Payung Teduh, Akad, dan Harapan

DISCLAIMER:

Ditulis karena merasa perlu mengenang Payung Teduh (yang akan bubar ini) di suatu saat di masa depan. Gue nggak ngerti apa-apa soal musik, nggak bisa main alat musik, pun mengenali nada. Gue cuma tahu Mas Is doang di antara anggota-anggota Payung Teduh yang lain. Jadi, ya tulisan ini murni ditulis sebagai memorabilia dan opini pribadi saja.

Kenapa menuliskan ‘Payung Teduh, Akad, dan Harapan Perempuan’ sebagai judul? Tentu saja karena, tidak bisa disangkal, lagu Akad inilah yang semakin meroketkan pamor Payung Teduh. Lagu Akad, lagi-lagi tidak bisa disangkal, mewakili curahan hati dan harapan para lajang yang ingin bersegera melangsungkan akad. Dengan menggunakan bahasa dan musik yang mudah dicerna, Payung Teduh mampu memeluk hampir semua kalangan melalui musiknya.Gue sadar banyak kritik atas lagu ini, mayoritas menyebut lagu ini terlalu pop untuk Payung Teduh. Sebagai penggemar lagu-lagu Payung Teduh, gue cuma merasa lagu Akad ini berbeda. Apalagi ketika mendengarkan seluruh lagu yang ada di album Ruang Tunggu yang baru dirilis akhir-akhir ini, Akad seolah-olah terasa ‘asing’.

Gue mengenal Payung Teduh circa 2014, kayanya zaman gue masih wara-wiri di Soundcloud buat menemukan hidden gems. Itu pun, kalau tidak salah, dari unggahan lagu cover Payung Teduh milik Rahne Putri. Jelas langsung jadi musik favorit karena liriknya yang puitis dan musik folk yang kental (halah, sok ngerti musik!). Nah, ketika Akad rilis, pertama kali mendengarnya jujur gue memang tidak memutar lagu tersebut sampai habis. Tentu, karena memang bukan tipikal musik favorit.

Namun, tiba-tiba hari-hari gue serasa ditemani lagu Akad ini. Di mana saja, kapan saja, melalui medium apa saja; setidaknya 3 kali dalam sehari gue bisa mendengarkan lagu ini. Belum lagi, musisi jalanan yang mangkal di bawah kost memasukkan dalam playlist reguler mereka yang diputar dari siang sampai malam. Lama-lama telinga gue terbiasa, bahkan seringkali tidak sadar menyenandungkan lagu mereka di sela-sela kegiatan. Oh di sini gue mengerti, lagu ini mengandung ‘racun’.

Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku

Bersamaan dengan rilisnya album Ruang Tunggu ini, gue seolah-olah ikut merasa senang dan sedih. Senang karena akhirnya bisa mendengarkan kembali karya-karya Payung Teduh. Sedih karena album ini penanda satu lagi grup favorit saya, setelah Banda Neira, yang bubar. Akan rindu lirik puitis dari merdu suara Mas Is atas nama Payung Teduh. Tak ada harap yang lebih baik, selain semoga bisa tetap dapat mendengar karya-karya baru yang bagus lainnya dari masing-masing anggotanya.

Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa
Namun bila saat berpisah telah tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku

Terima kasih sudah memayungi hari-hari kami dari terik dan hujan, Payung Teduh!

Kita menguap seperti kabut
Kita hanya sebentar
Sejenak adalah usia kita

– Payung Teduh, Kita Hanya Sebentar

Meski hanya sejenak, lagu-lagumu akan selalu seperti rindu yang selalu muda. 🙂

Featured image: linikini.id dengan proses edit penambahan judul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s