Laki-Laki yang Menjadikan Kita Pusat Perasaannya

“Aku tahu matamu menatap ke mana.”

Seorang kawan berbisik seraya menyenggol lengan kiriku. Aku tersipu, tertangkap basah. Kali itu kami baru tiba di sebuah sesi diskusi buku, laki-laki yang menjadi objek pandangku menjadi salah satu pembicara di depan. Bukan hal yang sulit untuk mengakui laki-laki itu menarik.

“Sudah ada cincin di jarinya.”

Haha. Kenyataan seolah langsung mengetuk kesadaranku. Tak berselang lama, pandanganku beralih pada sosok perempuan yang duduk di deretan penonton, baris depan kananku. Ah, aku ingat. Perempuan itu istrinya. Mereka pasangan yang cukup dikenal, terutama bagi kalangan pecinta buku ibukota. Aku pun tidak jarang melihatnya berseliweran di dunia media sosial.

Mereka manis sekali. Memiliki hobi yang sama dan keduanya pejalan yang mencintai kata-kata. Anak kekinian bilang mereka salah satu #relationshipgoals.

Kemarin sore aku dan kawanku kembali bertemu dengan mereka, lebih tepatnya berkunjung ke kedai bukunya. Si perempuan berkali-kali merekomendasikan buku dan berbagi sedikit ulasan kepada kami. Berhasil ‘menghipnotis’ kami untuk menguras isi dompet demi membawa oleh-oleh buku dari kedainya.

Di tanganku sudah ada satu buku berjudul “And Every Morning The Way Home Gets Longer and Longer” yang ditulis Fredrik Backman, sampai kemudian “In Other Words” milik Jhumpa Lahiri menangkap pandanganku. Aku pernah melihatnya entah di mana dan (aku yakin) sempat memasukkannya pada daftar buku yang ingin aku beli. Lalu aku bimbang memilih buku yang mana.

“Suka Lahiri ya?”

Seseorang mendekat ke arahku dan sepertinya sadar akan kebimbanganku di depan rak buku. Laki-laki itu! Setengah kikuk, aku jawab.

“Iya.”

Hahaha. Padahal aku tidak tahu dan bahkan belum pernah membaca karya Jhumpa Lahiri.

“Bukunya bagus. Saya suka. Itu sebenarnya ditulis bukan dalam Bahasa Inggris, tapi Italia. Jadi seru deh, saat membacanya bisa sekalian belajar Bahasa Italia.”

Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ah, benar-benar pecinta kata. Lucu sekali ya mereka. Kecintaan mereka terhadap buku-buku terlihat jelas saat mereka membantu para pengunjung memilih buku. Rasanya seperti berbicara dengan kurator.

Dua buku berhasil membobol tabunganku. Merusak rencanaku untuk mengencangkan ikat pinggang dan berusaha irit. Apalagi tumpukan buku-buku yang belum dan sedang dibaca masih ada di kamar. Anehnya, aku senang.

Pagi tadi, aku membuka Instagram dan melihat laki-laki itu mengunggah sebuah video. Tokoh utamanya jelas sang istri. Refleks, aku berlanjut berkunjung ke halaman Instagramnya. Menelusuri beberapa post lama. Manisnya mereka! 🙂

“Lihat post-nya dia di Instagram, jelas sekali ya laki-laki itu sayang banget sama istrinya. Hampir semua post dia, pusatnya adalah perempuan itu.”

Barisan kata-kata muncul di Whatsapp-ku. Seolah bertelepati, kawanku pun menyadari hal yang sama, yang tadi juga terbersit di benakku namun tidak kukatakan.

“Iya. Aku lihat. Aku mau yang seperti itu. Cari di mana ya?”

Percakapan kami pun berlanjut. Kawanku akhirnya menjawab dan jawabannya kembali menyadarkanku.

“Kalau laki-laki tipe seperti itu tidak dicari. Biasanya dia akan mendekat sendiri ke kita karena ketertarikannya yang besar kepada kita.”

Ah, lalu di mana aku bisa menemukannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s