IDGAF

M: Let’s meet again

F: To discuss about world peace?

M: To kiss you for sure.

F: You know my answer.

M: And you know how persistent I am.

 

Photo by Denys Argyriou on Unsplash
Advertisements

struggling, but surviving

“Acting fine is a cognitive process.” – Karen Lowinger

I’ve hit rock bottom. Jatuh, sejatuh-jatuhnya. Menangis sampai tertidur justru menjadi ‘obat tidur’ saya. Bangun di tengah lelapnya tidur karena merasa sesak pun bukan hal aneh yang terjadi hari-hari terakhir. Keadaan yang sampai membuat saya sangat negatif dalam segala hal. Hal itu pula yang membuat saya memutuskan untuk detoks dari beberapa media sosial.

Mengalami kesedihan saat usia sudah dikatakan dewasa, mungkin membuat saya (berusaha) mampu untuk menghadapinya sendiri. Setidaknya tidak ada penyangkalan. Saya menerima dan mencoba melaluinya.

Ketika kamu tetap harus melalui hari-harimu, karena tentu saja dunia tidak berhenti berputar hanya karena kamu bersedih, kamu akan memasang topeng itu. Topeng baik-baik saja. Everything is okay. Sekali lagi bukan untuk menyangkal kesedihan, tapi semata-mata kesadaran diri bahwa kamu tetap ingin dan harus menyelesaikan kewajibanmu. Continue reading

Hidup ini kadang lucu ya. Di saat orang-orang lain mengawali tahun baru mereka dengan resolusi dan optimisme, saya (terpaksa) harus mengalami kesedihan yang teramat dalam. 2018 menyambut saya dengan duri-duri tajam, membuat hari-hari terakhir ini rasanya penuh sesak.

Di akhir tangis, lalu saya menertawai diri sendiri. Mau apa kamu kalau di awal begini saja sudah hancur lebur?

Saya tak menyangka akan sepatah ini jadinya. Sampai benar-benar terjadi. Sampai saya akhirnya merasakan kembali menangis sampai tertidur. Sampai saya benar-benar merasa sesak yang sakit, sungguh sakit. Iya, saya tiba-tiba terbangun karena merasa amat sesak. Merasa jatuh terpuruk, sendirian, dan gelap.

Berjelaga

ada lubang di tubuhku. lubang yang dicipta sendiri.

menganga, mengisap semua bahagia. yang tinggal hanya sesak.

serta rindu.

 

ah ya, rindu.

pada satu orang yang kini membuat hidup semakin berjelaga.

 

ingin rasanya lari lalu tenggelam. mungkin di samudra?

agar aku lupa.

itu tadi pagi, entah sore nanti.

pagi tadi seolah-olah saya ingin berhenti. bukan, bukan soal pekerjaan tentunya. tapi soal si A, si B, dan si C. hahaha. (sok) banyak ya. saya pikir memiliki lebih dari satu pilihan adalah sebuah keuntungan, nyatanya tidak. tidak, kalau pilihan-pilihan itu tidak jua memberi tanda. hahaha.

pagi tadi seolah-olah saya ingin terus tertawa, pada diri sendiri. membodoh-bodohi diri memang hal paling mudah. seru rasanya sekali-kali mengakui salah sendiri. asal jangan lalai memeluk dan memaafkan diri.

pagi tadi seolah-olah saya mati rasa. si A, si B, dan si C; yang awalnya (sebut saja beberapa hari lalu) masih membuat saya tersenyum-senyum sendiri, menjadi seperti tidak ada artinya.

pagi tadi seolah-olah tekad sudah membulat. sampai sini saja. saya kehabisan amunisi, bahan bakar, entah apa namanya. untuk menyambut rasa-rasa itu. penasaran, rindu, kesal, kecewa.

itu tadi pagi, entah sore nanti.

 

Sebuah Pesan Sponsor

Beberapa waktu lalu mencoba menuliskan curhatan kejadian beberapa bulan lalu yang lumayan membuat gue kepikiran. Akhirnya berani menuliskannya di Kamantara.id, “Bersendiri: Bagaimana Jika Statusmu Menjadi Beban bagi Orangtuamu?“.

Kenapa memilih menuliskan di platform publik? Well, (mungkin) karena sebagian diri gue pengen cerita gue dibaca orang dan gue ‘mencari teman’. Karena gue yakin, nggak cuma gue yang merasakan ini.

Jika punya waktu senggang, sila dibaca ya! 🙂

 

zsazsazsu

It’s complicated. Long story.

Katamu ketika kutanya tentang kekasihmu. Entah kau tahu atau tidak, aku menghela napas panjang.

I’m all ears. Ceritakan padaku.”

It is a long story. Nggak maju, nggak mundur.”

Kamu berujar kikuk, sambil mengisap rokokmu. Kemudian kau mengalihkan pembicaraan kita. Aku cukup tahu kamu enggan membahasnya.

Mendengar jawabanmu seolah menyadarkanku: kita pun tidak akan ke mana-mana. Akalku berteriak untuk berhenti, untuk segera lari. Meninggalkanmu saat itu juga mungkin harusnya aku lakukan. Tapi hatiku menolak sadar. Biarlah sesal nantinya, aku ingin menikmati saat itu. Kamu di depanku.

Now I know what I like about you. I like your eyes.

Why?

I used to hate my eyes. Bahwa ada seseorang yang menyukainya, ini sesuatu yang asing buatku.

I don’t know. I just like it. Lucu.”

Aku tersenyum. Indeed, it made me happy.

“Then do you know what I like about you?”

Lalu kamu memiringkan kepalamu, matamu menunggu, mengisyaratkan bahwa kamu ingin tahu.

You’re smart. I love the way you talk, the way you craft the words.

Sepertinya kamu menganggap pujian ini aneh, bahkan mungkin tak pernah kamu dengar. Kamu hanya tertawa kecil, kemudian menyesap cappucino hangatmu.

Obrolan kita pun terinterupsi oleh pesan yang masuk ke ponselmu. Selama beberapa saat, kamu sibuk membalasnya. Aku pun menggunakan waktuku untuk hal yang sama.

“Do you know what? I want to kiss you.”

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku, darimu. Seseorang yang berada di depanku, yang sedang tersenyum malu-malu. Alih-alih membalas pesanmu, aku hanya diam. Memandangimu sambil ikut tersenyum. Suasana rooftop kedai kopi yang membuatku sedikit kedinginan kini tiba-tiba menghangat. Untuk ke sekian kalinya malam itu, aku tersenyum. Kegirangan.

Agendamu yang padat membuatmu harus segera mengakhiri pertemuan kita. Kembali ke dunia masing-masing, kembali ke kenyataan. Kamu pun pamit duluan, tanpa berkata apa-apa.

“Take care.”

Pesan darimu masuk tepat saat jemputanku tiba.

I knew I should have put an end to it. But no, I couldn’t deny my heart. So I replied,

“You too. Thanks for today. Actually I want to kiss you too.”

Image:

Alex Jodoin