Hidup ini kadang lucu ya. Di saat orang-orang lain mengawali tahun baru mereka dengan resolusi dan optimisme, saya (terpaksa) harus mengalami kesedihan yang teramat dalam. 2018 menyambut saya dengan duri-duri tajam, membuat hari-hari terakhir ini rasanya penuh sesak.

Di akhir tangis, lalu saya menertawai diri sendiri. Mau apa kamu kalau di awal begini saja sudah hancur lebur?

Saya tak menyangka akan sepatah ini jadinya. Sampai benar-benar terjadi. Sampai saya akhirnya merasakan kembali menangis sampai tertidur. Sampai saya benar-benar merasa sesak yang sakit, sungguh sakit. Iya, saya tiba-tiba terbangun karena merasa amat sesak. Merasa jatuh terpuruk, sendirian, dan gelap.

Advertisements

[not a Review] Film Wonder dan Kenangan Masa Kecil

Kemarin akhirnya menyempatkan nonton Wonder. SENDIRI! Yak, setelah sekian lama nggak nonton sendiri di bioskop, demi Wonder gue bela-belain nonton sendiri. Bisa dibilang kepengen nonton ini karena terhasut rekomendasi orang-orang di media sosial yang bilang film ini sedih dan menyentuh. Jadi, walaupun sebenarnya sudah diprediksi filmnya akan sedih, gue nggak tahu tuh apakah gue akan serta-merta mewek atau cuma berlinangan air mata kaya gue nonton Coco. Seingat gue, terakhir gue mewek terus-terusan nonton film di bioskop itu pas nonton film Jepang “Her Love Boils Bathwater”. Nah, pas banget kan kemarin itu gue lagi ‘dapet’ tuh. Sebuah kombinasi sempurna, kan? Film sedih + hormon! Telen aja noh aer asin~~

Oke baiklah, gue akan serius dan tentu saja sesuai judulnya, ini bukan review. INI CURHAT! Yang pasti ini film sukses bikin eik mulai meneteskan air mata, bahkan di menit-menit pertama. Persoalan inferioritas, sekolah, keluarga memang selalu bikin emosi gue dibolak-balik. Ada banyak momen dan adegan yang sebenarnya beberapa kali membuat gue mewek (nggak nyampe sesenggukan sih). Yang paling gue ingat justru bagian ketika August “Auggie” Pullman pertama kali masuk sekolah umum setelah sebelumnya selalu homeschooling. Kenapa? Continue reading

itu tadi pagi, entah sore nanti.

pagi tadi seolah-olah saya ingin berhenti. bukan, bukan soal pekerjaan tentunya. tapi soal si A, si B, dan si C. hahaha. (sok) banyak ya. saya pikir memiliki lebih dari satu pilihan adalah sebuah keuntungan, nyatanya tidak. tidak, kalau pilihan-pilihan itu tidak jua memberi tanda. hahaha.

pagi tadi seolah-olah saya ingin terus tertawa, pada diri sendiri. membodoh-bodohi diri memang hal paling mudah. seru rasanya sekali-kali mengakui salah sendiri. asal jangan lalai memeluk dan memaafkan diri.

pagi tadi seolah-olah saya mati rasa. si A, si B, dan si C; yang awalnya (sebut saja beberapa hari lalu) masih membuat saya tersenyum-senyum sendiri, menjadi seperti tidak ada artinya.

pagi tadi seolah-olah tekad sudah membulat. sampai sini saja. saya kehabisan amunisi, bahan bakar, entah apa namanya. untuk menyambut rasa-rasa itu. penasaran, rindu, kesal, kecewa.

itu tadi pagi, entah sore nanti.

 

Sebuah Pesan Sponsor

Beberapa waktu lalu mencoba menuliskan curhatan kejadian beberapa bulan lalu yang lumayan membuat gue kepikiran. Akhirnya berani menuliskannya di Kamantara.id, “Bersendiri: Bagaimana Jika Statusmu Menjadi Beban bagi Orangtuamu?“.

Kenapa memilih menuliskan di platform publik? Well, (mungkin) karena sebagian diri gue pengen cerita gue dibaca orang dan gue ‘mencari teman’. Karena gue yakin, nggak cuma gue yang merasakan ini.

Jika punya waktu senggang, sila dibaca ya! 🙂

 

#darimasalalu

“Diam-diam, kini perasaanku dengan lancangnya merindukanmu. Padahal aku belum izinkan kau masuk.”

Gue nggak bisa tidur dan otak gue penuh serasa ingin dimuntahkan. Membuka drafts yang menumpuk di blog, ternyata menemukan dua kalimat di atas. Tertulis “5 years ago”. Nyebelinnya, gue masih ingat siapa objek tulisan ini dan bagaimana rasanya. Seingat gue, tulisan ini pernah gue publish, tapi gue redraft karena ketahuan orangnya. Simply, karena gue keki ketahuan. Bodoh ya?

Ah, tidak apa-apa. Karena bodoh, kita bisa belajar banyak hal. Asalkan mau. Ya kan?

Sudah 5 tahun. Berlalu. Ternyata ada rasa aneh yang belum benar-benar pulih.

Apakah kami, para jomblo, tidak berhak bahagia?

“Awas loh nanti lama-lama keenakan sendiri terus.”

HAHAHAHA. Seriously, guys?

Yep. Itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang biasanya dilontarkan orang-orang ketika melihat gue terlihat bahagia saat traveling atau sibuk bekerja. Setelah rentetan pertanyaan “Kapan nikah?” atau “Kamu ngga mau nikah?”. Biasanya gue akan tertawa-tawa atau senyum meringis. Karena sebagai seorang introvert, bersendiri adalah suatu kesenangan bagi kami. Sesekali kami, para introvert, memang butuh teman untuk berbagi. Tapi dalam beberapa momen, kami mungkin akan lebih memilih melakukannya sendirian.

Jadi, tentu saja “Lama-lama keenakan sendiri” itu tidak berlaku bagi gue. Karena bagi gue, bersendiri pun bisa jadi menyenangkan.

Kadang merasa miris juga dengan orang-orang yang berpikir bahwa kami, para lajang, tidak boleh terlihat bahagia dengan kesendiriannya karena itu akan membuat asumsi bahwa kami tidak ingin menikah dan orang akan mencoret kita dari daftar pasangan potensial untuk dijadikan calon pendamping. Err!

Ngga bohong kalau kadang-kadang gue bertanya-tanya sendiri, “Jadi, gue ngga boleh kelihatan bahagia kalau gue masih sendiri?” atau “Apakah gue harus terlihat vulnerable, kelihatan desperate butuh pendamping supaya orang-orang bisa tahu kalau gue available untuk didekati?” Continue reading

Laki-Laki yang Menjadikan Kita Pusat Perasaannya

“Aku tahu matamu menatap ke mana.”

Seorang kawan berbisik seraya menyenggol lengan kiriku. Aku tersipu, tertangkap basah. Kali itu kami baru tiba di sebuah sesi diskusi buku, laki-laki yang menjadi objek pandangku menjadi salah satu pembicara di depan. Bukan hal yang sulit untuk mengakui laki-laki itu menarik.

“Sudah ada cincin di jarinya.”

Haha. Kenyataan seolah langsung mengetuk kesadaranku. Tak berselang lama, pandanganku beralih pada sosok perempuan yang duduk di deretan penonton, baris depan kananku. Ah, aku ingat. Perempuan itu istrinya. Mereka pasangan yang cukup dikenal, terutama bagi kalangan pecinta buku ibukota. Aku pun tidak jarang melihatnya berseliweran di dunia media sosial.

Mereka manis sekali. Memiliki hobi yang sama dan keduanya pejalan yang mencintai kata-kata. Anak kekinian bilang mereka salah satu #relationshipgoals.

Kemarin sore aku dan kawanku kembali bertemu dengan mereka, lebih tepatnya berkunjung ke kedai bukunya. Si perempuan berkali-kali merekomendasikan buku dan berbagi sedikit ulasan kepada kami. Berhasil ‘menghipnotis’ kami untuk menguras isi dompet demi membawa oleh-oleh buku dari kedainya.

Di tanganku sudah ada satu buku berjudul “And Every Morning The Way Home Gets Longer and Longer” yang ditulis Fredrik Backman, sampai kemudian “In Other Words” milik Jhumpa Lahiri menangkap pandanganku. Aku pernah melihatnya entah di mana dan (aku yakin) sempat memasukkannya pada daftar buku yang ingin aku beli. Lalu aku bimbang memilih buku yang mana.

“Suka Lahiri ya?”

Seseorang mendekat ke arahku dan sepertinya sadar akan kebimbanganku di depan rak buku. Laki-laki itu! Setengah kikuk, aku jawab.

“Iya.”

Hahaha. Padahal aku tidak tahu dan bahkan belum pernah membaca karya Jhumpa Lahiri.

“Bukunya bagus. Saya suka. Itu sebenarnya ditulis bukan dalam Bahasa Inggris, tapi Italia. Jadi seru deh, saat membacanya bisa sekalian belajar Bahasa Italia.”

Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ah, benar-benar pecinta kata. Lucu sekali ya mereka. Kecintaan mereka terhadap buku-buku terlihat jelas saat mereka membantu para pengunjung memilih buku. Rasanya seperti berbicara dengan kurator.

Dua buku berhasil membobol tabunganku. Merusak rencanaku untuk mengencangkan ikat pinggang dan berusaha irit. Apalagi tumpukan buku-buku yang belum dan sedang dibaca masih ada di kamar. Anehnya, aku senang.

Pagi tadi, aku membuka Instagram dan melihat laki-laki itu mengunggah sebuah video. Tokoh utamanya jelas sang istri. Refleks, aku berlanjut berkunjung ke halaman Instagramnya. Menelusuri beberapa post lama. Manisnya mereka! 🙂

“Lihat post-nya dia di Instagram, jelas sekali ya laki-laki itu sayang banget sama istrinya. Hampir semua post dia, pusatnya adalah perempuan itu.”

Barisan kata-kata muncul di Whatsapp-ku. Seolah bertelepati, kawanku pun menyadari hal yang sama, yang tadi juga terbersit di benakku namun tidak kukatakan.

“Iya. Aku lihat. Aku mau yang seperti itu. Cari di mana ya?”

Percakapan kami pun berlanjut. Kawanku akhirnya menjawab dan jawabannya kembali menyadarkanku.

“Kalau laki-laki tipe seperti itu tidak dicari. Biasanya dia akan mendekat sendiri ke kita karena ketertarikannya yang besar kepada kita.”

Ah, lalu di mana aku bisa menemukannya?