Photo by Rémi Walle on Unsplash

Andai Kata, Andai Kita

dulu kau bilang

“lebih baik kita coba,

daripada terus berandaikata.

aku punya rasa,

tapi ragu jika kusebut cinta.”

 

aku bilang

“tak apa. asalkan kita bisa bersama.”

 

andai kata cerita kita tak nyata,

apakah kita bisa saling mencinta?

 

andai kita tak pandai membaca tanda,

apakah saat ini kita masih bersama?

 

Photo by Rémi Walle on Unsplash
Advertisements

#MenjelangHariIbu

Apologia Untuk Sebuah Nama—Revolvere Project

Akan kucerikatan kepadamu hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi barangkali mulai sering lupa kita sapa.
Dialah perempuan yang pertama kali mengajarkan kita kata-kata, bahasa, nada, dan apa saja yang membuat kita bahagia. Dialah perempuan yang pertama kali mengajarimu memakai sepatu atau memotong kuku.
Dialah perempuan yang suatu hari akan melihat kita melangkah pergi, dengan sepatu yang lain, meninggalkannya sendiri: menangis pilu bersama denyit engsel pintu.
Dialah Ibumu. Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-nama-Nya. Nama yang merangkum cinta dari seluruh sejarah manusia. Perempuan yang tak pernah dicemburui Tuhan untuk dicintai manusia jauh mendahuluiNya: Sebab mencintainya, juga berarti mencintai-Nya.

Di manakah dia sekarang?
Apa kabar dia sekarang?
Bagaimana perasaannya?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah kau tanyakan untuknya, baginya pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada untukmu. Di pasar, di dapur, di kantor, di jalan, di terminal, di tempat suci, di manapun… baginya, segala tentangmu adalah doa: Tuhan, semoga anakku baik-baik saja!

“Ibu, aku ingin mainan baru!”

“Ma, kenapa bajuku belum dicuci, sih?”

“Mak, aku kan sudah bilang jangan terlalu sering telepon!”

“Bun, aku tak sempat membelikan oleh-oleh buat Bunda.”

“Bu, aku nggak bisa pulang lebaran ini. Waktunya sempit sekali.”

… seburuk apapun kau memperlakukannya, Ibu akan tetap bangun pagi untuk sembahyang: mendoakan segala yang terbaik untukmu. Lalu memasak—menyiapkan sarapan untukmu. Kemudian mencuci, menyetrika pakaianmu, melepasmu pergi dengan senyuman dan lambaian, mencemaskanmu, menunggumu pulang, menceritakan semua prestasimu pada teman-teman dan tetangganya, merawatmu ketika sakit, atau dengan lugu meminta maaf: “Maaf barangkali Ibu belum bisa membahagiakanmu.
Dialah Ibu, perempuan yang selalu menatap kepergian kita dengan cemas—menunggu semua kepulangan kita dengan perasaan yang waswas. Dialah perempuan yang barangkali melupakan sakitnya sendiri untuk merawat sakit kita yang selalu terlalu manja.
Dialah Ibumu, perempuan suci yang telah dan akan selalu menyayangimu seperti laut melindungi terumbu. Meskipun kadang kau merasa tak bersamanya, cintanya selalu mengalir di seluruh jalan darahmu. Hingga habis usiamu.
Ya, inilah hikayat sebuah nama, tempat segala cinta bermula dan bermuara. Tuhan begitu menyayangi setiap Ibu, sehingga jika kita mendapatkan restunya, Tuhan berjanji merestuimu: Lapanglah segala jalan kebaikanmu, terbukalah semua pintu sorga untukmu.
Tetapi apabila Ibumu menangis karenamu dan kesedihan menetes sampai ke hatinya, sebagian malaikat akan mendoakan butiran-butiran air matanya, hingga menjadi kristal cahaya yang akan membuat sebagian malaikat lainnya merasa silau dan marah kepadamu!
Maka tersebab kemarahan para malaikat adalah kemarahan yang suci: Tuhan tak melarang mereka tatkala menutup segala pintu kebaikan untukmu, menggugurkan semua pahala untuk menutup pintu-pintu sorga untukmu—hingga Ibu memaafkanmu.
Kenangkanlah, Ibu selalu mencintai kita seolah tak ada hari esok, sementara kita terus berjanji akan membahagiakannya besok atau nanti, jika sudah selesai dengan diri kita sendiri. Mungkin kita berjanji—diucapkan atau sekadar pada diri sendiri—akan membelikannya rumah megah, mobil mewah, atau memberangkatkannya naik haji. Tapi kapankah akan terjadi?
Entahlah, tidak ada yang tahu. Sementara ibu kita terus menyayangi dan mencintai kita dengan luar biasa, meski dengan cara-cara sederhana. Kita? Entahlah. Barangkali takdir kedua kita sebagai anak adalah (mengaku) mencintai ibu kita, dengan pembuktian-pembuktian yang selalu tertunda.
Demikianlah hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi mulai sering lupa kita sapa: IBU. Perempuan yang pertama kali mengajarkan kita dua kata sederhana, “terimakasih” dan “maaf”, untuk tak pernah kita ungkapkan dua kata sederhana itu kepadanya.
Akankah tiba saatnya kita mengenangnya hanya sebatas nama, sambil mengumpulkan satu per satu helai-helai rambutnya yang rontok dan keperakan—dari baju hangat peninggalannya?
Akankah tiba saatnya bagi kita ketika semuanya sudah terlambat, sementara sesal tak akan sanggup mengembalikan lagi senyumnya—lembut matanya?
Ya, barangkali ibu kita memang bukan ibu terbaik di dunia, sebab kita juga bukan anak terbaik di dunia. Ibu tak pernah menghitung apapun untuk tulus mencintai kita. Maka tak perlu menghitung apapun, cintailah ia dengan sederhana—sejauh yang kita bisa.
Semoga kita belum terlambat!

hari pun terus berlalu
tak terasakan olehku
ku telah sering
melukai hatimu

namun kau sabar
menunggu
terus berdoa untukku
kapankah ku akan sadar hal itu

maafkan aku
membuat menangis sendu
ku tak bermaksud
mengecewakanmu

oh Ibu,
berikanlah kasihmu
hadapi kelakuanku
semua sifat burukku

oh Ibu,
berikanlah maafmu
sungguh bukan maksudku
membuatmu menangis sendu

waktu pun terus berlalu
tak bisa kuubah masa lalu
tak bisa kulupa semua
kejahatanku

namun bila kau dengar lagu
lagu yang tercipta untukmu
kumohon maafkanlah
semua kesalahanku

 ******

Diambil dari sini. Yang ingin tahu mengenai Revolvere Project, dapat mengunjungi blog tersebut.
Jujur, dari menit pertama melihat video tersebut mata saya sudah berkaca-kaca. Sampai akhirnya bulir-bulir bening itu memburamkan pandangan saya. Iya, saya menangis, terisak. Sungguh, segala hal terkait orang tua itu merupakan sesuatu yang membuat saya sangat cengeng. Apalagi tentang Mama. Ibu. Teringat bahwa saya hanya menyumbang setitik debu dari semua senyuman dan kebahagiaan mereka. Bahwa waktu yang saya punya untuk membahagiakan mereka semakin terbatas. 😥
Terima kasih, Revolvere Project yang telah berusaha mengetuk pintu-pintu hati kami, para anak yang terpapar lupa. Lupa bahwa sungguh Ibu tak pernah kenal lupa untuk mencintai anak-anaknya. 
Terima kasih, Mam. Tak punya kata-kata, selain: aku sayang Mama. :’)

[PUISI]Sewindu Rasa yang Lalu

sewindu rasa yang masih sama
perih hati dalam sejumput rindu
ketika tahu singgasana hatimu tlah bertuan

dalam pengap rasa aku
menunggumu
berharap lelah menghentikanku
menunggumu

untuk sewindu rasa yang masih di sini
berselisih dengan waktu

diantara hela nafas
aku ikhlaskan rasa ini untuk pergi
bersama derai hujan
membawa kisah-kisah hati

lihatlah,
langit itu ikut menangis bersamaku

Yaa Muqollibal Quluub

cinta tak pernah salah
apa dong yang salah?

waktu, cara, subyek, tempat?

cinta menjadi salah
ketika mutlak tak ada logika,
buta

cinta buta hanya untukNya
ketika tak perlu lagi ada logika
hidupku, matiku, ibadahku
hanya untukMu
Maha Pembolak-balik Hati

aku bukan seorang berhati baja
pernah ada dimana rasa di hati
mengalahkan segalanya

hanya karena aku yakin
Kau Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati
aku bertahan, aku berharap

bisakah Kau berikan hati itu untuk dicintai?
hati yang juga tulus mencintaiMu 
izinkan dia datang jika saatnya tiba
siapkan dia untukku nanti

saat ini,
tetapkan hatiku untukMu
jaga hatiku tetap di jalanMu

duhai Dzat Maha Pembolak-balik Hati,
aku merindukan hati itu

Mantra

Hey,
berikan aku mantra itu
serta semilir harum peppermint
yang meninabobokan aku

yang menyihirku dengan hening
menghipnotisku dengan damai
dalam tidur yang melelapkan

serentetan kalimat sakti
yang berbisik di telinga
tak lagi terdengar
aromaterapi tak lagi tercium

ada langit terbentang di sana
busur pelangi melengkung di ujungnya
padang hijau menghampar
gemericik air yang berirama

berat kubuka kelopak mataku
begitu mantra itu tak lagi bekerja

aku terjaga
dari dunia indah yang kau ciptakan
dengan sebuah mantra


jejak rasa

aku tinggalkan jejak rasa
biar nanti kau bisa menemukannya

entah kapan
tapi tidak saat ini

mungkin bukan pesan dalam botol
yang harus kuarungkan ke laut

aku terlalu cemas
kau tak akan menemukannya

selembar kertas dan sebuah pena
adalah jejak yang kutinggalkan

itu akan membuat kau mengerti

betapa kertas menjadi saksi perasaan yang aku tulis untukmu
betapa pena menuntunku berbicara lewat keindahan bahasa

kertas tanpa kata-kata
hanya ditemani pena usang

aku yakin
kau cukup mengerti tentang itu


>>lagi ga bisa mikir banyak. tapi banyak hal meluap-luap dalam otak. kayanya tambah aneh kalo ga dikeluarin. alhasil, dari kemarin buat puisi tentang yang “satu itu” mulu…Yaelah, sentimentil sekali…! <<

bukan puisi

aku sang pemuja kata
tiba-tiba diam seribu bahasa
di depanmu

napas yang kuhela
awal dari semua
diiringi sebait doa
aku mencoba

ya,
kenyataan bahwa aku bukan pujangga
buatku kelu ucapkan rangkaian kata

padahal kau menunggu
harus kuacungkan jempolku
kesabaranmu

kau mati-matian membunuh bosan
sedangkan aku
hampir mati menahan rasa

mengatur jantung yang berdegup tak beraturan
itu susah tahu!

jari telunjukmu terus mengetuk-ngetuk
seirama dengan detik yang berlalu

walau kau tak jua merasa
aku telah berkata

Tuh kan,
kau langsung pergi
dengan langkah panjangmu

tak menghiraukan aku
yang terdiam kaku

kau marah padaku?
karena telah membuang waktumu sia-sia

kau lupa janjimu
untuk tetap bersamaku
sekalipun kau mati rasa terhadapku