On Not Being Okay

“Git, kenapa lo? Galau banget update-nya. Nggak kaya lo deh. Lo biasanya strong!”

“Eh, masa? Keliatan banget emangnya?”

Tiba-tiba seorang teman menyapa gue seperti itu ketika kami bertemu. Jelas gue kaget, mengingat gue mendapat komentar yang serupa dari orang yang berbeda sebelumnya. Kaget karena komentar seperti itu datang di saat gue (merasa) hidup gue sedang baik-baik saja.

Kedua orang tersebut memang bukan orang yang bertemu gue tiap hari. Mereka hanya berasumsi melalui update media sosial gue.

Alih-alih mengelak (karena tentu saja percuma), gue bertanya apakah yang membuat mereka berpikir gue sedang galau. Otomatis, pikiran gue mulai mengingat-ingat apa saja yang gue post di media sosial selama ini. Kayanya hanya tentang lagu, buku, dan beberapa keluhan kecil yang (menurut gue) masih dalam level wajar.

Selepas dari situ, gue malah jadi ‘galau’ beneran. Apa iya memang gue galau? Jangan-jangan selama ini gue tidak menghiraukan itu dan berpura-pura baik-baik saja? Jangan-jangan gue lalai memeluk kesedihan gue sendiri? Jangan-jangan karena galaunya sudah kronis, gue malah nggak sadar lagi soal itu?

Iya, gue malah kepikiran dan khawatir kalau gue selama ini mengingkari kesedihan-kesedihan gue hanya karena nggak mau dibilang lemah, menganggap lalu dan melupakannya. Gue khawatir gue secara tidak sadar seperti menabung kesedihan.

Entahlah. Tapi mungkin sesekali kita perlu memeluk kesedihan itu, mengakui bahwa tidak apa-apa jika kita tidak sedang baik-baik saja. It’s okay to be not okay. :”)

Advertisements

Apakah kami, para jomblo, tidak berhak bahagia?

“Awas loh nanti lama-lama keenakan sendiri terus.”

HAHAHAHA. Seriously, guys?

Yep. Itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang biasanya dilontarkan orang-orang ketika melihat gue terlihat bahagia saat traveling atau sibuk bekerja. Setelah rentetan pertanyaan “Kapan nikah?” atau “Kamu ngga mau nikah?”. Biasanya gue akan tertawa-tawa atau senyum meringis. Karena sebagai seorang introvert, bersendiri adalah suatu kesenangan bagi kami. Sesekali kami, para introvert, memang butuh teman untuk berbagi. Tapi dalam beberapa momen, kami mungkin akan lebih memilih melakukannya sendirian.

Jadi, tentu saja “Lama-lama keenakan sendiri” itu tidak berlaku bagi gue. Karena bagi gue, bersendiri pun bisa jadi menyenangkan.

Kadang merasa miris juga dengan orang-orang yang berpikir bahwa kami, para lajang, tidak boleh terlihat bahagia dengan kesendiriannya karena itu akan membuat asumsi bahwa kami tidak ingin menikah dan orang akan mencoret kita dari daftar pasangan potensial untuk dijadikan calon pendamping. Err!

Ngga bohong kalau kadang-kadang gue bertanya-tanya sendiri, “Jadi, gue ngga boleh kelihatan bahagia kalau gue masih sendiri?” atau “Apakah gue harus terlihat vulnerable, kelihatan desperate butuh pendamping supaya orang-orang bisa tahu kalau gue available untuk didekati?” Continue reading

Aside

Tentang Menjadi Dewasa dan Belajar Mengurai Ketakutan

Pada suatu masa gue yang lemah ini pernah mengalami stres karena urusan pekerjaan. Sebenarnya ini kayanya hal biasa yang pernah dialami hampir semua kaum pekerja di Jakarta.

Gue mengalami gegar kebiasaan (karena kalau ‘gegar budaya’ alias culture shock kok rasanya ndak pas) #duileh, dari semula seorang freelancer yang terhitung bisa kerja sambil santai-santai menjadi seorang pekerja kantoran yang 5 hari seminggu harus menempuh perjalanan Depok-Slipi PP (Ngga perlu dijelaskan kan ya bagaimana kondisi lalu lintas dan transportasi ibukota di saat peak time?). Belum lagi load pekerjaan yang menumpuk dan saat itu gue belum bisa me-manage dengan baik. Bro serius deh, kondisi ini bikin gue bawaannya pengen cepet-cepet nikah aje (sama Song Jong Ki, tapi); seolah itu adalah solusi setiap masalah. Continue reading

Very Last Post in 2014

Mumpung punya waktu jadi sempet bikin kaleidoskop singkat bagaimana saya menjalani tahun 2014. Bukan tahun yang buruk, tapi juga bukan tahun yang baik buat saya. Mungkin lebih tepat kalau disebut tahun yang sulit. Huh-hah! >,<
So, this is it…

Januari
Masih excited dengan segala hal-hal yang membahagiakan di tahun 2013. Tahun baru, pacar baru (mantan –uhuk-), kamar kos baru. Tapi urusan pekerjaan, masih masuk di peak season. Project klien Jepang yang ‘ohwow’. Akhir Januari berkesempatan ikutan trip ke Bromo Malang, walaupun gak sempet liat sunrise gegara cuaca gak mendukung tapi lumayan menyegarkan otak stress 😀
Februari
Berkesempatan ke Bandung buat acara jalan-jalan departemen kantor (pertama kalinya ke TransStudio #norak). Project dengan klien Jepang (saya kasih nama Kawai) ternyata menelurkan sebuah rekor ‘lembur sampai jam 3, besoknya ngantor lagi jam 3 sore sampai nginep dan pulang besok paginya’. Uhwow, right?
Maret
Si Kawai ini cukup menguras emosi , jiwa raga lahir batin. Berujung dengan ketidakpuasan klien dan dia minta project diulang TOTAL. Meski semua pengorbanan berasa sia-sia, hal yang patut disyukuri adalah itu project yang rerun gak dikasih ke saya lagi >,< Walaupun harus merepotkan tim departemen lain dan (kayanya) bikin rugi kantor. Tapi itu gak semuanya salah saya kok. :p 
Overall, bulan ini bulan yang membahagiakan sekaligus campur aduk.
Lepas dari si Kawai, eh ternyata dapet project yang level ‘ohwow’nya level 9. Sebut saja nama project ini SMART. Project tentang suatu produk telekomunikasi yang SMART sih tapi bikin makan hati + nangis-nansgis.  Tapi project ini pula yang bikin pertama kalinya saya bisa pergi keluar kota (Bandung + Yogyakarta) untuk urusan kantor. Walaupun berbau kerjaan, lumayan lah bikin otak gak kaku. Tapi, pulang dari situ…eh malah putus sama pacar. HAHAHA. Dan bikin saya jadi anomali karena bukannya sedih pas putus, malah merasa lega. Anehnya pula, tanggal putus tahun ini sama kaya putus sebelumnya. Mungkin kalo kata cenayang, itu bukan tanggal hoki. :p
April
Memasuki masa-masa pengen cepet resign. Gak nahan sama suasana kantor yang macam kandang macan. Sering sakit-sakitan gara-gara stress. Tiap pulang kerja bawaannya mewek. Satu-satunya yang membahagiakan adalah dapat kesempatan buat pergi jalan-jalan sekantor ke Bali. Super fun!
Mei
Si Smart masih bikin pusing. Alhamdulillah bonus dateng. Setelah memikirkan, menimbang sampai akhirnya memberanikan diri (nekat, sebenernya) buat mengajukan resign.
Juni
Masa-masa one-month notice pasca mengajukan resign. Bukannya leyeh-leyeh, malah bakbikbuk ditimpa berbagai project mingguan yang walaupun skalanya kecil tapi cukup bikin diri ini ngelus-ngelus dada. Project terakhir ternyata cukup berkesan dengan klien India yang astaghfirullah subhanallah bawelnya dan demandingnya bikin pengen jeduk-jedukin kepala ke meja. ALAMAKJANG!
Juli
Bulan puasa. Menikmati masa-masa pengangguran. Macam orang baru keluar dari penjara.
Agustus
*seriusan lupa ada momen apa saja di bulan ini*
September
Pindah kost. Suasana baru. Jalan-jalan bareng geng jaman SMA ke Yogyakarta (lagi!) and we had so much fun! Alhamdulillah
Oktober
Teman menikah silih berganti. Banyak kondangan sana-sini. 
November
HORE 25 TAHUN!
Desember
Patah hati. HA!

2014 cukup memberikan warnawarni di hidup saya. Walaupun memang bukan tahun yang baik, tapi rasanya saya lega sekali bisa melaluinya sampai hari ini. Dan tadaaaa…besok udah 2015 oi! 
Well, new year or new beginnings are sometimes overrated. Iya gak sih? Banyak-banyakan target, bikin resolusi yang canggih. Iya sih tahun baru, tapi toh kita masih punya 364 hari lainnya buat memulai sesuatu yang baru. Iya kan? Iya kan? #maksa

Apapun itu, saya pun berharap tahun 2015 ini jauh, jauh lebih baik dari tahun 2014. Terus yang pasti, resolusi tahun 2015 mah nerusin yang tahun kemaren belum kesampean aja deh ya. Semoga semakin didekatkan dengan segala impian saya, semakin dekat dengan Allah SWT, semakin berkah dan sehat hidupnya, semakin terbuka lebar pintu rizki saya, semakin banyak hal-hal membahagiakan, semakin sabar-ikhlas menjalani hidup, semakin pandai bersyukur. Aamiin!

“I love you too”, “Stay, don’t go”, “Sorry”, “I miss you”

The only way out of the labyrinth of suffering is to forgive.
– John Green, Looking for Alaska
Dalam hidup, manusia pasti sesekali menemukan beberapa hal dan momen yang disesali dalam hidupnya. Layaknya sebuah penyesalan, tentu ini selalu datang di akhir. Terlambat sudah untuk dilakukan atau disampaikan.

Mungkin karena dulu kita merasa begitu kecewa pada orang tersebut, terlalu gengsi untuk mengatakannya, terlalu takut kehilangan, atau tak mau dianggap ‘clingy’. Lalu kita baru menyadarinya setelah orang tersebut pergi.

Hal-hal yang tak pernah tersampaikan itu tanpa disadari terus menghantui hidup kita. Dan yang paling meninggalkan sesak adalah rasa bersalah.
Keluarlah dari labirin itu dengan memaafkan dirimu. Turunkan egomu. Beranjaklah.

Dear A,

Ada saat ketika saya mengingkari diri untuk mengatakan beberapa hal di waktu kita masih bersama, hampir dua tahun lalu. Ada yang membuatnya tertahan, entah itu ketidakyakinan atau kekecewaan.

Saat pertama kali kamu berkata “I love you”, saya begitu takut untuk membalas karena saya tak yakin akan itu.

Saat kamu memutuskan untuk pergi, saya diliputi kecewa yang sangat untuk sekedar menahanmu.

Saat kamu menemui saya dan bersikap seolah tak ada apa-apa setelah perpisahan kita, saya tak sanggup menaklukan ego untuk memohon maaf serta mengatakan rindu.

Saya tak mau kita kembali karena keadaan sudah berbeda, yang perlu saya selesaikan adalah perasaan bersalah saya terhadap kamu dan diri saya sendiri.

Untuk kata-kata yang tak tersampaikan di masa lalu:

“I love you too”, “Stay, don’t go”, “Sorry”, “I miss you”

sebuah kursi usang

Saya pernah menuliskan ini:

“hati itu…mungkin ibarat ruang tamu, yang hanya memiliki 1 kursi, dan kamu (pernah) duduk di sana. Ketika kamu pergi, kursi itu rusak. Tamu-tamu lain mulai berdatangan, tapi mereka tak bisa duduk di kursi yang rusak itu. Sekalipun pintu rumah telah terbuka lebar, sekalipun sudah tak ada kamu di dalamnya, bagaimana bisa tamu-tamu yang lain duduk jika kursi yang kamu tinggalkan itu rusak? Dan kamu pun tak pernah tahu. Berharap kamu datang memperbaikinya saja seperti berharap hujan datang pada musim kemarau, apalagi berharap kamu bersedia duduk kembali di sana. Lalu pertanyaannya, sampai kapan aku biarkan kursi itu rusak?”

Saya sudah buka pintu itu, mempersilakan tamu baru duduk di kursi itu. 
kemudian dengan sisa-sisa yang ada, saya perbaiki kursi itu. tapi mungkin ia merasa tak nyaman, mungkin juga terlalu lelah. kursi itu tak lagi sempurna. kursi itu terlalu usang.
saya bisa apa kalau ia tak nyaman? saya tak bisa memaksanya untuk tinggal, apalagi memintanya memperbaiki kursi usang itu.
saya bisa apa kalau saya berkeras ingin ia tetap tinggal? ia butuh tempat melepas lelah, sementara kursi yang saya punya tak mampu menopang rasa lelahnya.
saya hanya bisa memohon:
tolong jangan patahkan kursi itu kembali

Ketika Aku Bercermin

Dari seluruh keanehan yang kamu miliki, mungkin ini yang paling aneh; dan aku masih tak mengerti mengapa kamu begitu nyamannya dalam zona itu, zona yang tadinya aku pikir tak ada seorang pun yang mau di dalamnya, zona yang penuh kesedihan dan kegetiran. Tak seorang pun, kecuali kamu. 
Seperti kamu yang lebih memilih pahitnya secangkir kopi hitam pekat dibandingkan segelas coklat panas, atau seperti kamu yang lebih mencintai dingin dan gelapnya malam daripada hangat dan terangnya pagi ketika matahari baru muncul. Seperti itu pula kamu ketika menikmati kesedihanmu, menyesap tiap pedihnya.
Mungkin kamu memang masokis, bisa-bisanya betah begitu lama berkubang air mata. Lihat saja bagaimana kamu lagi dan lagi memilih jalan yang sama; yang berkali-kali telah membuatmu terjatuh dan terluka. dan aku yakin itu bukan karena kamu tidak tahu ataupun bodoh.
Aku takut semakin lama kamu akan semakin menikmatinya, tak sadar bahwa itu anomali. Cemas yang aku rasakan menjadi-jadi begitu tahu kamu justru takut akan kebahagiaan, kamu takut untuk berbahagia.
“Aku takut kehilangan. Itu adalah kepedihan paling menyakitkan. Kamu juga tahu itu kan?” katamu  sembari melihat mataku.
Aku tercengang. Karena aku bukan lagi tahu tentang rasa itu, aku mengenalnya dengan sangat baik. Aku tahu, dan aku membencinya.
“Tapi kamu harus berbahagia!” ujarku gusar, kontras denganmu yang begitu tenang.
“Aku tahu.” Cuma itu katamu, menutup pembicaraan.
Kamu tinggalkan aku yang tetiba menjadi gelisah. Sekarang aku lah yang bertanya-tanya, sendirian. Jika semuanya sementara, jika kebahagiaan itu pun akan hilang pada akhirnya, apa perlu kita berbahagia?