#darimasalalu

“Diam-diam, kini perasaanku dengan lancangnya merindukanmu. Padahal aku belum izinkan kau masuk.”

Gue nggak bisa tidur dan otak gue penuh serasa ingin dimuntahkan. Membuka drafts yang menumpuk di blog, ternyata menemukan dua kalimat di atas. Tertulis “5 years ago”. Nyebelinnya, gue masih ingat siapa objek tulisan ini dan bagaimana rasanya. Seingat gue, tulisan ini pernah gue publish, tapi gue redraft karena ketahuan orangnya. Simply, karena gue keki ketahuan. Bodoh ya?

Ah, tidak apa-apa. Karena bodoh, kita bisa belajar banyak hal. Asalkan mau. Ya kan?

Sudah 5 tahun. Berlalu. Ternyata ada rasa aneh yang belum benar-benar pulih.

Advertisements

Apakah kami, para jomblo, tidak berhak bahagia?

“Awas loh nanti lama-lama keenakan sendiri terus.”

HAHAHAHA. Seriously, guys?

Yep. Itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang biasanya dilontarkan orang-orang ketika melihat gue terlihat bahagia saat traveling atau sibuk bekerja. Setelah rentetan pertanyaan “Kapan nikah?” atau “Kamu ngga mau nikah?”. Biasanya gue akan tertawa-tawa atau senyum meringis. Karena sebagai seorang introvert, bersendiri adalah suatu kesenangan bagi kami. Sesekali kami, para introvert, memang butuh teman untuk berbagi. Tapi dalam beberapa momen, kami mungkin akan lebih memilih melakukannya sendirian.

Jadi, tentu saja “Lama-lama keenakan sendiri” itu tidak berlaku bagi gue. Karena bagi gue, bersendiri pun bisa jadi menyenangkan.

Kadang merasa miris juga dengan orang-orang yang berpikir bahwa kami, para lajang, tidak boleh terlihat bahagia dengan kesendiriannya karena itu akan membuat asumsi bahwa kami tidak ingin menikah dan orang akan mencoret kita dari daftar pasangan potensial untuk dijadikan calon pendamping. Err!

Ngga bohong kalau kadang-kadang gue bertanya-tanya sendiri, “Jadi, gue ngga boleh kelihatan bahagia kalau gue masih sendiri?” atau “Apakah gue harus terlihat vulnerable, kelihatan desperate butuh pendamping supaya orang-orang bisa tahu kalau gue available untuk didekati?” Continue reading

Laki-Laki yang Menjadikan Kita Pusat Perasaannya

“Aku tahu matamu menatap ke mana.”

Seorang kawan berbisik seraya menyenggol lengan kiriku. Aku tersipu, tertangkap basah. Kali itu kami baru tiba di sebuah sesi diskusi buku, laki-laki yang menjadi objek pandangku menjadi salah satu pembicara di depan. Bukan hal yang sulit untuk mengakui laki-laki itu menarik.

“Sudah ada cincin di jarinya.”

Haha. Kenyataan seolah langsung mengetuk kesadaranku. Tak berselang lama, pandanganku beralih pada sosok perempuan yang duduk di deretan penonton, baris depan kananku. Ah, aku ingat. Perempuan itu istrinya. Mereka pasangan yang cukup dikenal, terutama bagi kalangan pecinta buku ibukota. Aku pun tidak jarang melihatnya berseliweran di dunia media sosial.

Mereka manis sekali. Memiliki hobi yang sama dan keduanya pejalan yang mencintai kata-kata. Anak kekinian bilang mereka salah satu #relationshipgoals.

Kemarin sore aku dan kawanku kembali bertemu dengan mereka, lebih tepatnya berkunjung ke kedai bukunya. Si perempuan berkali-kali merekomendasikan buku dan berbagi sedikit ulasan kepada kami. Berhasil ‘menghipnotis’ kami untuk menguras isi dompet demi membawa oleh-oleh buku dari kedainya.

Di tanganku sudah ada satu buku berjudul “And Every Morning The Way Home Gets Longer and Longer” yang ditulis Fredrik Backman, sampai kemudian “In Other Words” milik Jhumpa Lahiri menangkap pandanganku. Aku pernah melihatnya entah di mana dan (aku yakin) sempat memasukkannya pada daftar buku yang ingin aku beli. Lalu aku bimbang memilih buku yang mana.

“Suka Lahiri ya?”

Seseorang mendekat ke arahku dan sepertinya sadar akan kebimbanganku di depan rak buku. Laki-laki itu! Setengah kikuk, aku jawab.

“Iya.”

Hahaha. Padahal aku tidak tahu dan bahkan belum pernah membaca karya Jhumpa Lahiri.

“Bukunya bagus. Saya suka. Itu sebenarnya ditulis bukan dalam Bahasa Inggris, tapi Italia. Jadi seru deh, saat membacanya bisa sekalian belajar Bahasa Italia.”

Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ah, benar-benar pecinta kata. Lucu sekali ya mereka. Kecintaan mereka terhadap buku-buku terlihat jelas saat mereka membantu para pengunjung memilih buku. Rasanya seperti berbicara dengan kurator.

Dua buku berhasil membobol tabunganku. Merusak rencanaku untuk mengencangkan ikat pinggang dan berusaha irit. Apalagi tumpukan buku-buku yang belum dan sedang dibaca masih ada di kamar. Anehnya, aku senang.

Pagi tadi, aku membuka Instagram dan melihat laki-laki itu mengunggah sebuah video. Tokoh utamanya jelas sang istri. Refleks, aku berlanjut berkunjung ke halaman Instagramnya. Menelusuri beberapa post lama. Manisnya mereka! 🙂

“Lihat post-nya dia di Instagram, jelas sekali ya laki-laki itu sayang banget sama istrinya. Hampir semua post dia, pusatnya adalah perempuan itu.”

Barisan kata-kata muncul di Whatsapp-ku. Seolah bertelepati, kawanku pun menyadari hal yang sama, yang tadi juga terbersit di benakku namun tidak kukatakan.

“Iya. Aku lihat. Aku mau yang seperti itu. Cari di mana ya?”

Percakapan kami pun berlanjut. Kawanku akhirnya menjawab dan jawabannya kembali menyadarkanku.

“Kalau laki-laki tipe seperti itu tidak dicari. Biasanya dia akan mendekat sendiri ke kita karena ketertarikannya yang besar kepada kita.”

Ah, lalu di mana aku bisa menemukannya?

Selamat Berbahagia :)

Tuhan Maha Adil. Saya tak pernah meragukan itu.

Kemarin saya tak sengaja melihat update seseorang dari masa lalu di Instagram. Sebuah fotonya sedang menimang bayi perempuan menggemaskan. Indah dan menyenangkan. Agak sulit dijelaskan bahwa melihatnya saja saya berbahagia. Kali ini benar-benar ikut berbahagia.

Ketika doa tulus disampaikan agar dia menemukan perempuan yang lebih baik dari saya dan hidup bahagia terkabulkan, sungguh ini melegakan.

Tapi tak disadari saya kemudian berpikir,

“Ah, beruntungnya. Syukurlah, kalau dengan saya mungkin Mas A tidak akan sebahagia ini.”

Terlepas dari jodoh tidak akan tertukar, saya semakin yakin saya sudah mengambil keputusan yang tepat.

Selamat berbahagia, Mas. Mohon doakan saya 🙂

Ada (si)Apa sih di Depok?

Pertanyaan tersebut kembali muncul ketika Masbos dan Mbakbos ‘memaksa’ gue untuk pindah kost ke dekat kantor yang gue respon dengan 1001 alasan. Sebenarnya sudah ngga asing dengan pertanyaan itu, terutama setelah gue lulus kuliah, yang berarti hilang sudah alasan gue tinggal di Depok. Apalagi ketika tempat kerja gue justru di Jakarta yang meski tidak jauh, tapi perjuangan menjadi commuter itu luar biasa. Luar biasa melelahkan, tapi nyatanya masih terhitung bearable.

Depok adalah tempat di mana teman-teman terdekat gue berada. Yang siap menampung semua lelah dan sampah gue. Yang selalu mengusahakan untuk ada di setiap gue butuhkan. Bertemu mereka itu serupa rasanya ketika menemukan keluarga yang menyambutmu ketika ‘pulang’.

Sejak menginjakkan kaki di Depok, kost yang saat ini gue tinggali adalah kost ke-3. Kost serba ada karena selain kamar-kamar kost, dalam 1 bangunan ini ada warnet, toko kelontong, fotocopy-an, tempat penitipan sepeda motor, dan warung bakso. Kamar kost yang masih di bawah 1 juta plus koneksi internet LAN unlimited dan super cepat, stasiun kereta yang persis depan kost, itu jelas LANGKA. Belum lagi aneka jajanan dan tempat makan yang tinggal ngesot doang, dijamin bikin lapar mata.

Suntuk di kost? Bisa jalan kaki beberapa ratus meter ke Gramedia, Margo City, atau Detos. Mau coba hangout? Kafe-kafe gaul juga mulai bermunculan di pinggiran Margonda.

Kangen suasana kampus, punya niat mulia untuk olahraga rutin, atau sekadar cuci mata lihat dedek-dedek gemes? Ah, tinggal jalan atau jogging saja di UI.

Delapan tahun gue di Depok. Kota ini jadi saksi bisu seorang anak daerah yang cenderung anti sosial, polos, dan ngga ngerti apa-apa dituntut untuk jadi anak serba bisa dan mandiri. Tanpa gue sadari, Depok sudah menjadi rumah kedua. Sejak gue bekerja, definisi pulang adalah pulang ke Depok.

Ada apa sih di Depok? Ada siapa?

Orang-orang hampir selalu memberikan respon yang sama ketika gue sebutkan tempat gue bekerja dan di mana gue tinggal. Sulit menjelaskan rasa familiar dan nyaman yang tak terdefinisikan. Ada sisa-sisa kenangan yang belum mau gue tinggalkan. Ada hal-hal abstrak yang menahan gue di sini, di kota ini.

Lalu gue sadar. Bukan hal-hal yang ada di Depok yang menahan gue untuk tetap di sini, tapi kegelisahan-kegelisahan gue. Gue takut di tempat lain, gue ngga akan menemukan rasa ‘pulang’ itu.

Mungkin justru inilah pertanda gue harus segera beranjak. Meninggalkan zona nyaman.

*dalam upaya menyiapkan hati dan mental untuk meninggalkan Depok*

Happy Birthday, G!

Hahaha, ulang tahun udah lewat kapan tahu, tapi baru update sekarang. Pas di penghujung November pula! 😀

Menuju usia ke-27 sebenarnya agak-agak bagaimana gitu ya. Pas menunggu November datang itu malah bawaannya sedikit deg-degan. Penasaran, apa ya rasanya umur 27, apa ya yang bakal hidup suguhkan ke gue selanjutnya. Hal-hal seperti itulah…

Yang pasti semakin ke sini, momen bertambahnya usia jadi makin ‘biasa’. Sedikit lebih hingar-bingar dari tahun lalu, perayaan ulang tahun gue diramaikan oleh teman-teman kantor yang kini semakin banyak.

Alhamdulillah!

Apalagi dapat ‘hadiah’ jalan-jalan ke Ubud meski harus berupa annual meeting kantor. Bersyukur masih bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang baik di sekeliling gue. Terima kasih.

Doanya masih sama. Tuhan Maha Tahu. Tuhan Maha Mendengar. Aamiin 🙂

Aside

(belum) menikah

“Gue sedih kalau kita kumpul full nanti Gita jomblo sendiri. Gue aja udah mau punya buntut 2.”

Kira-kira begitulah balasan seorang teman di sebuah Whatsapp Group ketika teman-teman lain mengajak kami bertemu (setelah sekian lama). Kebetulan hari itu salah seorang dari kami melepas masa lajang dan gue pun resmi menjadi satu-satunya single di grup tersebut.

Yes, somewhat rude and insensitive.

Untunglah kali itu mulut gue lagi kalem. Untungnya pula gue baca beberapa jam kemudian ketika teman-teman yang lain sudah melakukan ‘toyor virtual’ (iki opo?) ke pelaku. Setidaknya gue masih bisa behave untuk jaga mulut awak. Alih-alih mengeluarkan kata-kata tak senonoh, gue jawab…

“Insya Allah sudah ada waktunya, haha. Santai aja lah.”

Mencoba tertawa, padahal hati teriris-iris dan emosi membara. Hahaha, ngga deng. Tapi celotehan teman tersebut cukup membuat gue berpikir keras dan gatal buat membalas dengan komentar yang lebih pedas. Bisa aja gue balas,

“Gue udah jalan ke kota ini, kota itu. Lo masih di situ aja. Di rumah, sibuk sama suami dan ngurusin anak.”

Tapi akhirnya gue tahan.

Apakah dengan menikah dan punya anak menjadikan seseorang jadi lebih bahagia dibandingkan orang-orang yang masih sendiri? Continue reading