On Choosing

I believe that love is a choice. However, I cannot just simply choose.

Taking a move can be risky. Expressing genuine feelings of love is not easy. Making a commitment requires courage.

I’ve made many mistakes in my search for love, but I learned my lessons. If I don’t like someone, I will try to say ‘No’. Because I know it will waste my time and life as well as theirs, because if we’re in a relationship with someone who doesn’t make us happy, we’re both missing out on someone better. Not too long ago, I told someone who has been a great friend for almost a decade that I have a feeling for him. It did take a lot of courage. But I knew it was a way of finding out who and what I really like and want. Indeed, love comes to the brave ones. And I’m still learning to be brave, to take chances and risks.

Advertisements

helpless

Was it love? I think it was but I’m far from sure
I’d never felt that way before, was it love?
Just friends, am I a fool to be asking for
A fool to wish that we could be more than friends?
Take a step and come out of the shade
I can tell you’re no longer afraid
I’m helpless without your warming smile

– The Perishers, Come Out of The Shade

letter to you

Selamat malam, Kamu 🙂
Orang bilang merasakan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama itu hal yang harus kita usahakan, singkatnya itu kadang bukan sesuatu yang mudah. Hal ini jauh berbeda ketika saya bertemu denganmu. Lelaki yang membuat saya tersenyum setiap detiknya ketika kita sedang bersama.
 
Kamu, lelaki yang selalu dapat membuat saya merasa ingin menjadi yang terbaik. Kamu, lelaki yang dengan baik hati menemani saya makan malam padahal saya tahu kamu lelah. Kamu, lelaki yang mau mendengarkan segala celotehan saya dan mampu membuat semua obrolan jadi penuh makna.
 
Saya jatuh cinta, dengan sangat dan cepat. Sesuatu yang saya ingkari sedari dulu, lalu lama-kelamaan saya sadari dan akhirnya saya terus simpan dalam hati.
 

Saya jatuh cinta, dengan sukarela. Meskipun ketika kamu masih bersama dengan perempuan manis itu, saya masih terus belajar menata rasa yang selalu tentang kamu. Menjadikannya samar agar kamu tetap nyaman berhubungan dengan saya. Untuk menyelamatkan KITA, atas nama persahabatan.Saya tak pernah marah melihatmu mencintainya, bahkan saya (dengan setengah hati, yang saya sadari kemudian) terus menyemangatimu. Tapi sungguh, harapku agar kamu bahagia adalah tulus.
 
Tahukah kamu apa yang terjadi denganku ketika kamu dengan begitu santainya mengatakan kamu rindu? Saya tak habis-habisnya tersenyum, berhari-hari. Hati saya berdentum-dentum. Rasanya milyaran kupu-kupu beterbangan dalam perut saya. Sebaliknya, saya tak tahu apa yang kamu rasakan. Mungkin kamu menulisnya sambil lalu, mungkin detik berikutnya kamu lupa, mungkin hari berikutnya kamu katakan itu pada orang lain.
Dalam selipan waktu yang kita habiskan bersama, kalau kamu sadar, saya seringkali mencuri pandang dan kemudian diam-diam tersenyum. Menaruh tangan di dada merasakan debar-debar yang takut terdengar olehmu. Menahan tangan agar tak sembarang menggenggam tanganmu atau memeluk tubuh kurusmu.
 
Rasa ini selalu tentang kamu, meskipun saya sibuk berbohong bahwa saya mencintai orang lain. Kita tak pernah berbagi peluk, tak pernah bertukar kecup manis, tak pernah pula berpegangan tangan. Itulah yang awalnya membuat saya berpikir tak ada romansa di antara kita. Kita hanya belajar tentang satu sama selain, saling mendengarkan dan bercerita. 
Saya jatuh cinta, berulang kali, dengan lelaki yang sama. Kamu.
“But then, I realised that actually, it was not platonic. It was romantic. 
I am the only one in love. YES, I KNOW IT. And I also know that I cannot tell you about it.
 
All of it will come back to falling in love with YOU. Desperately, I will look for the one who is ‘like’ you. You will always be a shadow, controlling my feelings about everybody else.
 
But we never happened. And that’s okay. 
One thing I don’t know, is it really true that I’m the only in one in love?”

denials

Having mood swings when you have your period is so effing annoying. So this is it. I’m feeling so gloomy…dwelling upon past memories…and yes, getting nostalgic about you…I still remember the last time we met, the last time we’re together, the last lunch we shared. The universe seems conspiring to remind me about us parting ways…
Right from the start, what I have done is denying, confronted the reality that it’s actually not just a pure platonic love. Yes, my life is full of denials. Such a coward, huh?

I completely deny myself of acknowledging anything about this fact. Yet, deep in my heart, I know I want you back, I want my best friend back. I want our friendship back like we had before.

But now, it seems so difficult to make it happens. to bring back us to the moment we shared as friends.

Hello, dear. How are you? I miss you.



[pardon my English. it’s so awful, isn’t it? 😦 ]

#platonik

Saya percaya, cinta platonis itu ada. Seperti itulah perasaan saya pada seorang lelaki, sahabat semenjak saya masih SD. Cinta antar sahabat. Tanpa nafsu, tanpa otoritas, tanpa ada kisah kasih.
Saya menyukainya, mencintainya. Kepadanya saya tidak sungkan bilang “Gw kangen. Gw sebel sama lu.”
Kepadanya tempat saya berbagi cerita-cerita yang membutuhkan lebih dari sekedar nasihat atau kata-kata bijak.
Saya pernah hilang arah. Dilema.
Jujur, persahabatan antara saya dan dia, layaknya persahabatan antara perempuan dan lelaki lainnya. Rawan diwarnai hal-hal yang nge’pink’. Dan harus saya akui, saya yang mulai merasakannya. Ketika perhatian saya mulai berubah dari sekedar sahabat menjadi sesuatu yang melenceng dari konteks seorang sahabat. Ketika saya mulai memandangnya lebih dari sekedar sahabat. Sebelum saya terlalu jauh merasakannya, saya berhenti. Jauh, jauh sebelum semuanya terlambat. Saya sadar perasaan itu timbul karena kenyamanan, sesuatu yang saya sendiri tidak bisa deskripsikan dengan tepat dan jelas.
Sungguh, saya berharap dia mendapatkan seseorang yang baik. Yang entah kenapa saya yakin, bukan saya. Ada seseorang di sana yang lebih pantas untuk dia. Bukan menyerah, bukan mundur dari pertandingan, bukan pesimis…ketimbang menjadi sesuatu yang lebih, saya memilih tetap menjadi sahabat, dimana kata ‘selamanya’ jauh lebih mungkin diwujudkan.

entah kenapa hari-hari terakhir ini kayanya semua hal yang saya dengar, saya baca, saya lihat berhubungan dengan “Sahabat Jadi Cinta”. Dan selang beberapa hari dari tulisan ini saya tampilkan di blog. Obrolan di Twitter (yang dimulai oleh @Terrantbooks) malah membahas hal yang sama…huhuhu. — 18052010

[PUISI]Sewindu Rasa yang Lalu

sewindu rasa yang masih sama
perih hati dalam sejumput rindu
ketika tahu singgasana hatimu tlah bertuan

dalam pengap rasa aku
menunggumu
berharap lelah menghentikanku
menunggumu

untuk sewindu rasa yang masih di sini
berselisih dengan waktu

diantara hela nafas
aku ikhlaskan rasa ini untuk pergi
bersama derai hujan
membawa kisah-kisah hati

lihatlah,
langit itu ikut menangis bersamaku