Ada (si)Apa sih di Depok?

Pertanyaan tersebut kembali muncul ketika Masbos dan Mbakbos ‘memaksa’ gue untuk pindah kost ke dekat kantor yang gue respon dengan 1001 alasan. Sebenarnya sudah ngga asing dengan pertanyaan itu, terutama setelah gue lulus kuliah, yang berarti hilang sudah alasan gue tinggal di Depok. Apalagi ketika tempat kerja gue justru di Jakarta yang meski tidak jauh, tapi perjuangan menjadi commuter itu luar biasa. Luar biasa melelahkan, tapi nyatanya masih terhitung bearable.

Depok adalah tempat di mana teman-teman terdekat gue berada. Yang siap menampung semua lelah dan sampah gue. Yang selalu mengusahakan untuk ada di setiap gue butuhkan. Bertemu mereka itu serupa rasanya ketika menemukan keluarga yang menyambutmu ketika ‘pulang’.

Sejak menginjakkan kaki di Depok, kost yang saat ini gue tinggali adalah kost ke-3. Kost serba ada karena selain kamar-kamar kost, dalam 1 bangunan ini ada warnet, toko kelontong, fotocopy-an, tempat penitipan sepeda motor, dan warung bakso. Kamar kost yang masih di bawah 1 juta plus koneksi internet LAN unlimited dan super cepat, stasiun kereta yang persis depan kost, itu jelas LANGKA. Belum lagi aneka jajanan dan tempat makan yang tinggal ngesot doang, dijamin bikin lapar mata.

Suntuk di kost? Bisa jalan kaki beberapa ratus meter ke Gramedia, Margo City, atau Detos. Mau coba hangout? Kafe-kafe gaul juga mulai bermunculan di pinggiran Margonda.

Kangen suasana kampus, punya niat mulia untuk olahraga rutin, atau sekadar cuci mata lihat dedek-dedek gemes? Ah, tinggal jalan atau jogging saja di UI.

Delapan tahun gue di Depok. Kota ini jadi saksi bisu seorang anak daerah yang cenderung anti sosial, polos, dan ngga ngerti apa-apa dituntut untuk jadi anak serba bisa dan mandiri. Tanpa gue sadari, Depok sudah menjadi rumah kedua. Sejak gue bekerja, definisi pulang adalah pulang ke Depok.

Ada apa sih di Depok? Ada siapa?

Orang-orang hampir selalu memberikan respon yang sama ketika gue sebutkan tempat gue bekerja dan di mana gue tinggal. Sulit menjelaskan rasa familiar dan nyaman yang tak terdefinisikan. Ada sisa-sisa kenangan yang belum mau gue tinggalkan. Ada hal-hal abstrak yang menahan gue di sini, di kota ini.

Lalu gue sadar. Bukan hal-hal yang ada di Depok yang menahan gue untuk tetap di sini, tapi kegelisahan-kegelisahan gue. Gue takut di tempat lain, gue ngga akan menemukan rasa ‘pulang’ itu.

Mungkin justru inilah pertanda gue harus segera beranjak. Meninggalkan zona nyaman.

*dalam upaya menyiapkan hati dan mental untuk meninggalkan Depok*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s