loves drama, so much. Drama adalah bumbu penyedap kehidupan. Dan layaknya MSG, ketika diberikan secara tepat, hasilnya pun luar biasa sedap. Tapi kalau kebanyakan, ya jadi bahaya.

Nah, ketiga unsur itu yang menurut gue pas disajikan oleh Kak Ika dalam The Architecture of Love. Bagaimana sesuatu yang ringan, konflik yang menurut gue ‘remaja’ banget, tapi malah bisa bikin baper. Secara keseluruhan, gue suka buku ini. Dan gue mau yang kaya River Jusuf satu. #ngarep

Selamat Kak Ika untuk kelahiran buku barunya. Selamat menikmati para penggemar TAOL!

Ada yang sudah baca juga? Menurut kalian bagaimana?

Advertisements

4 thoughts on “[not a Review] The Architecture of Love by Ika Natassa

  1. Hiiii, welcome Makassar anyway… semoga suka dengan sajian MIWF & Makassar dan tahun depan datang lagi di kota kami, iya saya juga menghadiri TAOL kemarin ikutan antri panjang hehehe, untungnya ada teman yg udah ngantri ternyata ng jadi ikut karena ada keperluan mendadak jadilah antrian dia yg sudah sampai lantai 4 dia serahkan ke saya, untuk urusan selera buku kak ika suka semua, tapi kalau di suruh milih overal kalau saya lebih suka Critical Eleven ketimbang TAOL hehehe

    Like

    1. Haiiii! Iya, kebetulan saya sendirian waktu itu. Jadi ya sudah lah ya…:D
      Secara personal dari seluruh bukunya Kak Ika itu top 5: Antologi Rasa, Divortiare, TAOL, Critical Eleven, AVYW.

      Like

  2. Bahkan menggeser critical eleven di list best 5 Gita? Okelah kalo begitu..
    Actually aku tuh salah satu yg setia nunggu selasa – kamis waktu bang river masih jadi pollstory..
    Begitu dibilang novelnya bakal rilis excited luar biasa
    Tapiyaaa hiks ngga dapet 1 biji pun dr 2 preorder kemarin
    Sediihhhh…
    Tapi setia menanti.. Semoga pas rilis resmi nanti pertengahan juni aku bisa dapet sebelum soldout.. Yaa.. Just in case.. Haha..
    And aawww so jelly kamu bisa hadir langsung ke makassar..
    Baca review-nya super seru dan menyenangkan hiyahhh..
    Next time, ve.. Next time..

    Like

    1. my soul sister! hahaha. kurasa memang dari awal aku ngga gitu memfavoritkan Critical Eleven. Kalau dari isi, Critical Eleven lebih ‘berat’ sih. TAOL ini menurutku super light. Semoga dapat yaaa ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s