[not a Review] Film Wonder dan Kenangan Masa Kecil

Kemarin akhirnya menyempatkan nonton Wonder. SENDIRI! Yak, setelah sekian lama nggak nonton sendiri di bioskop, demi Wonder gue bela-belain nonton sendiri. Bisa dibilang kepengen nonton ini karena terhasut rekomendasi orang-orang di media sosial yang bilang film ini sedih dan menyentuh. Jadi, walaupun sebenarnya sudah diprediksi filmnya akan sedih, gue nggak tahu tuh apakah gue akan serta-merta mewek atau cuma berlinangan air mata kaya gue nonton Coco. Seingat gue, terakhir gue mewek terus-terusan nonton film di bioskop itu pas nonton film Jepang “Her Love Boils Bathwater”. Nah, pas banget kan kemarin itu gue lagi ‘dapet’ tuh. Sebuah kombinasi sempurna, kan? Film sedih + hormon! Telen aja noh aer asin~~

Oke baiklah, gue akan serius dan tentu saja sesuai judulnya, ini bukan review. INI CURHAT! Yang pasti ini film sukses bikin eik mulai meneteskan air mata, bahkan di menit-menit pertama. Persoalan inferioritas, sekolah, keluarga memang selalu bikin emosi gue dibolak-balik. Ada banyak momen dan adegan yang sebenarnya beberapa kali membuat gue mewek (nggak nyampe sesenggukan sih). Yang paling gue ingat justru bagian ketika August “Auggie” Pullman pertama kali masuk sekolah umum setelah sebelumnya selalu homeschooling. Kenapa?Karena 1: gue baru benar-benar sadar kalau hari pertama sekolah itu memang ‘berat’ dan ‘menakutkan’ buat anak kecil.

dan 2: karena itu mengingatkan gue dengan masa kecil gue. 😦

Jujur, sampai sekarang, gue selalu merasa masa kecil gue itu nggak menyenangkan. Terutama bagian gue SD. Ketika orang lain pengen kembali merasakan masa-masa bahagia mereka saat SD, gue mah ogah. Selain karena ‘terlalu biasa’, masa itu kalau diibaratkan dengan warna, warnanya suram, nggak warna-warni kaya memori anak-anak lain. Bukan berarti nggak ada hal bahagianya, gue mengalami juga senang-senangnya kok. Tapi ya… gitu.

Gue teringat hari pertama gue masuk SD itu diantar sama Mbak penjaga gue, yang gue lupa namanya saking seringnya ganti, karena Mama di kantor. Ruangan kelas dengan pencahayaan terbatas dan penuh sesak oleh anak-anak dan pengantarnya yang berkerumun di pintu kelas. Satu meja bisa diisi 2-3 anak, mungkin sekitar 50 anak ada di 1 kelas itu. Ramai dan riuh. Gue datang agak telat, makanya tidak kebagian tempat duduk. Sementara di saat yang sama gue (merasa) nggak punya teman dan anak-anak di situ nggak ada yang menawarkan untuk duduk bersama, padahal gue tahu beberapa wajah familiar karena berasal dari TK yang sama.

Gue merasa mereka tidak bersahabat, entah kenapa. Tentu saja hal ini tidak terkonfirmasi, apakah memang mereka benar-benar tidak bersahabat atau hanya perasaan gue saja. Yang jelas perasaan gue campur aduk; takut, kikuk, malu, deg-degan. Rasanya mau lari saja pulang ke rumah. Dalam ingatan gue yang samar-samar ini, sepertinya gue pulang dengan menangis.

Dulu gue adalah anak yang minderan. Gue nggak pernah bermasalah soal akademis, tapi selalu bermasalah soal bersosialisasi dan kepercayaan diri. Karena satu dan lain hal (urusan fisik), gue selalu merasa jelek dan teman-teman nggak suka gue (karena fisik ini). Kayanya perasaan inferior ini bahkan sudah dimulai dari TK. Gue memang terhitung masih muda saat masuk TK, jadi ketika masuk teman-teman sekelas gue sudah lebih besar dan ‘matang’ (halah!).

Gue ingat punya teman perempuan yang intimidatif banget; dari postur tubuhnya dan juga ekspresi wajah yang tidak bersahabat (versi anak TK: nyeremin!).

Gue selalu berusaha menjauh dari anak ini. Kayanya sih gue (merasa) terintimidasi secara mental oleh dia. Pas TK sih masih nggak masalah ya, bodo amat lah gitu. Ndilalahnya kok ya gue 1 SD sama dia, sekelas pula. Ya takut lah gue, seolah-olah ketemu monster. Padahal nih ya, dia mah nggak ngapa-ngapain gitu. Nggak bully. Cuma kalau urusan baik atau nggak, gue nggak tahu karena interaksi kami juga terbatas. Semakin naik kelas, sebenarnya mental gue semakin kuat. Hanya saja kepercayaan diri gue masih super-super-super rendah.

Nah, gara-gara pas nonton Wonder kemarin itu. Gue ingat hari pertama gue masuk SD yang menyeramkan itu. Mikir kalau gue yang (alhamdulillah) terlahir sehat dan sempurna saja bisa sebegitu takutnya menghadapi hari pertama sekolah, bagaimana anak-anak lain yang seperti Auggie?

Gara-gara itu juga gue sekarang paham kenapa orang tua disarankan untuk mengantar (sendiri) anak-anaknya saat hari pertama sekolah. Serius deh, itu tuh beneran memberi dukungan mental banget. Apalagi pas masuk SD, fase pertama sekolah versi serius mengejar cita-cita lalalala~~

Selain ituuuu… cari tahu dan pertimbangkan usia anak untuk masuk sekolah. Ini pasti ngaruh banget ke kesiapan mentalnya. Bukan cuma karena si anak dirasa sudah bisa ini itu, sudah pintar calistung, terus ya sudah disekolahin.

Pokoknya kalau gue punya anak, gue harus menyempatkan diri mengantar dia di hari pertamanya masuk sekolah. Kalau dia menangis, asal nggak tantrum, gue mau peluk dia yang lama dan bilang “It’s okay, baby, I’m here.”. Ketika pulang sekolah, gue akan bilang “Hey, you’re doing great. I’m proud of you!”.

 

photo credit: wonder.movie
Advertisements

2 thoughts on “[not a Review] Film Wonder dan Kenangan Masa Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s