struggling, but surviving

“Acting fine is a cognitive process.” – Karen Lowinger

I’ve hit rock bottom. Jatuh, sejatuh-jatuhnya. Menangis sampai tertidur justru menjadi ‘obat tidur’ saya. Bangun di tengah lelapnya tidur karena merasa sesak pun bukan hal aneh yang terjadi hari-hari terakhir. Keadaan yang sampai membuat saya sangat negatif dalam segala hal. Hal itu pula yang membuat saya memutuskan untuk detoks dari beberapa media sosial.

Mengalami kesedihan saat usia sudah dikatakan dewasa, mungkin membuat saya (berusaha) mampu untuk menghadapinya sendiri. Setidaknya tidak ada penyangkalan. Saya menerima dan mencoba melaluinya.

Ketika kamu tetap harus melalui hari-harimu, karena tentu saja dunia tidak berhenti berputar hanya karena kamu bersedih, kamu akan memasang topeng itu. Topeng baik-baik saja. Everything is okay. Sekali lagi bukan untuk menyangkal kesedihan, tapi semata-mata kesadaran diri bahwa kamu tetap ingin dan harus menyelesaikan kewajibanmu. Continue reading

Advertisements

Hidup ini kadang lucu ya. Di saat orang-orang lain mengawali tahun baru mereka dengan resolusi dan optimisme, saya (terpaksa) harus mengalami kesedihan yang teramat dalam. 2018 menyambut saya dengan duri-duri tajam, membuat hari-hari terakhir ini rasanya penuh sesak.

Di akhir tangis, lalu saya menertawai diri sendiri. Mau apa kamu kalau di awal begini saja sudah hancur lebur?

Saya tak menyangka akan sepatah ini jadinya. Sampai benar-benar terjadi. Sampai saya akhirnya merasakan kembali menangis sampai tertidur. Sampai saya benar-benar merasa sesak yang sakit, sungguh sakit. Iya, saya tiba-tiba terbangun karena merasa amat sesak. Merasa jatuh terpuruk, sendirian, dan gelap.

Berjelaga

ada lubang di tubuhku. lubang yang dicipta sendiri.

menganga, mengisap semua bahagia. yang tinggal hanya sesak.

serta rindu.

 

ah ya, rindu.

pada satu orang yang kini membuat hidup semakin berjelaga.

 

ingin rasanya lari lalu tenggelam. mungkin di samudra?

agar aku lupa.

[not a Review] Film Wonder dan Kenangan Masa Kecil

Kemarin akhirnya menyempatkan nonton Wonder. SENDIRI! Yak, setelah sekian lama nggak nonton sendiri di bioskop, demi Wonder gue bela-belain nonton sendiri. Bisa dibilang kepengen nonton ini karena terhasut rekomendasi orang-orang di media sosial yang bilang film ini sedih dan menyentuh. Jadi, walaupun sebenarnya sudah diprediksi filmnya akan sedih, gue nggak tahu tuh apakah gue akan serta-merta mewek atau cuma berlinangan air mata kaya gue nonton Coco. Seingat gue, terakhir gue mewek terus-terusan nonton film di bioskop itu pas nonton film Jepang “Her Love Boils Bathwater”. Nah, pas banget kan kemarin itu gue lagi ‘dapet’ tuh. Sebuah kombinasi sempurna, kan? Film sedih + hormon! Telen aja noh aer asin~~

Oke baiklah, gue akan serius dan tentu saja sesuai judulnya, ini bukan review. INI CURHAT! Yang pasti ini film sukses bikin eik mulai meneteskan air mata, bahkan di menit-menit pertama. Persoalan inferioritas, sekolah, keluarga memang selalu bikin emosi gue dibolak-balik. Ada banyak momen dan adegan yang sebenarnya beberapa kali membuat gue mewek (nggak nyampe sesenggukan sih). Yang paling gue ingat justru bagian ketika August “Auggie” Pullman pertama kali masuk sekolah umum setelah sebelumnya selalu homeschooling. Kenapa? Continue reading

Payung Teduh, Akad, dan Harapan

DISCLAIMER:

Ditulis karena merasa perlu mengenang Payung Teduh (yang akan bubar ini) di suatu saat di masa depan. Gue nggak ngerti apa-apa soal musik, nggak bisa main alat musik, pun mengenali nada. Gue cuma tahu Mas Is doang di antara anggota-anggota Payung Teduh yang lain. Jadi, ya tulisan ini murni ditulis sebagai memorabilia dan opini pribadi saja.

Kenapa menuliskan ‘Payung Teduh, Akad, dan Harapan Perempuan’ sebagai judul? Tentu saja karena, tidak bisa disangkal, lagu Akad inilah yang semakin meroketkan pamor Payung Teduh. Lagu Akad, lagi-lagi tidak bisa disangkal, mewakili curahan hati dan harapan para lajang yang ingin bersegera melangsungkan akad. Dengan menggunakan bahasa dan musik yang mudah dicerna, Payung Teduh mampu memeluk hampir semua kalangan melalui musiknya. Continue reading

itu tadi pagi, entah sore nanti.

pagi tadi seolah-olah saya ingin berhenti. bukan, bukan soal pekerjaan tentunya. tapi soal si A, si B, dan si C. hahaha. (sok) banyak ya. saya pikir memiliki lebih dari satu pilihan adalah sebuah keuntungan, nyatanya tidak. tidak, kalau pilihan-pilihan itu tidak jua memberi tanda. hahaha.

pagi tadi seolah-olah saya ingin terus tertawa, pada diri sendiri. membodoh-bodohi diri memang hal paling mudah. seru rasanya sekali-kali mengakui salah sendiri. asal jangan lalai memeluk dan memaafkan diri.

pagi tadi seolah-olah saya mati rasa. si A, si B, dan si C; yang awalnya (sebut saja beberapa hari lalu) masih membuat saya tersenyum-senyum sendiri, menjadi seperti tidak ada artinya.

pagi tadi seolah-olah tekad sudah membulat. sampai sini saja. saya kehabisan amunisi, bahan bakar, entah apa namanya. untuk menyambut rasa-rasa itu. penasaran, rindu, kesal, kecewa.

itu tadi pagi, entah sore nanti.