Love for Sale, Berteman dengan Kesendirian, dan Memeluk Kesepian

Gue menonton film Love for Sale awalnya karena gembar-gembor di dunia maya soal film ini. Sudah jarang kan gue nonton film cinta Indonesia. Dengan topik menghadapi kesendirian dan kesepian di usia yang tak lagi muda serta social pressure yang makin kejam, jelas sebagai jomlo lama (patokannya dari hubungan berstatus jelas yang terakhir yha~) gue merasa film ini akan relate dengan apa yang gue rasakan. Malah gue khawatir abis nonton bakalan baper terus mupeng punya pasangan. Alhamdulillah, diri yang telah dewasa ini tak mudah terpengaruh dengan godaan macam itu (ahelah!).

Continue reading

Advertisements

Mengunjungi Kenangan Masa Kecil Melalui Musikal Petualangan Sherina

Berbicara tentang Petualangan Sherina mau tak mau juga membahas sebuah fase di kehidupan gue. Saat film Petualangan Sherina dirilis di tahun 1999, film itu berhasil menciptakan trend di anak-anak seumuran gue saat itu. Tas ransel kegedean, permen mnms di kotak bekal, plester di sana-sini padahal nggak ada luka, you name it. Bahkan sampe bikin gue pengen banget mengunjungi Bosscha. Gue yang saat itu memang sudah jadi fans Sherina dan lagu-lagunya, jelas saja film tersebut jadi sesuatu yang membekas di masa kecil gue.

Segala aksesoris, majalah, tabloid yang bahas film itu pasti gue beli. Bahkan gue ingat gue pernah sangat amat marah dengan nyokap dan sepupu gue karena buku yang membahas seluk beluk behind the scenes Petualangan Sherina (yang belinya kudu di Jakarta waktu itu) nyokap gue pinjamkan begitu saja ke sepupu gue (baca: meminjamkan berarti memberi). Gue ogah main sama sepupu gue itu berminggu-minggu setelahnya dan hubungan kami merenggang (halah!) gara-gara itu.

Nah, begitu tahu film Petualangan Sherina ini dialihwujudkan menjadi pertunjukan musikal, terang saja gue penasaran. Ngebayangin lagu-lagu dan film favorit dimainkan kembali dengan sensasi berbeda, WAH! Ternyata nggak cuma gue yang merasakan itu. Saat pertama kali diadakan, gue nggak sempat menonton karena kehabisan tiket. Sumpah deh, cepet gila habisnya. Pas giliran mau beli, nyisa tiket yang harganya nggak cocok buat kelas menengah ngehe kaya gue. #teteprealistis Ya sudah deh, kali itu gue harus puas gigit jari lihat temen-temen gue update di media sosial soal betapa bagusnya musikal Petualangan Sherina ini.

Sepertinya ya Jakarta Movement of Inspiration, yang memproduksi musikal Petualangan Sherina, mendengar jeritan hati para rakyat yang nggak bisa menikmati pertunjukan pertama di akhir tahun 2017 kemarin. Akhirnya mereka membuat kembali di bulan Februari 2018 ini. Begitu periode pembelian tiket early bird dibuka, widih gila gila gila, itu juga nggak kalah cepat habisnya sama yang pertama. Alhamdulillah, gue masih beruntung bisa dapat tiket dengan harga early bird meski harus dapat duduk terpisah-pisah dengan 2 teman gue yang lain. Prinsipnya: YANG PENTING NONTON.

INI LAMA AMAT YA BAHAS MUSIKALNYA? HAHAHA. BIASA, GUE EMANG ANAKNYA GITU. Continue reading

[not a Review] Film Wonder dan Kenangan Masa Kecil

Kemarin akhirnya menyempatkan nonton Wonder. SENDIRI! Yak, setelah sekian lama nggak nonton sendiri di bioskop, demi Wonder gue bela-belain nonton sendiri. Bisa dibilang kepengen nonton ini karena terhasut rekomendasi orang-orang di media sosial yang bilang film ini sedih dan menyentuh. Jadi, walaupun sebenarnya sudah diprediksi filmnya akan sedih, gue nggak tahu tuh apakah gue akan serta-merta mewek atau cuma berlinangan air mata kaya gue nonton Coco. Seingat gue, terakhir gue mewek terus-terusan nonton film di bioskop itu pas nonton film Jepang “Her Love Boils Bathwater”. Nah, pas banget kan kemarin itu gue lagi ‘dapet’ tuh. Sebuah kombinasi sempurna, kan? Film sedih + hormon! Telen aja noh aer asin~~

Oke baiklah, gue akan serius dan tentu saja sesuai judulnya, ini bukan review. INI CURHAT! Yang pasti ini film sukses bikin eik mulai meneteskan air mata, bahkan di menit-menit pertama. Persoalan inferioritas, sekolah, keluarga memang selalu bikin emosi gue dibolak-balik. Ada banyak momen dan adegan yang sebenarnya beberapa kali membuat gue mewek (nggak nyampe sesenggukan sih). Yang paling gue ingat justru bagian ketika August “Auggie” Pullman pertama kali masuk sekolah umum setelah sebelumnya selalu homeschooling. Kenapa? Continue reading

kopi susu

Tiga Kopi di Jakarta yang (katanya) Kekinian

Ulasan ini dibuat karena beberapa minggu terakhir gue lagi sering mencoba beberapa coffeeshop dan kebetulan yang disebut di sini adalah es kopi susu yang gue sebut di sini yang lagi sering nangkring di feeds Instagram. Yang perlu diingat gue ini bukan pencinta kopi ekstremis. Gue masih bisa kok minum kopi sachet kalau lagi butuh asupan gula. Juga gue peminum kopi yang lebih sering pakai gula ketimbang ngga. Kecuali lagi pengen yang pahit-pahit demi mengingatkan diri bahwa hidup tak selalu soal yang manis-manis *halah*.

Selain karena gue lagi sering main-main di toko kopi, gue tertarik dengan kesederhanaan dari ketiga kopi ini. Langsung, yuk!

Es Kopi Susu Tetangga – Kopi Tuku

Bisa dibilang hal utama yang memicu gue penasaran sama kopi ini adalah tetangga meja di kantor yang dulu sering banget pesan es kopi susu ini lewat GoFood. HAHAHA. Yang bikin penasaran adalah kenapa mereka sampai bela-belain pesan kopi yang ada di Cipete buat dikirim jauh-jauh ke Slipi. Seenak apa sih?

Setelah coba ini, gue perlu akuin kerasa bedanya mana kopi beneran dan kopi lucu-lucuan yang sering gue beli. ENAK!! Gula arennya kerasa dan tentu saja kopinya kuat. Dengan harga Rp 18.000 dapat kopi segini enaknya, rasanya kalau ke S**rbu*ks lagi kok ya sayang uangnya gitu ya~~ (padahal mah gue tetep aja sih mampir ke S*ucks lagi).

Es Kopi Susu Tetangga ini dijual di Kopi Tuku, kedai kopi kecil di Jalan Cipete Raya No. 7. Terhitung yang paling senior di antara minuman kopi yang mengusung gaya serupa. Kopi Tuku ini memang bukan tipe coffeeshop yang menjual tempat untuk leyeh-leyeh baca buku atau duduk lama mengobrol dengan teman. Bisa sih, tapi yah itu kalau kedainya ngga lagi penuh ya, yang rasa-rasanya jarang sekali terjadi. Area tempat duduk mereka berbentuk L yang hanya cukup diduduki 6-7 orang. Es Kopi Susu Tetangga ini emang lebih cocok buat take and go gitu. Yang ngga suka kopi, ada juga pilihan coklat atau tehnya.

P.S. Kalau mau lebih nyaman, bisa coba Toodz di seberangnya. Setahu gue ini masih 1 owner dengan Kopi Tuku. Toodz ini tempat favorit gue dan temen-temen gue di kantor yang dulu. Sering banget ngadain meetup di situ. Menurut gue, makanannya enak, suasananya homey, mushollanya TOP ABIS! Pernah coba cappucino-nya, enak kok. Tapi ya enak aja gitu, ngga sampai bikin terngiang-ngiang. Continue reading

[not a Review] Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Holla! Datang kembali dengan review buku ala kadarnya setelah sekian lama terjebak rasa malas padahal sebenarnya buku yang gue baca banyak kok #bukanpamer.

Processed with VSCO with h6 preset

Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Seperti yang sebelum-sebelumnya, seri review kali ini dimulai dari sesuatu di luar bukunya. Well, buku ini sebenarnya diterbitkan bulan Mei tahun lalu tapi kemarin gue baru tergugah untuk membelinya. Entah kenapa.

Saat awal-awal diterbitkan, buku ini memang lumayan sering gue lihat di rak display dan sudah sempat gue bolak-balik cover depan dan belakang, kemudian menimbang-nimbang beli atau tidak. Sayangnya gue selalu terhenti begitu membaca sinopsisnya. Saat itu gue merasa sepertinya nalar gue tak sanggup (yang kadang malas mikir) mencerna buku macam ini. Apalagi baca nama penulisnya. Wew!

Lalu buku ini terbit untuk cetakan ke-2 dengan tampilan baru. Warna biru yang mudah sekali menyenangkan mata gue. Kembali ragu untuk membeli, meski rasanya hati ini memanggil-manggil. #tsah

Continue reading

[not a Review] La La Land

DISCLAIMER: Ini isinya cuma hasil meracau gue setelah menonton film yang lagi hits ini. Apalah gue, hanya penikmat film awam yang gatal buat nulis. Mumpung masih hangat, sehangat tahu bulat yang digoreng dadakan. Dan serius, ini resmi jadi salah satu film favorit gue.

Ngga tahu ya. Sebenarnya gue jarang suka film yang berbentuk musikal, teatrikal. Terlalu Bollywood dan kadang suka ngga nikmati alur ceritanya aja gitu, somehow ngebosenin. Kan suka mikir ya lagi ngobrol serius, lah terus joget-joget tambah nyanyi-nyanyi. Tapi La La Land ini jadi pengecualian.

Berawal dari seringnya teaser film La La Land dan lagu City of Stars wara-wiri di lini masa, penasaran gue bertumbuh. Keliatan kan ya dari teaser-nya ini enak dipandang mata gitu. Pesona Ryan Gosling emang lah bikin betah. Uhuk! *kebiasaan, bikin review yang bias*

Continue reading

[not a Review] Tidak Ada New York Hari Ini by M. Aan Mansyur

OK, ini emang telat, tapi gue rasa kagak basi-basi amat untuk dibuat review-nya. Sengaja sih, antimainstream #ahelah #ngeles. Buku puisi ini sebenarnya gue beli bahkan sebelum gue nonton film AADC 2, tapi emang baru ada kesempatan sekarang bahas ini.

Seperti biasa, gue akan mulai perbincangan ini dengan hal-hal di luar isi buku ini dulu. HAHAHA. Buku ini salah satu buku yang menemani perjalanan gue dari Jakarta ke Makassar. Sengaja gue bawa karena emang mau minta tanda tangan Aan Mansyur pas di MIWF 2016. Itu juga pakai untung-untungan, ngga ngarep-ngarep banget gitu. Kebayangnya pas acara kan pasti bakal ribet ya.

Jadilah hari pertama gue mendarat di Makassar, gue langsung mengunjungi Fort Rotterdam tempat MIWF 2016 berlangsung. Tujuan gue bukan ketemu Aan sebenarnya, tapi mau mengikuti salah satu sesi acara peluncuran buku Raden Mandasia karya Mas Yusi Avianto Pareanom. Gue ingat banget saat gue datang acara sudah berlangsung setengah jalan. Kebetulan Aan Mansyur jadi moderator sesi tersebut. Di akhir sesi, layaknya acara peluncuran buku, ada book signing Raden Mandasia. Gue yang saat itu membawa buku Raden Mandasia juga, langsung antri buat minta tanda tangan Mas Yusi.

Loh terus tanda tangan Aan?

Continue reading