struggling, but surviving

“Acting fine is a cognitive process.” – Karen Lowinger

I’ve hit rock bottom. Jatuh, sejatuh-jatuhnya. Menangis sampai tertidur justru menjadi ‘obat tidur’ saya. Bangun di tengah lelapnya tidur karena merasa sesak pun bukan hal aneh yang terjadi hari-hari terakhir. Keadaan yang sampai membuat saya sangat negatif dalam segala hal. Hal itu pula yang membuat saya memutuskan untuk detoks dari beberapa media sosial.

Mengalami kesedihan saat usia sudah dikatakan dewasa, mungkin membuat saya (berusaha) mampu untuk menghadapinya sendiri. Setidaknya tidak ada penyangkalan. Saya menerima dan mencoba melaluinya.

Ketika kamu tetap harus melalui hari-harimu, karena tentu saja dunia tidak berhenti berputar hanya karena kamu bersedih, kamu akan memasang topeng itu. Topeng baik-baik saja. Everything is okay. Sekali lagi bukan untuk menyangkal kesedihan, tapi semata-mata kesadaran diri bahwa kamu tetap ingin dan harus menyelesaikan kewajibanmu.

Saya bisa bertahan tentunya karena kesadaran tersebut dan teman-teman yang membantu saya. Selain menulis, bercerita kepada orang-orang terdekat adalah sebuah katarsis bagi saya saat ini. Ada yang selalu memastikan bahwa saya makan, tidur dengan baik juga tidak melakukan hal yang melukai diri. Ada pula yang menyediakan waktunya untuk mendengarkan saya.

Mengalami ini membuat saya tersadar bahwa ketika seseorang mengalami masalah emosional sampai membuatnya depresi, tak ada yang tahu seberapa ‘buntu’nya pikiran mereka. Jutaan kata motivasi, nasihat, reminder, bisa saja tidak akan mampu membantu penderitanya keluar dari pikiran negatif mereka. Tak jarang mungkin akan merasa bahwa mereka yang paling menderita di dunia ini. Mereka merasa bahwa diri mereka tidak berharga, gagal, dan tidak memiliki harapan.

Iya, senegatif itu. Tapi tak selamanya mereka akan seperti itu, jelas dunia menuntut mereka untuk tidak berlama-lama tenggelam dalam kesedihan. Dunia tak akan peduli apakah kamu memerlukan waktu yang lebih lama untuk menerima keadaan atau tidak. Dunia tidak punya cukup perhatian untuk tahu bahwa memeluk, menerima, dan kemudian melepaskan kesedihan adalah sebuah proses yang memakan waktu berbeda-beda di tiap orang.

 

 

Advertisements

One thought on “struggling, but surviving

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s