Aside

(belum) menikah

“Gue sedih kalau kita kumpul full nanti Gita jomblo sendiri. Gue aja udah mau punya buntut 2.”

Kira-kira begitulah balasan seorang teman di sebuah Whatsapp Group ketika teman-teman lain mengajak kami bertemu (setelah sekian lama). Kebetulan hari itu salah seorang dari kami melepas masa lajang dan gue pun resmi menjadi satu-satunya single di grup tersebut.

Yes, somewhat rude and insensitive.

Untunglah kali itu mulut gue lagi kalem. Untungnya pula gue baca beberapa jam kemudian ketika teman-teman yang lain sudah melakukan ‘toyor virtual’ (iki opo?) ke pelaku. Setidaknya gue masih bisa behave untuk jaga mulut awak. Alih-alih mengeluarkan kata-kata tak senonoh, gue jawab…

“Insya Allah sudah ada waktunya, haha. Santai aja lah.”

Mencoba tertawa, padahal hati teriris-iris dan emosi membara. Hahaha, ngga deng. Tapi celotehan teman tersebut cukup membuat gue berpikir keras dan gatal buat membalas dengan komentar yang lebih pedas. Bisa aja gue balas,

“Gue udah jalan ke kota ini, kota itu. Lo masih di situ aja. Di rumah, sibuk sama suami dan ngurusin anak.”

Tapi akhirnya gue tahan.

Apakah dengan menikah dan punya anak menjadikan seseorang jadi lebih bahagia dibandingkan orang-orang yang masih sendiri?

Belum tentu.

Lalu, apakah dengan seseorang bisa pergi ke sana-sini tanpa perlu ribet mikirin suami dan anak menjadikannya lebih keren dibandingkan dia yang mendedikasikan seluruh waktu untuk keluarganya?

Belum tentu.

Ya, gue sadar bahwa ukuran bahagia gue dan dia berbeda. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang relatif. Teman gue tentunya bahagia menjalani rutinitas dengan keluarga kecilnya. Gue pun bahagia dengan kebebasan dan kesempatan yang gue miliki saat masih sendiri. Bedanya gue ngga menganggap itu sesuatu yang perlu dipamerkan, bahwa kebebasan dan kesempatan yang gue miliki adalah sebuah privilege. Setiap orang, setiap hal punya privilege masing-masing.

Seiring berjalannya usia, gue dihadapi kenyataan kalau menikah tidak bisa gue jadikan patokan kebahagiaan. Gue tidak mau membebani hidup gue (yang sudah berat ini :() dengan membandingkan pencapaian gue dengan mereka yang sudah menikah. Mungkin kalau gue lakukan itu, gue udah depresi kali. Mama-papa, para kakak menikah di usia 24-25. Lah gue? Mau 27 aja masih pusing pilih yang mana. (sok punya pilihan :p).

Gue ngga mau nikah? Kata siapa?

Gue mau, tapi toh Tuhan masih kasih kesempatan gue menikmati hidup dan mencari yang benar-benar gue mau.

Gue kelihatan santai? Siapa bilang?

Apakah gue harus bersendu-sendu meratapi nasib? Ngga toh? Gue akhirnya belajar mengerti dan sabar bahwa semua ada waktunya. Belajar menikmati saat-saat gue masih sendiri. Saat gue masih bisa pergi ke mana pun gue mau tanpa harus mikirin suami gue ngizinin ngga ya, anak gue nanti sama siapa.

Terlepas apapun maksud teman gue tersebut mengatakan itu; apakah memang peduli dan khawatir sama gue atau mau pamer pencapaian dia dalam membangun keluarga, pada intinya menikah dan punya anak bukan soal kompetisi. Siapa yang paling cepat menikah, siapa yang punya anak duluan, siapa yang anaknya paling banyak. Dan gue heran kenapa masih banyak orang yang berpikir seperti itu.

Hey, friend(s), thank you for caring anyway! πŸ™‚

Advertisements

3 thoughts on “(belum) menikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s