Apakah kami, para jomblo, tidak berhak bahagia?

“Awas loh nanti lama-lama keenakan sendiri terus.”

HAHAHAHA. Seriously, guys?

Yep. Itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang biasanya dilontarkan orang-orang ketika melihat gue terlihat bahagia saat traveling atau sibuk bekerja. Setelah rentetan pertanyaan “Kapan nikah?” atau “Kamu ngga mau nikah?”. Biasanya gue akan tertawa-tawa atau senyum meringis. Karena sebagai seorang introvert, bersendiri adalah suatu kesenangan bagi kami. Sesekali kami, para introvert, memang butuh teman untuk berbagi. Tapi dalam beberapa momen, kami mungkin akan lebih memilih melakukannya sendirian.

Jadi, tentu saja “Lama-lama keenakan sendiri” itu tidak berlaku bagi gue. Karena bagi gue, bersendiri pun bisa jadi menyenangkan.

Kadang merasa miris juga dengan orang-orang yang berpikir bahwa kami, para lajang, tidak boleh terlihat bahagia dengan kesendiriannya karena itu akan membuat asumsi bahwa kami tidak ingin menikah dan orang akan mencoret kita dari daftar pasangan potensial untuk dijadikan calon pendamping. Err!

Ngga bohong kalau kadang-kadang gue bertanya-tanya sendiri, “Jadi, gue ngga boleh kelihatan bahagia kalau gue masih sendiri?” atau “Apakah gue harus terlihat vulnerable, kelihatan desperate butuh pendamping supaya orang-orang bisa tahu kalau gue available untuk didekati?” Continue reading

Advertisements
Aside

(belum) menikah

“Gue sedih kalau kita kumpul full nanti Gita jomblo sendiri. Gue aja udah mau punya buntut 2.”

Kira-kira begitulah balasan seorang teman di sebuah Whatsapp Group ketika teman-teman lain mengajak kami bertemu (setelah sekian lama). Kebetulan hari itu salah seorang dari kami melepas masa lajang dan gue pun resmi menjadi satu-satunya single di grup tersebut.

Yes, somewhat rude and insensitive.

Untunglah kali itu mulut gue lagi kalem. Untungnya pula gue baca beberapa jam kemudian ketika teman-teman yang lain sudah melakukan ‘toyor virtual’ (iki opo?) ke pelaku. Setidaknya gue masih bisa behave untuk jaga mulut awak. Alih-alih mengeluarkan kata-kata tak senonoh, gue jawab…

“Insya Allah sudah ada waktunya, haha. Santai aja lah.”

Mencoba tertawa, padahal hati teriris-iris dan emosi membara. Hahaha, ngga deng. Tapi celotehan teman tersebut cukup membuat gue berpikir keras dan gatal buat membalas dengan komentar yang lebih pedas. Bisa aja gue balas,

“Gue udah jalan ke kota ini, kota itu. Lo masih di situ aja. Di rumah, sibuk sama suami dan ngurusin anak.”

Tapi akhirnya gue tahan.

Apakah dengan menikah dan punya anak menjadikan seseorang jadi lebih bahagia dibandingkan orang-orang yang masih sendiri? Continue reading

Kapan Menikah?

Bukan soal lupa, bukan pula soal hilang hasrat, sederhananya ini soal waktu. Jalan setiap orang beda-beda, gak semua orang bisa dengan gampang sampai di tempat ‘tujuan’.

Saya suka jawaban macam Kak Ika ini,

‘Mohon doanya’ jadi jawaban alternatif yang relatif aman dan juga paling disarankan untuk menghadapi serbuan pertanyaan yang sekarang makin lama makin sering didengar, makin jadi membosankan.

Masalahnya, tak semua orang yang bertanya benar-benar peduli. :”)

Tuty’s big day…

Here I am. Di Cirebon. 
Yap, besok salah seorang teman satu SMA dan satu kampus akan menjalani babak hidup baru, yakni menggenapkan setengah agamanya a.k.a menikah. Makanya sengaja saya menyempatkan diri pulang ke Cirebon untuk hadir di gelar akbar ini *halah* *lebay*
Bohong rasanya kalau saya bilang pernikahan teman saya ini tidak berpengaruh apa-apa pada saya. Tidak banyak memang, tapi mengingat usia saya yang twenty-something juga peer pressure yang begitu kuat wajar kiranya jika pernikahan ini menimbulkan sebersit ‘iri’. Kenapa saya pakai apostrophe? Tentunya karena ‘iri’ yang saya maksud ini bukan jenis iri yang tidak suka akan kebahagiaan orang lain.
Iri di sini bagi saya adalah semacam rasa kagum bagaimana teman saya ini di umurnya yang baru 21 tahun berani mengambil keputusan sebesar ini. Saya senang bagaimana teman saya ini akhirnya menemukan seseorang yang akan melindungi dan mencintainya.
“Selamat menempuh bahtera kehidupan bersama suami tercinta, Tuty. Semoga Allah senantiasa melimpahkan banyak cinta dan kasih sayang dalam rumah tanggamu. Semoga tercipta keluarga yang sakinah-mawaddah-warahmah. Amin…”

Get Married?

Akhir-akhir ini saya dikelilingi oleh orang-orang yang lagi semangat-semangatnya memperbincangkan soal ‘menikah’. Itu normal, kata sahabat saya saat kami bertukar pikiran dalam waktu yang singkat. Itu normal ketimbang pacaran, katanya.
Kurang lebih saya setuju dengan pendapatnya, tapi bagi saya pernikahan itu bukan masalah kecil. Bukan hanya mengubah status, menjadikan halal yang tadinya haram, atau meneruskan generasi. Pernikahan bukan dilakukan untuk 1 hari. Tapi, selamanya? Benar kan?
Saya bukan anti nikah dini, bukan juga pendukungnya. Saya mungkin sama seperti yang lain, ingin menikah dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Ketika saya telah siap ‘lepas’ dari bimbingan orang tua, yang nantinya berbakti kepada suami mungkin lebih diutamakan dibanding kepada orang tua. Bukan berarti saya menganggap bahwa menikah akan menghalangi saya untuk berbakti kepada orang tua lho…
Wah, wah…kok saya juga jadi kebawa-bawa ngomongin nikah ya? Hehehe, pengaruh lingkungan emang besar banget. Sudah lama sebenarnya saya mau bahas soal ini, tapi ditunda terus karena merasa ‘kok saya jadi kaya tua banget ya bahas beginian’. 😀
Asal tahu saja, dikarenakan banyak orang-orang di sekitar saya yang setiap obrolan tiba-tiba berujung ke soal pernikahan, beberapa waktu lalu saya jadi ‘alergi’ banget sama topik ini. Kalau ada teman yang memulai obrolan tentang ini sebisanya saya alihkan, atau saya tanggapi dengan asal. Bahkan saya jadi rada ‘paranoid’ dengan berita-berita soal pernikahan (well, ini agak hiperbol dan aneh sih ya).
Kalau saya sendiri sih banyak belajar dari orang-orang di sekitar saya, mulai dari orang tua, om-tante, kakak, sepupu, tetangga, teman…Ada yang langgeng, romantis bikin ngiri, ada yang cerai, ada yang berantem mulu, ada yang nikah siri, ada yang nikah beda agama, ada yang nikah beda usia jauh. Semoga jadi bahan pelajaran untuk masa depan nanti. Kalau saya mungkin sekitar 4-5 tahun lagi kali ya…idealnya sih. Itu plan A. Plan B dan C masih saya serahkan kepada Allah, Sang Pemilik Cinta Hakiki.