[not a Review] Film Wonder dan Kenangan Masa Kecil

Kemarin akhirnya menyempatkan nonton Wonder. SENDIRI! Yak, setelah sekian lama nggak nonton sendiri di bioskop, demi Wonder gue bela-belain nonton sendiri. Bisa dibilang kepengen nonton ini karena terhasut rekomendasi orang-orang di media sosial yang bilang film ini sedih dan menyentuh. Jadi, walaupun sebenarnya sudah diprediksi filmnya akan sedih, gue nggak tahu tuh apakah gue akan serta-merta mewek atau cuma berlinangan air mata kaya gue nonton Coco. Seingat gue, terakhir gue mewek terus-terusan nonton film di bioskop itu pas nonton film Jepang “Her Love Boils Bathwater”. Nah, pas banget kan kemarin itu gue lagi ‘dapet’ tuh. Sebuah kombinasi sempurna, kan? Film sedih + hormon! Telen aja noh aer asin~~

Oke baiklah, gue akan serius dan tentu saja sesuai judulnya, ini bukan review. INI CURHAT! Yang pasti ini film sukses bikin eik mulai meneteskan air mata, bahkan di menit-menit pertama. Persoalan inferioritas, sekolah, keluarga memang selalu bikin emosi gue dibolak-balik. Ada banyak momen dan adegan yang sebenarnya beberapa kali membuat gue mewek (nggak nyampe sesenggukan sih). Yang paling gue ingat justru bagian ketika August “Auggie” Pullman pertama kali masuk sekolah umum setelah sebelumnya selalu homeschooling. Kenapa? Continue reading

Advertisements

[not a Review] La La Land

DISCLAIMER: Ini isinya cuma hasil meracau gue setelah menonton film yang lagi hits ini. Apalah gue, hanya penikmat film awam yang gatal buat nulis. Mumpung masih hangat, sehangat tahu bulat yang digoreng dadakan. Dan serius, ini resmi jadi salah satu film favorit gue.

Ngga tahu ya. Sebenarnya gue jarang suka film yang berbentuk musikal, teatrikal. Terlalu Bollywood dan kadang suka ngga nikmati alur ceritanya aja gitu, somehow ngebosenin. Kan suka mikir ya lagi ngobrol serius, lah terus joget-joget tambah nyanyi-nyanyi. Tapi La La Land ini jadi pengecualian.

Berawal dari seringnya teaser film La La Land dan lagu City of Stars wara-wiri di lini masa, penasaran gue bertumbuh. Keliatan kan ya dari teaser-nya ini enak dipandang mata gitu. Pesona Ryan Gosling emang lah bikin betah. Uhuk! *kebiasaan, bikin review yang bias*

Continue reading

Video

You are untouchable

Wendy: “… you say you want this story but you’ve been stuck on this one page this whole time. No story can happen if you’re not willing to turn the page. You’re holding on to this one moment or possibility and before you know it the rest of the world is going to finish reading the book and start reading new ones and you’re going to be stuck here reading the same page over and over again. You can’t be so scared, Evan. I mean, it’s you and me. You don’t think that I don’t know what that means?”

Evan: “It won’t be the same thing as time goes on though.”

Wendy: “And it shouldn’t. It should evolve and even fade a little. But there are certain things that will never disappear. Those things are untouchable. You, Evan, are untouchable…”

Aside

[not a Review] Ada Apa Dengan Cinta 2

Hype film ini sudah terasa dari jauh-jauh hari. Sebagian besar orang di lingkungan gue pun membicarakannya dan gue adalah salah satu orang yang memasukkan ini dalam daftar film yang harus ditonton di 2016.

Saat film AADC pertama keluar, gue masih anak SD yang polos dan lugu dengan pengalaman nonton film di bioskop satu-satunya adalah Petualangan Sherina. Mengingat usia yang saat itu masih dibawah umur, jadilah gue hanya merasakan hype-nya dari kakak-kakak gue. Pengalaman nonton AADC sampai selesai pertama kali justru dari VCD yang disewa waktu gue SMA.

Cinta dan Rangga

Dua tokoh ini berhasil meninggalkan kesan yang sepertinya akan lama tinggal di benak para penonton, semacam Galih & Ratna. Ngga cuma tokohnya, gaya bicara dan aktingnya jadi sesuatu yang remarkable. Diingat semua orang dan dibicarakan dalam periode yang cukup lama. Kutipan-kutipan dialog, potongan-potongan puisi, selipan OST, seolah menempel kuat pada memori. Buktinya meski berjarak sudah hampir 14 tahun, beberapa orang masih bisa melafalkan dialog ataupun puisi-puisi yang ditampilkan, bahkan biasa menjadi celetukan candaan.

Continue reading

Fate, Timing, and Decision

“But fate and timing aren’t just coincidences that find you. They’re moments like miracles, that arise out of choices made because of ardent desire. Surrender and decision, without hesitation—that is what makes timing. He was more ardent, and I should’ve had more courage. It wasn’t the red lights, nor the timing that was bad… but the countless times I hesitated.”

Jung Hwan in Reply 1988

pic’s taken from here