Mencari Arti Rumah dan Melepaskan Ego

“There’s a side that you never wish to show others no matter how close you are with them. Sometimes your family can be the least close people to you.”

Yoon Ji-ho in Because This is My First Life

Yes, it really hit home. Dalam proses menjadi dewasa, pemikiran seperti itu seringkali muncul. Bahwa menemukan masalah dalam hidup, menghadapinya, menemukan solusinya sendiri (tanpa banyak mengeluh) adalah hal lumrah dalam transformasi ini. Di usia yang tidak lagi muda; ada rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah sendiri, malu jika harus bercerita kelemahan dan kesusahan yang dialami, atau tidak nyaman saat harus menambah beban orang lain.

Gue bukan termasuk anak yang terbiasa bercerita terbuka kepada keluarga. Seringkali gue menarik diri karena sungkan. Takut menambah pikiran, enggan merepotkan.

Perlahan yang menyedihkan adalah gue mulai merasa kehilangan arti ‘rumah’. Rumah tempat gue akan kembali, rumah yang selalu terbuka dengan gue yang apa adanya, rumah yang selalu memaafkan. Rumah gue tetap menjadi tempat di mana gue bisa bertemu Mama, Papa, kakak-kakak gue, dan para keponakan. Tapi hati gue tidak benar-benar nyaman berada di sana.

Rumah yang sering gue harapkan menyambut dengan hangat, ternyata belum tentu siap menampung sampah emosi gue. Setidaknya itu yang gue rasakan. Bukan, bukan berarti keluarga gue menolak gue. Tidak sama sekali. Tapi gue yang tidak menemukan itu. Ketika gue pulang, keadaan rumah kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bisa jadi karena mereka terlalu sibuk dengan masalah masing-masing sehingga gue pun enggan menambah masalah atau bisa juga karena mereka dalam keadaan sukacita dan membuat gue tak tega merusaknya.

Home is where your heart is?
Continue reading

Advertisements

Boleh pinjam bahumu sebentar saja?

Meeting darurat. Menangis. Menenangkan teman yang menangis. Menyelesaikan pekerjaan. Membereskan barang-barang. Tertawa bersama. Menangis (lagi). Berbagi kisah. Tertawa. Lalu, menangis kembali.

Hari itu seperti rollercoaster bagi jiwa dan raga saya. Seolah saya kehabisan waktu untuk ‘diri saya’ sendiri. Saya menangis, tapi harus cepat-cepat menyeka air mata karena tentu saja saat itu bukan waktu yang tepat untuk itu.

Belum sadar betul, tiba-tiba teman saya menangis. Tak kuat menahan kabar yang tak baik ini. Yang saya tahu, saya memeluknya kemudian menangis bersama. Mencoba menenangkan dan bilang “Nggak apa-apa.” Kata-kata yang sebenarnya kami semua mengerti “Kami tidak baik-baik saja.” Bahwa saya pun kehabisan kata. Saya tidak tahu harus bagaimana.

Kami harus segera melupakan kesedihan karena pekerjaan menuntut kami untuk segera diselesaikan. Saya kembali berkutat dengan tugas-tugas, sementara jiwa saya seperti tidak di situ. Tugas selesai, saya harus segera membereskan barang-barang.

Seusai bekerja, saya masih harus bersama teman-teman lain. Sebuah quality time. Mencoba berbagi kisah dan tawa. Tapi kemudian diselingi dengan tangis. Saya cuma bisa menahan diri untuk tidak kelepasan. Saya terlampau mengerti kesedihan dan ketakutan mereka; akan masa depan, akan kehidupan. Bahwa bukan saya sendiri yang bersedih. Bahwa kami berada di titik yang sama. Kritis.

Dalam perjalanan pulang, saya kehabisan energi. Dalam perjalanan pulang, saya hanya ditinggalkan bersama sedih dan sepi. Hari itu saya tidak sempat ‘memeluk’ diri saya sendiri. Lalai untuk mengakui bahwa saya sedih, sangat amat sedih. Mengakui bahwa saya pun tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan bagaimana nasib saya ke depannya.

Sometimes I need a good cry. Not to try so hard to get rid of the pain, not to distract myself from feeling it.

Sometimes I simply need someone to sit with me and give me a silent hug. A shoulder to cry on.

 

 

struggling, but surviving

“Acting fine is a cognitive process.” – Karen Lowinger

I’ve hit rock bottom. Jatuh, sejatuh-jatuhnya. Menangis sampai tertidur justru menjadi ‘obat tidur’ saya. Bangun di tengah lelapnya tidur karena merasa sesak pun bukan hal aneh yang terjadi hari-hari terakhir. Keadaan yang sampai membuat saya sangat negatif dalam segala hal. Hal itu pula yang membuat saya memutuskan untuk detoks dari beberapa media sosial.

Mengalami kesedihan saat usia sudah dikatakan dewasa, mungkin membuat saya (berusaha) mampu untuk menghadapinya sendiri. Setidaknya tidak ada penyangkalan. Saya menerima dan mencoba melaluinya.

Ketika kamu tetap harus melalui hari-harimu, karena tentu saja dunia tidak berhenti berputar hanya karena kamu bersedih, kamu akan memasang topeng itu. Topeng baik-baik saja. Everything is okay. Sekali lagi bukan untuk menyangkal kesedihan, tapi semata-mata kesadaran diri bahwa kamu tetap ingin dan harus menyelesaikan kewajibanmu. Continue reading