kopi susu

Tiga Kopi di Jakarta yang (katanya) Kekinian

Ulasan ini dibuat karena beberapa minggu terakhir gue lagi sering mencoba beberapa coffeeshop dan kebetulan yang disebut di sini adalah es kopi susu yang gue sebut di sini yang lagi sering nangkring di feeds Instagram. Yang perlu diingat gue ini bukan pencinta kopi ekstremis. Gue masih bisa kok minum kopi sachet kalau lagi butuh asupan gula. Juga gue peminum kopi yang lebih sering pakai gula ketimbang ngga. Kecuali lagi pengen yang pahit-pahit demi mengingatkan diri bahwa hidup tak selalu soal yang manis-manis *halah*.

Selain karena gue lagi sering main-main di toko kopi, gue tertarik dengan kesederhanaan dari ketiga kopi ini. Langsung, yuk!

Es Kopi Susu Tetangga – Kopi Tuku

Bisa dibilang hal utama yang memicu gue penasaran sama kopi ini adalah tetangga meja di kantor yang dulu sering banget pesan es kopi susu ini lewat GoFood. HAHAHA. Yang bikin penasaran adalah kenapa mereka sampai bela-belain pesan kopi yang ada di Cipete buat dikirim jauh-jauh ke Slipi. Seenak apa sih?

Setelah coba ini, gue perlu akuin kerasa bedanya mana kopi beneran dan kopi lucu-lucuan yang sering gue beli. ENAK!! Gula arennya kerasa dan tentu saja kopinya kuat. Dengan harga Rp 18.000 dapat kopi segini enaknya, rasanya kalau ke S**rbu*ks lagi kok ya sayang uangnya gitu ya~~ (padahal mah gue tetep aja sih mampir ke S*ucks lagi).

Es Kopi Susu Tetangga ini dijual di Kopi Tuku, kedai kopi kecil di Jalan Cipete Raya No. 7. Terhitung yang paling senior di antara minuman kopi yang mengusung gaya serupa. Kopi Tuku ini memang bukan tipe coffeeshop yang menjual tempat untuk leyeh-leyeh baca buku atau duduk lama mengobrol dengan teman. Bisa sih, tapi yah itu kalau kedainya ngga lagi penuh ya, yang rasa-rasanya jarang sekali terjadi. Area tempat duduk mereka berbentuk L yang hanya cukup diduduki 6-7 orang. Es Kopi Susu Tetangga ini emang lebih cocok buat take and go gitu. Yang ngga suka kopi, ada juga pilihan coklat atau tehnya.

P.S. Kalau mau lebih nyaman, bisa coba Toodz di seberangnya. Setahu gue ini masih 1 owner dengan Kopi Tuku. Toodz ini tempat favorit gue dan temen-temen gue di kantor yang dulu. Sering banget ngadain meetup di situ. Menurut gue, makanannya enak, suasananya homey, mushollanya TOP ABIS! Pernah coba cappucino-nya, enak kok. Tapi ya enak aja gitu, ngga sampai bikin terngiang-ngiang. Continue reading

Advertisements

Laki-Laki yang Menjadikan Kita Pusat Perasaannya

“Aku tahu matamu menatap ke mana.”

Seorang kawan berbisik seraya menyenggol lengan kiriku. Aku tersipu, tertangkap basah. Kali itu kami baru tiba di sebuah sesi diskusi buku, laki-laki yang menjadi objek pandangku menjadi salah satu pembicara di depan. Bukan hal yang sulit untuk mengakui laki-laki itu menarik.

“Sudah ada cincin di jarinya.”

Haha. Kenyataan seolah langsung mengetuk kesadaranku. Tak berselang lama, pandanganku beralih pada sosok perempuan yang duduk di deretan penonton, baris depan kananku. Ah, aku ingat. Perempuan itu istrinya. Mereka pasangan yang cukup dikenal, terutama bagi kalangan pecinta buku ibukota. Aku pun tidak jarang melihatnya berseliweran di dunia media sosial.

Mereka manis sekali. Memiliki hobi yang sama dan keduanya pejalan yang mencintai kata-kata. Anak kekinian bilang mereka salah satu #relationshipgoals.

Kemarin sore aku dan kawanku kembali bertemu dengan mereka, lebih tepatnya berkunjung ke kedai bukunya. Si perempuan berkali-kali merekomendasikan buku dan berbagi sedikit ulasan kepada kami. Berhasil ‘menghipnotis’ kami untuk menguras isi dompet demi membawa oleh-oleh buku dari kedainya.

Di tanganku sudah ada satu buku berjudul “And Every Morning The Way Home Gets Longer and Longer” yang ditulis Fredrik Backman, sampai kemudian “In Other Words” milik Jhumpa Lahiri menangkap pandanganku. Aku pernah melihatnya entah di mana dan (aku yakin) sempat memasukkannya pada daftar buku yang ingin aku beli. Lalu aku bimbang memilih buku yang mana.

“Suka Lahiri ya?”

Seseorang mendekat ke arahku dan sepertinya sadar akan kebimbanganku di depan rak buku. Laki-laki itu! Setengah kikuk, aku jawab.

“Iya.”

Hahaha. Padahal aku tidak tahu dan bahkan belum pernah membaca karya Jhumpa Lahiri.

“Bukunya bagus. Saya suka. Itu sebenarnya ditulis bukan dalam Bahasa Inggris, tapi Italia. Jadi seru deh, saat membacanya bisa sekalian belajar Bahasa Italia.”

Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ah, benar-benar pecinta kata. Lucu sekali ya mereka. Kecintaan mereka terhadap buku-buku terlihat jelas saat mereka membantu para pengunjung memilih buku. Rasanya seperti berbicara dengan kurator.

Dua buku berhasil membobol tabunganku. Merusak rencanaku untuk mengencangkan ikat pinggang dan berusaha irit. Apalagi tumpukan buku-buku yang belum dan sedang dibaca masih ada di kamar. Anehnya, aku senang.

Pagi tadi, aku membuka Instagram dan melihat laki-laki itu mengunggah sebuah video. Tokoh utamanya jelas sang istri. Refleks, aku berlanjut berkunjung ke halaman Instagramnya. Menelusuri beberapa post lama. Manisnya mereka! 🙂

“Lihat post-nya dia di Instagram, jelas sekali ya laki-laki itu sayang banget sama istrinya. Hampir semua post dia, pusatnya adalah perempuan itu.”

Barisan kata-kata muncul di Whatsapp-ku. Seolah bertelepati, kawanku pun menyadari hal yang sama, yang tadi juga terbersit di benakku namun tidak kukatakan.

“Iya. Aku lihat. Aku mau yang seperti itu. Cari di mana ya?”

Percakapan kami pun berlanjut. Kawanku akhirnya menjawab dan jawabannya kembali menyadarkanku.

“Kalau laki-laki tipe seperti itu tidak dicari. Biasanya dia akan mendekat sendiri ke kita karena ketertarikannya yang besar kepada kita.”

Ah, lalu di mana aku bisa menemukannya?

[not a Review] Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Holla! Datang kembali dengan review buku ala kadarnya setelah sekian lama terjebak rasa malas padahal sebenarnya buku yang gue baca banyak kok #bukanpamer.

Processed with VSCO with h6 preset

Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Seperti yang sebelum-sebelumnya, seri review kali ini dimulai dari sesuatu di luar bukunya. Well, buku ini sebenarnya diterbitkan bulan Mei tahun lalu tapi kemarin gue baru tergugah untuk membelinya. Entah kenapa.

Saat awal-awal diterbitkan, buku ini memang lumayan sering gue lihat di rak display dan sudah sempat gue bolak-balik cover depan dan belakang, kemudian menimbang-nimbang beli atau tidak. Sayangnya gue selalu terhenti begitu membaca sinopsisnya. Saat itu gue merasa sepertinya nalar gue tak sanggup (yang kadang malas mikir) mencerna buku macam ini. Apalagi baca nama penulisnya. Wew!

Lalu buku ini terbit untuk cetakan ke-2 dengan tampilan baru. Warna biru yang mudah sekali menyenangkan mata gue. Kembali ragu untuk membeli, meski rasanya hati ini memanggil-manggil. #tsah

Continue reading

Selamat Berbahagia :)

Tuhan Maha Adil. Saya tak pernah meragukan itu.

Kemarin saya tak sengaja melihat update seseorang dari masa lalu di Instagram. Sebuah fotonya sedang menimang bayi perempuan menggemaskan. Indah dan menyenangkan. Agak sulit dijelaskan bahwa melihatnya saja saya berbahagia. Kali ini benar-benar ikut berbahagia.

Ketika doa tulus disampaikan agar dia menemukan perempuan yang lebih baik dari saya dan hidup bahagia terkabulkan, sungguh ini melegakan.

Tapi tak disadari saya kemudian berpikir,

“Ah, beruntungnya. Syukurlah, kalau dengan saya mungkin Mas A tidak akan sebahagia ini.”

Terlepas dari jodoh tidak akan tertukar, saya semakin yakin saya sudah mengambil keputusan yang tepat.

Selamat berbahagia, Mas. Mohon doakan saya 🙂

[not a Review] La La Land

DISCLAIMER: Ini isinya cuma hasil meracau gue setelah menonton film yang lagi hits ini. Apalah gue, hanya penikmat film awam yang gatal buat nulis. Mumpung masih hangat, sehangat tahu bulat yang digoreng dadakan. Dan serius, ini resmi jadi salah satu film favorit gue.

Ngga tahu ya. Sebenarnya gue jarang suka film yang berbentuk musikal, teatrikal. Terlalu Bollywood dan kadang suka ngga nikmati alur ceritanya aja gitu, somehow ngebosenin. Kan suka mikir ya lagi ngobrol serius, lah terus joget-joget tambah nyanyi-nyanyi. Tapi La La Land ini jadi pengecualian.

Berawal dari seringnya teaser film La La Land dan lagu City of Stars wara-wiri di lini masa, penasaran gue bertumbuh. Keliatan kan ya dari teaser-nya ini enak dipandang mata gitu. Pesona Ryan Gosling emang lah bikin betah. Uhuk! *kebiasaan, bikin review yang bias*

Continue reading

Ada (si)Apa sih di Depok?

Pertanyaan tersebut kembali muncul ketika Masbos dan Mbakbos ‘memaksa’ gue untuk pindah kost ke dekat kantor yang gue respon dengan 1001 alasan. Sebenarnya sudah ngga asing dengan pertanyaan itu, terutama setelah gue lulus kuliah, yang berarti hilang sudah alasan gue tinggal di Depok. Apalagi ketika tempat kerja gue justru di Jakarta yang meski tidak jauh, tapi perjuangan menjadi commuter itu luar biasa. Luar biasa melelahkan, tapi nyatanya masih terhitung bearable.

Depok adalah tempat di mana teman-teman terdekat gue berada. Yang siap menampung semua lelah dan sampah gue. Yang selalu mengusahakan untuk ada di setiap gue butuhkan. Bertemu mereka itu serupa rasanya ketika menemukan keluarga yang menyambutmu ketika ‘pulang’.

Sejak menginjakkan kaki di Depok, kost yang saat ini gue tinggali adalah kost ke-3. Kost serba ada karena selain kamar-kamar kost, dalam 1 bangunan ini ada warnet, toko kelontong, fotocopy-an, tempat penitipan sepeda motor, dan warung bakso. Kamar kost yang masih di bawah 1 juta plus koneksi internet LAN unlimited dan super cepat, stasiun kereta yang persis depan kost, itu jelas LANGKA. Belum lagi aneka jajanan dan tempat makan yang tinggal ngesot doang, dijamin bikin lapar mata.

Suntuk di kost? Bisa jalan kaki beberapa ratus meter ke Gramedia, Margo City, atau Detos. Mau coba hangout? Kafe-kafe gaul juga mulai bermunculan di pinggiran Margonda.

Kangen suasana kampus, punya niat mulia untuk olahraga rutin, atau sekadar cuci mata lihat dedek-dedek gemes? Ah, tinggal jalan atau jogging saja di UI.

Delapan tahun gue di Depok. Kota ini jadi saksi bisu seorang anak daerah yang cenderung anti sosial, polos, dan ngga ngerti apa-apa dituntut untuk jadi anak serba bisa dan mandiri. Tanpa gue sadari, Depok sudah menjadi rumah kedua. Sejak gue bekerja, definisi pulang adalah pulang ke Depok.

Ada apa sih di Depok? Ada siapa?

Orang-orang hampir selalu memberikan respon yang sama ketika gue sebutkan tempat gue bekerja dan di mana gue tinggal. Sulit menjelaskan rasa familiar dan nyaman yang tak terdefinisikan. Ada sisa-sisa kenangan yang belum mau gue tinggalkan. Ada hal-hal abstrak yang menahan gue di sini, di kota ini.

Lalu gue sadar. Bukan hal-hal yang ada di Depok yang menahan gue untuk tetap di sini, tapi kegelisahan-kegelisahan gue. Gue takut di tempat lain, gue ngga akan menemukan rasa ‘pulang’ itu.

Mungkin justru inilah pertanda gue harus segera beranjak. Meninggalkan zona nyaman.

*dalam upaya menyiapkan hati dan mental untuk meninggalkan Depok*