Pertanyaan Ajaib dari Nyokap

Tulisan kali ini sebenarnya udah dari September lalu mau dibahas, tapi ya begitulah…semua hanyalah wacana. (~.~)/||
Apa yang mau dibahas???
Well…ini soal nyokap. Jadi gini ceritanya…
Pada suatu pagi yang sibuk dan hectic di bulan September, tetiba masuk BBM ajaib dari nyokap seperti ini:
ini beneran bbm nyokap, bukan oknum-mama-minta-pulsa

Berhubung itu BBM datang di jam kerja dan ketika si anak lagi riweuh sama proyeknya (saat itu saya lagi di luar kantor urusan kerjaan), jadilah si anak cuma baca sekilas isi BBMnya. Dan itu pun cuma kalimat ke-2 (kalimat pertama terlupakan). Ya karena sibuk dan ga sempat bales, jadi itu BBM dianggurin aja *sungkem ke emak*
Nah, pas malem-malem pulang dari kantor, si anak teringatlah pada BBM itu dan kemudian merasa bersalah. Yang ada di pikiran adalah “Oh iya! Emak gue minta pulsa tadi pagi!”. Eh pas saya cek lagi…barulah kebaca kalimat pertama itu.
Reaksi pertama: HEM? APAAN NIH? TEMAN LAMA? ISTIMEWA? SIAPA?
Reaksi kedua: INI EMAK GUE BUKAN SIH?
Asal tahu aja nih, mamah dan saya adalah tipe-tipe ibu-anak yang jarang banget berbagi soal beginian. Iya, hampir gak pernah karena saya paling gak suka bahas ini. Hal-hal yang disampaikan ke nyokap hanyalah sesuatu yang PENTING dan SERIUS.
Nah, makanya kalau tetiba nyokap bertanya begituan itu kadang-kadang suka bikin diri ini bertanya-tanya. Apalagi nyokap bukan tipe orang yang frontal nanya atau nyebut nama. Misalnya: nyokap selalu menyebut teman dekat/pacar dengan ‘teman dekat’. Jadi suka bingung sendiri, siapa yang dimaksud nyokap.
Contoh kasusnya kaya pertanyaan di BBM itu. Nyokap nanya soal ‘teman lama’. Awalnya bingung, ini definisi ‘teman lama’ versi nyokap itu apakah ‘teman semasa sekolah/kuliah’ atau ‘mantan gebetan/pacar’. Tadinya sih saya pikir yang maksudnya itu versi yang pertama ya, tapi setelah baca-baca lagi keseluruhan kalimat dan mengingat-ingat cerita apa yang sampai ke telinga nyokap, sepertinya itu lebih cocok dengan definisi versi ke-2. Kemudian, dengan campuran bingung dan pura-pura polos, saya pun bertanya ke nyokap: “Teman lama? siapa mam?” setelah hampir 12 jam saya tak hiraukan itu BBM.
Balesannya? Ngga ada. 
Iye, nyokap gak menjawab pertanyaan saya dan malah bahas topik lain. (–;)
Ya saya pun gak nanya lagi sih, lega juga beliau tak melanjutkan bahasan itu. HAHAHA!
 Sebenarnya kalau bagi ibu-ibu yang lain, mungkin gak aneh ya dengan pertanyaan-pertanyaan kaya gitu. Tapi ini nyokap…
Kalau nyokap mulai tanya-tanya gitu, berarti tandanya….
MAMPUS GUE!
Bisa diliat kalimat lanjutan nyokap di BBM (diedit dengan tambahan tanda baca):
“Ada yang istimewa ga? Belajar berani dong, jangan ditunggu kalau ada yang disuka”
Entah kenapa selalu pengen ketawa tiap baca bagian itu. Macam mana nyokap ngajarin buat berani, katanya jangan ditunggu kalau ada yang disuka. Masalahnya ‘yang disuka’ itu belum ketemu. Ada sih ‘yang disuka’ tapi udah gak available, ya gak masuk itungan dong yah. >,<
Abis itu gak ada omongan atau pertanyaan lain sih, paling cuma selingan “Gimana? Ada teman dekat ga?” yang kadang cuma numpang lewat di telinga saya dan kemudian saya jawab dengan 1 kata sederhana: “Belum”. Biasanya sih nyokap langsung mati gaya kalau saya udah jawab gitu. *pukpuk emak*
Mak, mak…anaknya masih bocah, jangan disuruh kawin dulu plis. Kalau disuruh pacaran, anaknya suka sok sibuk. Ngurus diri sendiri aja suka susah, apalagi disuruh perhatiin anak orang. :”)
 
Advertisements

#MenjelangHariIbu

Apologia Untuk Sebuah Nama—Revolvere Project

Akan kucerikatan kepadamu hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi barangkali mulai sering lupa kita sapa.
Dialah perempuan yang pertama kali mengajarkan kita kata-kata, bahasa, nada, dan apa saja yang membuat kita bahagia. Dialah perempuan yang pertama kali mengajarimu memakai sepatu atau memotong kuku.
Dialah perempuan yang suatu hari akan melihat kita melangkah pergi, dengan sepatu yang lain, meninggalkannya sendiri: menangis pilu bersama denyit engsel pintu.
Dialah Ibumu. Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-nama-Nya. Nama yang merangkum cinta dari seluruh sejarah manusia. Perempuan yang tak pernah dicemburui Tuhan untuk dicintai manusia jauh mendahuluiNya: Sebab mencintainya, juga berarti mencintai-Nya.

Di manakah dia sekarang?
Apa kabar dia sekarang?
Bagaimana perasaannya?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah kau tanyakan untuknya, baginya pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada untukmu. Di pasar, di dapur, di kantor, di jalan, di terminal, di tempat suci, di manapun… baginya, segala tentangmu adalah doa: Tuhan, semoga anakku baik-baik saja!

“Ibu, aku ingin mainan baru!”

“Ma, kenapa bajuku belum dicuci, sih?”

“Mak, aku kan sudah bilang jangan terlalu sering telepon!”

“Bun, aku tak sempat membelikan oleh-oleh buat Bunda.”

“Bu, aku nggak bisa pulang lebaran ini. Waktunya sempit sekali.”

… seburuk apapun kau memperlakukannya, Ibu akan tetap bangun pagi untuk sembahyang: mendoakan segala yang terbaik untukmu. Lalu memasak—menyiapkan sarapan untukmu. Kemudian mencuci, menyetrika pakaianmu, melepasmu pergi dengan senyuman dan lambaian, mencemaskanmu, menunggumu pulang, menceritakan semua prestasimu pada teman-teman dan tetangganya, merawatmu ketika sakit, atau dengan lugu meminta maaf: “Maaf barangkali Ibu belum bisa membahagiakanmu.
Dialah Ibu, perempuan yang selalu menatap kepergian kita dengan cemas—menunggu semua kepulangan kita dengan perasaan yang waswas. Dialah perempuan yang barangkali melupakan sakitnya sendiri untuk merawat sakit kita yang selalu terlalu manja.
Dialah Ibumu, perempuan suci yang telah dan akan selalu menyayangimu seperti laut melindungi terumbu. Meskipun kadang kau merasa tak bersamanya, cintanya selalu mengalir di seluruh jalan darahmu. Hingga habis usiamu.
Ya, inilah hikayat sebuah nama, tempat segala cinta bermula dan bermuara. Tuhan begitu menyayangi setiap Ibu, sehingga jika kita mendapatkan restunya, Tuhan berjanji merestuimu: Lapanglah segala jalan kebaikanmu, terbukalah semua pintu sorga untukmu.
Tetapi apabila Ibumu menangis karenamu dan kesedihan menetes sampai ke hatinya, sebagian malaikat akan mendoakan butiran-butiran air matanya, hingga menjadi kristal cahaya yang akan membuat sebagian malaikat lainnya merasa silau dan marah kepadamu!
Maka tersebab kemarahan para malaikat adalah kemarahan yang suci: Tuhan tak melarang mereka tatkala menutup segala pintu kebaikan untukmu, menggugurkan semua pahala untuk menutup pintu-pintu sorga untukmu—hingga Ibu memaafkanmu.
Kenangkanlah, Ibu selalu mencintai kita seolah tak ada hari esok, sementara kita terus berjanji akan membahagiakannya besok atau nanti, jika sudah selesai dengan diri kita sendiri. Mungkin kita berjanji—diucapkan atau sekadar pada diri sendiri—akan membelikannya rumah megah, mobil mewah, atau memberangkatkannya naik haji. Tapi kapankah akan terjadi?
Entahlah, tidak ada yang tahu. Sementara ibu kita terus menyayangi dan mencintai kita dengan luar biasa, meski dengan cara-cara sederhana. Kita? Entahlah. Barangkali takdir kedua kita sebagai anak adalah (mengaku) mencintai ibu kita, dengan pembuktian-pembuktian yang selalu tertunda.
Demikianlah hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi mulai sering lupa kita sapa: IBU. Perempuan yang pertama kali mengajarkan kita dua kata sederhana, “terimakasih” dan “maaf”, untuk tak pernah kita ungkapkan dua kata sederhana itu kepadanya.
Akankah tiba saatnya kita mengenangnya hanya sebatas nama, sambil mengumpulkan satu per satu helai-helai rambutnya yang rontok dan keperakan—dari baju hangat peninggalannya?
Akankah tiba saatnya bagi kita ketika semuanya sudah terlambat, sementara sesal tak akan sanggup mengembalikan lagi senyumnya—lembut matanya?
Ya, barangkali ibu kita memang bukan ibu terbaik di dunia, sebab kita juga bukan anak terbaik di dunia. Ibu tak pernah menghitung apapun untuk tulus mencintai kita. Maka tak perlu menghitung apapun, cintailah ia dengan sederhana—sejauh yang kita bisa.
Semoga kita belum terlambat!

hari pun terus berlalu
tak terasakan olehku
ku telah sering
melukai hatimu

namun kau sabar
menunggu
terus berdoa untukku
kapankah ku akan sadar hal itu

maafkan aku
membuat menangis sendu
ku tak bermaksud
mengecewakanmu

oh Ibu,
berikanlah kasihmu
hadapi kelakuanku
semua sifat burukku

oh Ibu,
berikanlah maafmu
sungguh bukan maksudku
membuatmu menangis sendu

waktu pun terus berlalu
tak bisa kuubah masa lalu
tak bisa kulupa semua
kejahatanku

namun bila kau dengar lagu
lagu yang tercipta untukmu
kumohon maafkanlah
semua kesalahanku

 ******

Diambil dari sini. Yang ingin tahu mengenai Revolvere Project, dapat mengunjungi blog tersebut.
Jujur, dari menit pertama melihat video tersebut mata saya sudah berkaca-kaca. Sampai akhirnya bulir-bulir bening itu memburamkan pandangan saya. Iya, saya menangis, terisak. Sungguh, segala hal terkait orang tua itu merupakan sesuatu yang membuat saya sangat cengeng. Apalagi tentang Mama. Ibu. Teringat bahwa saya hanya menyumbang setitik debu dari semua senyuman dan kebahagiaan mereka. Bahwa waktu yang saya punya untuk membahagiakan mereka semakin terbatas. 😥
Terima kasih, Revolvere Project yang telah berusaha mengetuk pintu-pintu hati kami, para anak yang terpapar lupa. Lupa bahwa sungguh Ibu tak pernah kenal lupa untuk mencintai anak-anaknya. 
Terima kasih, Mam. Tak punya kata-kata, selain: aku sayang Mama. :’)

my MoMMMMaa!

ini cerita waktu gw pulang ke Cirebon kemaren…
tiba-tiba, pas gw lagi nonton dvd di kamer sama ibu gw,,,ibu nanya
“Git, udah punya kenalan belum?”

hmm,,sebenernya gw tau arah pembicaraan itu kemana, tapi gw iseng untuk bersikap pura-pura bego…hehehe

gw jawab..
“Kenalan apa? Kenalan mah ya banyak dong,,,”

ibu gw lalu mengeluselus rambut gw (hikz…mommaaaa!)
“Ya cowo…udah ada belum?”
trus ada petuah-petuah ibu gw…blablabla…

dan gw menjawab…
“…”

gw cuma diem aja ding,,,bingung jawabnya…
gw emang bukan tipe anak yang suka curhat masalh ginian ke ibu gw, dan gw ma ibu gw paling jarang ngomongin masalah ini ke gw…
mungkin karena nganggep gw udah dewasa kali yaa…

Hahaha…

tapi, ntar dulu deh Mam…

masih jauh euy,,,