Payung Teduh, Akad, dan Harapan

DISCLAIMER:

Ditulis karena merasa perlu mengenang Payung Teduh (yang akan bubar ini) di suatu saat di masa depan. Gue nggak ngerti apa-apa soal musik, nggak bisa main alat musik, pun mengenali nada. Gue cuma tahu Mas Is doang di antara anggota-anggota Payung Teduh yang lain. Jadi, ya tulisan ini murni ditulis sebagai memorabilia dan opini pribadi saja.

Kenapa menuliskan ‘Payung Teduh, Akad, dan Harapan Perempuan’ sebagai judul? Tentu saja karena, tidak bisa disangkal, lagu Akad inilah yang semakin meroketkan pamor Payung Teduh. Lagu Akad, lagi-lagi tidak bisa disangkal, mewakili curahan hati dan harapan para lajang yang ingin bersegera melangsungkan akad. Dengan menggunakan bahasa dan musik yang mudah dicerna, Payung Teduh mampu memeluk hampir semua kalangan melalui musiknya. Continue reading

Advertisements

itu tadi pagi, entah sore nanti.

pagi tadi seolah-olah saya ingin berhenti. bukan, bukan soal pekerjaan tentunya. tapi soal si A, si B, dan si C. hahaha. (sok) banyak ya. saya pikir memiliki lebih dari satu pilihan adalah sebuah keuntungan, nyatanya tidak. tidak, kalau pilihan-pilihan itu tidak jua memberi tanda. hahaha.

pagi tadi seolah-olah saya ingin terus tertawa, pada diri sendiri. membodoh-bodohi diri memang hal paling mudah. seru rasanya sekali-kali mengakui salah sendiri. asal jangan lalai memeluk dan memaafkan diri.

pagi tadi seolah-olah saya mati rasa. si A, si B, dan si C; yang awalnya (sebut saja beberapa hari lalu) masih membuat saya tersenyum-senyum sendiri, menjadi seperti tidak ada artinya.

pagi tadi seolah-olah tekad sudah membulat. sampai sini saja. saya kehabisan amunisi, bahan bakar, entah apa namanya. untuk menyambut rasa-rasa itu. penasaran, rindu, kesal, kecewa.

itu tadi pagi, entah sore nanti.

 

Sebuah Pesan Sponsor

Beberapa waktu lalu mencoba menuliskan curhatan kejadian beberapa bulan lalu yang lumayan membuat gue kepikiran. Akhirnya berani menuliskannya di Kamantara.id, “Bersendiri: Bagaimana Jika Statusmu Menjadi Beban bagi Orangtuamu?“.

Kenapa memilih menuliskan di platform publik? Well, (mungkin) karena sebagian diri gue pengen cerita gue dibaca orang dan gue ‘mencari teman’. Karena gue yakin, nggak cuma gue yang merasakan ini.

Jika punya waktu senggang, sila dibaca ya! 🙂

 

zsazsazsu

It’s complicated. Long story.

Katamu ketika kutanya tentang kekasihmu. Entah kau tahu atau tidak, aku menghela napas panjang.

I’m all ears. Ceritakan padaku.”

It is a long story. Nggak maju, nggak mundur.”

Kamu berujar kikuk, sambil mengisap rokokmu. Kemudian kau mengalihkan pembicaraan kita. Aku cukup tahu kamu enggan membahasnya.

Mendengar jawabanmu seolah menyadarkanku: kita pun tidak akan ke mana-mana. Akalku berteriak untuk berhenti, untuk segera lari. Meninggalkanmu saat itu juga mungkin harusnya aku lakukan. Tapi hatiku menolak sadar. Biarlah sesal nantinya, aku ingin menikmati saat itu. Kamu di depanku.

Now I know what I like about you. I like your eyes.

Why?

I used to hate my eyes. Bahwa ada seseorang yang menyukainya, ini sesuatu yang asing buatku.

I don’t know. I just like it. Lucu.”

Aku tersenyum. Indeed, it made me happy.

“Then do you know what I like about you?”

Lalu kamu memiringkan kepalamu, matamu menunggu, mengisyaratkan bahwa kamu ingin tahu.

You’re smart. I love the way you talk, the way you craft the words.

Sepertinya kamu menganggap pujian ini aneh, bahkan mungkin tak pernah kamu dengar. Kamu hanya tertawa kecil, kemudian menyesap cappucino hangatmu.

Obrolan kita pun terinterupsi oleh pesan yang masuk ke ponselmu. Selama beberapa saat, kamu sibuk membalasnya. Aku pun menggunakan waktuku untuk hal yang sama.

“Do you know what? I want to kiss you.”

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku, darimu. Seseorang yang berada di depanku, yang sedang tersenyum malu-malu. Alih-alih membalas pesanmu, aku hanya diam. Memandangimu sambil ikut tersenyum. Suasana rooftop kedai kopi yang membuatku sedikit kedinginan kini tiba-tiba menghangat. Untuk ke sekian kalinya malam itu, aku tersenyum. Kegirangan.

Agendamu yang padat membuatmu harus segera mengakhiri pertemuan kita. Kembali ke dunia masing-masing, kembali ke kenyataan. Kamu pun pamit duluan, tanpa berkata apa-apa.

“Take care.”

Pesan darimu masuk tepat saat jemputanku tiba.

I knew I should have put an end to it. But no, I couldn’t deny my heart. So I replied,

“You too. Thanks for today. Actually I want to kiss you too.”

Image:

Alex Jodoin

 

#darimasalalu

“Diam-diam, kini perasaanku dengan lancangnya merindukanmu. Padahal aku belum izinkan kau masuk.”

Gue nggak bisa tidur dan otak gue penuh serasa ingin dimuntahkan. Membuka drafts yang menumpuk di blog, ternyata menemukan dua kalimat di atas. Tertulis “5 years ago”. Nyebelinnya, gue masih ingat siapa objek tulisan ini dan bagaimana rasanya. Seingat gue, tulisan ini pernah gue publish, tapi gue redraft karena ketahuan orangnya. Simply, karena gue keki ketahuan. Bodoh ya?

Ah, tidak apa-apa. Karena bodoh, kita bisa belajar banyak hal. Asalkan mau. Ya kan?

Sudah 5 tahun. Berlalu. Ternyata ada rasa aneh yang belum benar-benar pulih.

Kepada Pria Pencinta Ombak

Kamu telah menemukan ombakmu. Riak yang menyertaimu,

mendengarkan apa yang kau katakan, pun yang tidak.

Yang mengisi pantaimu.

Lalu kau bosan.

 

“Yang terus berulang, suatu saat henti.”*

 

Alunan Banda Neira mengantarmu pada dahaga

akan pantai dengan ombak yang lebih menantang.

Jiwa peselancarmu enggan diam.

 

Kusambut kau dengan biru, pantai dan langit.

Serta suka cita rasa yang menggelitik resahmu.

 

Pada akhirnya, dengarlah sayang

Riuh gemuruh hatimu

Apakah itu untuk aku?

 

Berhentilah. Kembalilah.

Aku bukan pantai yang kau cari.

 

*lirik dalam Banda Neira - Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti
Image:

Steven Spassov