[not a Review] Tidak Ada New York Hari Ini by M. Aan Mansyur

OK, ini emang telat, tapi gue rasa kagak basi-basi amat untuk dibuat review-nya. Sengaja sih, antimainstream #ahelah #ngeles. Buku puisi ini sebenarnya gue beli bahkan sebelum gue nonton film AADC 2, tapi emang baru ada kesempatan sekarang bahas ini.

Seperti biasa, gue akan mulai perbincangan ini dengan hal-hal di luar isi buku ini dulu. HAHAHA. Buku ini salah satu buku yang menemani perjalanan gue dari Jakarta ke Makassar. Sengaja gue bawa karena emang mau minta tanda tangan Aan Mansyur pas di MIWF 2016. Itu juga pakai untung-untungan, ngga ngarep-ngarep banget gitu. Kebayangnya pas acara kan pasti bakal ribet ya.

Jadilah hari pertama gue mendarat di Makassar, gue langsung mengunjungi Fort Rotterdam tempat MIWF 2016 berlangsung. Tujuan gue bukan ketemu Aan sebenarnya, tapi mau mengikuti salah satu sesi acara peluncuran buku Raden Mandasia karya Mas Yusi Avianto Pareanom. Gue ingat banget saat gue datang acara sudah berlangsung setengah jalan. Kebetulan Aan Mansyur jadi moderator sesi tersebut. Di akhir sesi, layaknya acara peluncuran buku, ada book signing Raden Mandasia. Gue yang saat itu membawa buku Raden Mandasia juga, langsung antri buat minta tanda tangan Mas Yusi.

Loh terus tanda tangan Aan?

Eng, gue cuekin. Serius. Aan Mansyur di depan gue, tapi gue merasa ngga enak buat ngeluarin buku Tidak Ada New York Hari Ini di depan Mas Yusi. Secara itu sesi book signing-nya Mas Yusi gitu. Jadi gue pun menyurutkan niat buat minta tanda tangan Aan. HAHAHA.

Sampai akhirnya keesokan harinya, setelah sesi A Cup of Poetry. Gue menyelinap di antara kumpulan abege-abege yang lagi ngantri… buat ikutan minta tanda tangan. Gue pikir: sekarang atau ngga sama sekali. Masa sudah ke Makassar, ketemu penulisnya, bawa bukunya, terus gue ngga minta tanda tangan sama sekali. Alhamdulillah, buku gue pun ditandatangani dengan cinta kasih. Beneran, Aan Mansyur nulis “With love,” gitu. 😜

IMG_20160620_200042

Berhasil ditandatangani juga! 😀

Galau ala Rangga

“Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.”

Membaca buku ini sebelum menonton AADC 2 membuat gue bisa menilai puisi-puisi ini tanpa bias. Bagi gue, puisi-puisi Aan di buku ini terasa lebih mudah ‘dicerna’ ketimbang buku puisi Aan sebelumnya. Tanpa banyak mikir, orang akan mudah merasa aura duka, suram, galau, dan apalah itu begitu membaca lembar-lembar pertama.

Nah, sensasi berbeda kerasa setelah gue nonton AADC 2. Sulit rasanya ketika membaca buku ini tanpa membayangkan sosok rupawan Nicholas Saputra (eng, well… Rangga) lagi galau. You know lah… galau manly gitu, belum tatapan matanya yang tajam dan agak redup kalau lagi sedih. #apaansik Kita jadi ikut membayangkan masa-masa Rangga saat masih di New York setelah putus dari Cinta. Ngga cuma itu, pas baca buku ini (lagi) jadi kebayang-bayang adegan-adegan dalam filmnya dan terngiang-ngiang suaranya Rangga pas bacain puisinya. Ya kan?

Tidak salah tentunya karena memang buku ini dibuat untuk film AADC 2. Justru mungkin inilah yang diharapkan bahwa pembaca Tidak Ada New York Hari Ini dan penonton AADC 2 bisa merasakan soul dari buku ini menyatu dengan tokoh Rangga.

Penggalan Puisi Terfavorit

Bagian-bagian ini terpilih murni karena pas galau kemarin rasa-rasanya pengen meluk Rangga terus bilang “I feel you, Rangga. I feel you!” kemudian mewek di bahunya. #drama

Kadang-kadang, kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan. – Pukul 4 Pagi

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau melihat langit membentang lapang. Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki. – Ketika Ada yang Bertanya tentang Cinta

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku– dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa. – Akhirnya Kau Hilang

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. – Batas

Yang terakhir yang paling klimaks memang. Di filmnya pun begitu. Penyampaian keinginan Rangga setelah kekalutannya selama 14 tahun itu.

((kekalutan))

Bahasa gue jadi sastrawi begini. 😅

Secara keseluruhan, buku ini cukup bikin baper. Apalagi ditambah nonton filmnya. Terus setelah itu ketemu mantan. Di tempat penuh kenangan. Ya wes lah… BYAR! #curcol

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s