Apakah kami, para jomblo, tidak berhak bahagia?

“Awas loh nanti lama-lama keenakan sendiri terus.”

HAHAHAHA. Seriously, guys?

Yep. Itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang biasanya dilontarkan orang-orang ketika melihat gue terlihat bahagia saat traveling atau sibuk bekerja. Setelah rentetan pertanyaan “Kapan nikah?” atau “Kamu ngga mau nikah?”. Biasanya gue akan tertawa-tawa atau senyum meringis. Karena sebagai seorang introvert, bersendiri adalah suatu kesenangan bagi kami. Sesekali kami, para introvert, memang butuh teman untuk berbagi. Tapi dalam beberapa momen, kami mungkin akan lebih memilih melakukannya sendirian.

Jadi, tentu saja “Lama-lama keenakan sendiri” itu tidak berlaku bagi gue. Karena bagi gue, bersendiri pun bisa jadi menyenangkan.

Kadang merasa miris juga dengan orang-orang yang berpikir bahwa kami, para lajang, tidak boleh terlihat bahagia dengan kesendiriannya karena itu akan membuat asumsi bahwa kami tidak ingin menikah dan orang akan mencoret kita dari daftar pasangan potensial untuk dijadikan calon pendamping. Err!

Ngga bohong kalau kadang-kadang gue bertanya-tanya sendiri, “Jadi, gue ngga boleh kelihatan bahagia kalau gue masih sendiri?” atau “Apakah gue harus terlihat vulnerable, kelihatan desperate butuh pendamping supaya orang-orang bisa tahu kalau gue available untuk didekati?”

“Jangan lupa loh sama umur.”

Bagaimana bisa lupa kalau tiap tahun selalu ada yang berbaik hati dan penuh perhatian mengingatkan ulang tahun kita? Apalagi data yang tersimpan di seluruh akun digital, mereka tak segan-segan menyerbu kita dengan notifikasi atau ucapan “Selamat Ulang Tahun!”.

“Ingat ya kamu itu perempuan.”

*rolling my eyes*

Oh tentu saja. Mana bisa gue lupa kalau gue perempuan dan tiap bulan masih mengalami menstruasi.

Iya, gue ngga lupa bahwa gue perempuan berumur 27 tahun yang harus memikirkan bahwa sebagai perempuan, masa suburnya akan berbatas umur.

Serius teman-teman, gue ngga mungkin menghabiskan waktu gue hanya untuk merenung dan menangisi kelajangan gue.

Tentu saja gue akan lebih memilih pergi ke kota-kota baru yang ingin gue kunjungi, mencoba tempat-tempat hits kekinian yang instagramable, bertemu teman-teman yang akan selalu bikin gue bahagia.

Selagi bisa, selagi mampu dari segi kesehatan, finansial dan waktu. Sebelum kesempatan-kesempatan seperti itu mungkin jadi hal yang amat mewah untuk kalian capai.

Gue cuma mau bilang bahwa gue bahagia sekarang (sendiri ataupun ditemani), gue masih ingin menikah, dan gue tidak lupa dengan umur gue kok. Oh, satu lagi: gue ngga mau menikah hanya untuk ‘menjawab’ komentar atau pertanyaan orang-orang.

Dan kalian, sesama para jomblo, kalian juga berhak bahagia tanpa harus memikirkan bahwa menikah adalah solusi semua permasalahan hidup kalian. 😉

Advertisements

2 thoughts on “Apakah kami, para jomblo, tidak berhak bahagia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s