[not a Review] Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Holla! Datang kembali dengan review buku ala kadarnya setelah sekian lama terjebak rasa malas padahal sebenarnya buku yang gue baca banyak kok #bukanpamer.

Processed with VSCO with h6 preset

Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Seperti yang sebelum-sebelumnya, seri review kali ini dimulai dari sesuatu di luar bukunya. Well, buku ini sebenarnya diterbitkan bulan Mei tahun lalu tapi kemarin gue baru tergugah untuk membelinya. Entah kenapa.

Saat awal-awal diterbitkan, buku ini memang lumayan sering gue lihat di rak display dan sudah sempat gue bolak-balik cover depan dan belakang, kemudian menimbang-nimbang beli atau tidak. Sayangnya gue selalu terhenti begitu membaca sinopsisnya. Saat itu gue merasa sepertinya nalar gue tak sanggup (yang kadang malas mikir) mencerna buku macam ini. Apalagi baca nama penulisnya. Wew!

Lalu buku ini terbit untuk cetakan ke-2 dengan tampilan baru. Warna biru yang mudah sekali menyenangkan mata gue. Kembali ragu untuk membeli, meski rasanya hati ini memanggil-manggil. #tsah

Jakarta sebelum pagi. Sebelum akal orang-orang diisi oleh kekhawatiran akan masa depan.

Emina Nivalis, perempuan yang sehari-harinya diisi dengan kesibukan a la kaum pekerja Jakarta dan hobi menghabiskan akhir pekan di Rumah Para Jompo, rumah orang tua ibunya. Bicaranya sesuka hati dan (sepertinya) memiliki obsesi pada babi. Hidupnya jadi penuh petualangan ketika hari-harinya disambut oleh kemunculan balon perak yang membawa bejana berisi bunga-bunga.

Abel Fergani, a damaged guy. Anak korban perang Aljazair yang semenjak berhasil selamat dari kondisi itu terpaksa hidup yatim piatu dengan haphephobia dan ligyrophobia. Fobia terhadap sentuhan dan suara menjadikannya seringkali menarik diri dari dunia. Balon perak dan bejana bunga-bunga adalah caranya untuk berkomunikasi dengan Emina.

Berawal dari situ Emina dan Abel sama-sama mengenal diri mereka masing-masing melalui penelusuran surat-surat cinta misterius yang membawa mereka berpetualang menyusuri bangunan-bangunan tua dan sejarah kota Jakarta.

Abel dengan fobianya itu memaksa mereka untuk memulai petualangan saat Jakarta belum penuh sesak oleh polusi; baik udara dan suara. Sebelum pagi datang di mana orang-orang pinggiran berbondong-bondong menyerbu ibukota dengan segala kekhawatiran bergantung di pikiran. Justru di saat-saat itulah Abel dan Emina menghabiskan quality time. Saling melawan rasa takut, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hidup mereka.

Ringan, tapi bikin kenyang.

Ibarat makanan, buat gue novel ini tergolong ringan. Tapi penulisnya apik banget buat menaruh selipan-selipan pemikiran ajaib yang bikin pembaca merasa ‘kenyang’. Ada beberapa bagian di mana gue merasa seperti Emina. Absurd, tidak suka berpikir, scatterbrained. Kalau ngomong suka melantur ke mana-mana dan kadang ngga pakai filter. Tidak suka berpikir. Tapi sekalinya memikirkan sesuatu, dia akan melakukannya berlebihan.

Membaca ini, mencoba memahami Emina, membuat gue bertanya-tanya apakah penulisnya pun serandom ini? πŸ˜€

Pertanyaan-pertanyaan soal pilihan hidup, ketakutan akan sesuatu yang belum terjadi, kekhawatiran akan masa depan, juga keinginan untuk dilihat-didengar-ditemukan. Poin-poin ini dibahas di antara jokes garing antara Nissa dan Emina, petuah-petuah Suki gadis kecil berpikiran dewasa, juga obrolan-obrolan serius antara Abel dan Emina.

Lalu novel apa ini? Bisa dibilang ini novel romantis yang agak absurd. Ok, Emina yang absurd. Hahaha. Ngga, tapi Emina dan Abel ini manis sekali. Meski semua tindakan Abel, jika dipikirkan dengan waras, memang sebenarnya freak. Tapi kali ini gue mengangguk-angguk setuju dengan analogi Emina atas hubungannya dengan Abel.

It’s like, datang ke kafe baru. Duduk, buka laptop, dan ternyata langsung tersambung ke internet. In this case, gue laptopnya, dia internetnya, dan di antara kami ada WiFi superkencang.”

Bisa dibilang novel ini menyuarakan kekhawatiran yang tak jarang mampir di pikiran gue. Jadi begitu baca, rasanya ingin peluk Emina. πŸ™‚

Ngomong-ngomong ada beberapa hal yang cukup membekas buat gue:

“Tumbuh dewasa rasanya seperti itu. Waktu masih kecil, semua orang perhatian. Tapi, begitu dewasa, sedikit demi sedikit, kamu hilang dari pandangan. Makanya, orang dewasa pakai makeup, berdandan rapi, pakai baju bagus… Karena kalau nggak, nggak akan ada yang melihat mereka. Penampilan, bagi orang dewasa, itu seperti baju untuk manusia transparan — membuat orang sadar kalau mereka ada. Karena biasanya, di dunia orang dewasa, orang-orang nggak punya cukup perhatian untuk menunggu kamu bicara dan bilang kamu ada.”

Ini buku pertama karya Ziggy yang gue baca dan sukses bikin gue penasaran dengan karya-karya lainnya. Keep up the good work, Z!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s