Love for Sale, Berteman dengan Kesendirian, dan Memeluk Kesepian

Gue menonton film Love for Sale awalnya karena gembar-gembor di dunia maya soal film ini. Sudah jarang kan gue nonton film cinta Indonesia. Dengan topik menghadapi kesendirian dan kesepian di usia yang tak lagi muda serta social pressure yang makin kejam, jelas sebagai jomlo lama (patokannya dari hubungan berstatus jelas yang terakhir yha~) gue merasa film ini akan relate dengan apa yang gue rasakan. Malah gue khawatir abis nonton bakalan baper terus mupeng punya pasangan. Alhamdulillah, diri yang telah dewasa ini tak mudah terpengaruh dengan godaan macam itu (ahelah!).

Secara keseluruhan, gue suka. Salah satu film yang masuk kategori “Nggak nyesel keluar duit buat nonton di bioskop”. Tapi untuk dikatakan luar biasa dan memberi kesan mendalam, jujur harus gue katakan film ini belum sampai tahap itu.

Khusus untuk Gading Marten, gue mengiyakan apa yang orang-orang ramai bicarakan, dia berhasil keluar dari comfort zone-nya. Menjadi Richard yang slebor, cranky, galak, pathetic, dan segala label yang biasa diberikan pada bujang lapuk. Saat menonton, gue melupakan sosok Gading Marten yang biasa berseliweran sebagai host berbagai acara di TV nasional; bahkan sebagai Papanya Gempi XD.

Sedangkan Mbak Della Dartyan sebagai Arini patut diakui terlalu lovable untuk gue bisa mengomentari beberapa adegan yang sebenarnya dirasa kaku. Sungguh sosok Arini itu memang too good to be true. Rasa-rasanya 9 dari 10 laki-laki kalau ditanya bakal bilang Arini itu tipe impian laki-laki masa kini. Gue yang perempuan saja mengakui semua yang ada pada diri Arini itu mendekati sempurna. Wajah cantik, bodi OK, ngerti bola, perhatian sama pasangan dan circle-nya (dari teman-teman, karyawan, sampai ke kura-kura peliharaan Richard), bisa masak, update dengan info-info terbaru, dan tentunya nyambung diajak ngobrol. Dengan perbedaan umur yang cukup jauh (Arini 24 tahun dan Richard 41 tahun), bisa nyambung ketika ngobrol pasti hal yang signifikan.

Jokes Richard dan orang-orang di sekelilingnya pun terasa ngalir dan nggak kerasa dibuat-buat. Interaksi tokoh-tokohnya pun terasa ‘dekat’ dengan yang biasa kita temui sehari-hari di ibukota. Tempo Love for Sale yang kata orang-orang lambat, gue justru nggak merasa gitu. Mungkin karena semua adegan memang dibuat untuk membangun suasana dan chemistry agar tidak berkesan buru-buru. Ending yang dibuat multitafsir sepertinya memang sengaja dibuat supaya memberi kebebasan penonton berpikir dan menentukan pilihan. Love for Sale seolah memberi pesan kalau soal perasaan lebih baik hati-hati, tidak terburu-buru, dan masalah menentukan pilihan kembali ke masing-masing orang.

Namun, agak melenceng dari ekspektasi gue yang mengira bakal baper saat menonton Love for Sale, ternyata gue nggak begitu merasa relate dengan kesepian yang dirasakan Richard. Entah karena jenis kelamin, umur, atau kebiasaan. Gue bertanya-tanya kenapa laki-laki di umur 41 tahun dengan kondisi finansial terlihat sudah lumayan mapan, Richard digambarkan sebagai tokoh yang tidak pernah ke mana-mana. Seperti keluhan Richard soal tempat nobar yang selalu di kawasan Jakarta Selatan atau kebiasaannya nyasar di Jakarta. Apakah itu salah satu cara penggambaran bahwa tokoh Richard di Love for Sale ini terkungkung di satu tempat, di satu waktu atau keengganan Richard untuk beranjak dari masa lalu?

Gue mah anaknya jelek kalau membaca yang tersirat macam gitu. Nah itu tuh yang bikin gue merasa nggak bisa empati dengan kesepian yang Richard alami. Atau hati gue ini sudah tak peka lagi? :””””) Gue mikir harusnya Richard bisa jalan ke mana kek sembari ngapalin jalan, traveling ke luar kota kek, atau apa kek yang bisa dilakukan sendiri, nggak harus bareng-bareng teman, ya kan?

Di situ lah gue merasa ngeh akan sesuatu. Gue pun mengangguk-angguk setuju ketika Mbak Windy -salah satu penulis favorit- menyampaikan opininya.

Tidak semua orang bisa berteman dengan kesendirian dan memeluk kesepian. Sendiri bukan melulu persoalan menyedihkan. Sendiri bisa jadi privilege bagi sebagian orang. Alih-alih mempermasalahkan kesendirian, lebih baik memanfaatkan privilege itu. Ada banyak hal yang bisa dilakukan lho tanpa harus bersama teman-teman. Sebelum itu, satu hal penting: berdamailah dengan diri sendiri dan keadaan. Sendiri bukan hal yang perlu ditutupi. Sebagai makhluk sosial, merasakan kesepian itu normal. Ingin mencintai dan dicintai pun manusiawi. Tak usah terburu-buru move on, semua ada waktunya. Take your time. Tak apa-apa. Kata Payung Teduh, “… semua rasa bisa kita cipta.”

Pada intinya, dalam hidup, kalau kita diam saja atau nggak berubah, ya you juga jangan berharap bertemu hal baru, orang baru, atau hidup you berubah seketika. Gitu.

*ditulis sebagai sebuah pengingat pada diri sendiri*

PHOTO: YOUTUBE VISINEMA
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s