Sebuah Pesan kepada Diri Sendiri

Berjalanlah pelan-pelan, aku cemas kamu kelelahan.
Jangan berlebihan, aku takut tak siap kalau tiba-tiba harus kehilangan.

Tak masalah jalan perlahan, asal tak padam di tengah jalan.

 

Photo by Annie Spratt on Unsplash
Advertisements

ada yang menyeruak membahana
di tengah hiruk-pikuk ibukota
aroma kopi dan rasa yang tak biasa

tetap hangat dan lekat, seperti kenalan lama
meski lama tak berjumpa dan bertukar sapa

tawa kita pada setiap tanya tentang dunia
bahagia meski belum menemukan tanda

 

Kepada Pria Pencinta Ombak

Kamu telah menemukan ombakmu. Riak yang menyertaimu,

mendengarkan apa yang kau katakan, pun yang tidak.

Yang mengisi pantaimu.

Lalu kau bosan.

 

“Yang terus berulang, suatu saat henti.”*

 

Alunan Banda Neira mengantarmu pada dahaga

akan pantai dengan ombak yang lebih menantang.

Jiwa peselancarmu enggan diam.

 

Kusambut kau dengan biru, pantai dan langit.

Serta suka cita rasa yang menggelitik resahmu.

 

Pada akhirnya, dengarlah sayang

Riuh gemuruh hatimu

Apakah itu untuk aku?

 

Berhentilah. Kembalilah.

Aku bukan pantai yang kau cari.

 

*lirik dalam Banda Neira - Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti
Image:

Steven Spassov

Photo by Rémi Walle on Unsplash

Andai Kata, Andai Kita

dulu kau bilang

“lebih baik kita coba,

daripada terus berandaikata.

aku punya rasa,

tapi ragu jika kusebut cinta.”

 

aku bilang

“tak apa. asalkan kita bisa bersama.”

 

andai kata cerita kita tak nyata,

apakah kita bisa saling mencinta?

 

andai kita tak pandai membaca tanda,

apakah saat ini kita masih bersama?

 

Photo by Rémi Walle on Unsplash

Bagaimana jika?

jika

Laki-laki di sampingku tersenyum

dari matanya, tahu benar aku, ia mendengarkan.

tangannya menggenggam, menautkan jari-jarinya pada kelima jariku.

sesekali genggamannya mengencang, memberi tanda.

“Aku mengerti.”

Mulutku tak henti bicara. Imajiku bergerak liar.

Tapi ada satu rasa yang tidak pada tempatnya.

Saat tangan masa lalu menusuk dari belakang punggungku,

menikam tanpa ampun.

Kali ini genggaman tangannya tak mampu menyelamatkanku.

Matanya kini menemukanku,

sedang bertanya:

“Bagaimana jika masa lalu lebih erat memeluk tubuhmu,

menggenggam tanganmu, dibandingkan seseorang yang kini di sampingmu?”