zsazsazsu

It’s complicated. Long story.

Katamu ketika kutanya tentang kekasihmu. Entah kau tahu atau tidak, aku menghela napas panjang.

I’m all ears. Ceritakan padaku.”

It is a long story. Nggak maju, nggak mundur.”

Kamu berujar kikuk, sambil mengisap rokokmu. Kemudian kau mengalihkan pembicaraan kita. Aku cukup tahu kamu enggan membahasnya.

Mendengar jawabanmu seolah menyadarkanku: kita pun tidak akan ke mana-mana. Akalku berteriak untuk berhenti, untuk segera lari. Meninggalkanmu saat itu juga mungkin harusnya aku lakukan. Tapi hatiku menolak sadar. Biarlah sesal nantinya, aku ingin menikmati saat itu. Kamu di depanku.

Now I know what I like about you. I like your eyes.

Why?

I used to hate my eyes. Bahwa ada seseorang yang menyukainya, ini sesuatu yang asing buatku.

I don’t know. I just like it. Lucu.”

Aku tersenyum. Indeed, it made me happy.

“Then do you know what I like about you?”

Lalu kamu memiringkan kepalamu, matamu menunggu, mengisyaratkan bahwa kamu ingin tahu.

You’re smart. I love the way you talk, the way you craft the words.

Sepertinya kamu menganggap pujian ini aneh, bahkan mungkin tak pernah kamu dengar. Kamu hanya tertawa kecil, kemudian menyesap cappucino hangatmu.

Obrolan kita pun terinterupsi oleh pesan yang masuk ke ponselmu. Selama beberapa saat, kamu sibuk membalasnya. Aku pun menggunakan waktuku untuk hal yang sama.

“Do you know what? I want to kiss you.”

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku, darimu. Seseorang yang berada di depanku, yang sedang tersenyum malu-malu. Alih-alih membalas pesanmu, aku hanya diam. Memandangimu sambil ikut tersenyum. Suasana rooftop kedai kopi yang membuatku sedikit kedinginan kini tiba-tiba menghangat. Untuk ke sekian kalinya malam itu, aku tersenyum. Kegirangan.

Agendamu yang padat membuatmu harus segera mengakhiri pertemuan kita. Kembali ke dunia masing-masing, kembali ke kenyataan. Kamu pun pamit duluan, tanpa berkata apa-apa.

“Take care.”

Pesan darimu masuk tepat saat jemputanku tiba.

I knew I should have put an end to it. But no, I couldn’t deny my heart. So I replied,

“You too. Thanks for today. Actually I want to kiss you too.”

Image:

Alex Jodoin

 

Advertisements

On Not Being Okay

“Git, kenapa lo? Galau banget update-nya. Nggak kaya lo deh. Lo biasanya strong!”

“Eh, masa? Keliatan banget emangnya?”

Tiba-tiba seorang teman menyapa gue seperti itu ketika kami bertemu. Jelas gue kaget, mengingat gue mendapat komentar yang serupa dari orang yang berbeda sebelumnya. Kaget karena komentar seperti itu datang di saat gue (merasa) hidup gue sedang baik-baik saja.

Kedua orang tersebut memang bukan orang yang bertemu gue tiap hari. Mereka hanya berasumsi melalui update media sosial gue.

Alih-alih mengelak (karena tentu saja percuma), gue bertanya apakah yang membuat mereka berpikir gue sedang galau. Otomatis, pikiran gue mulai mengingat-ingat apa saja yang gue post di media sosial selama ini. Kayanya hanya tentang lagu, buku, dan beberapa keluhan kecil yang (menurut gue) masih dalam level wajar.

Selepas dari situ, gue malah jadi ‘galau’ beneran. Apa iya memang gue galau? Jangan-jangan selama ini gue tidak menghiraukan itu dan berpura-pura baik-baik saja? Jangan-jangan gue lalai memeluk kesedihan gue sendiri? Jangan-jangan karena galaunya sudah kronis, gue malah nggak sadar lagi soal itu?

Iya, gue malah kepikiran dan khawatir kalau gue selama ini mengingkari kesedihan-kesedihan gue hanya karena nggak mau dibilang lemah, menganggap lalu dan melupakannya. Gue khawatir gue secara tidak sadar seperti menabung kesedihan.

Entahlah. Tapi mungkin sesekali kita perlu memeluk kesedihan itu, mengakui bahwa tidak apa-apa jika kita tidak sedang baik-baik saja. It’s okay to be not okay. :”)

Kita ini apa?

kadang resah jika tak bertukar sapa. kadang bosan karena kamu selalu ada.

tak tahu.

tapi bukankah semua jadi lebih sederhana saat kita tak lagi sibuk mencari makna?

bukankah kita lebih syahdu menikmati kala kita berhenti untuk saling melebihkan ekspektasi?

makna

dan ekspektasi

atas kita. untuk kita. pada kita.

biarkanlah tak ada. tidak usah memaksa.

sementara tak apa. sampai kelak waktu jawab pertanyaan:

kita ini apa?

 

Apa itu “Not A Review”?

Not A Review adalah kategori yang saya berikan untuk setiap tulisan saya mengenai sebuah buku atau film, atau karya dalam bentuk apapun. Walaupun sampai saat ini, mostly, yang saya komentari berupa buku.

Kenapa “Not A Review”?

Karena saya tidak mau mengecoh orang-orang yang tiba-tiba mampir di blog saya kemudian salah mengira tulisan saya sebagai review. Tentu bentuknya pun jauh dari kaidah sebuah review tulisan. Kebanyakan yang saya tulis adalah impresi saya ataupun pemikiran-pemikiran yang tercetus saat membaca buku tersebut. Bisa saja nyambung dengan isi buku, atau bahkan ngga nyambung sama sekali karena justru isi tulisan “Not A Review” adalah media curahan hati saya. :p

Banyak buku-buku bagus, menarik, berkesan yang sudah saya baca. Tapi kadang waktu dan niat tak cukup menggerakkan saya menuliskannya. >,<