jejak rasa

aku tinggalkan jejak rasa
biar nanti kau bisa menemukannya

entah kapan
tapi tidak saat ini

mungkin bukan pesan dalam botol
yang harus kuarungkan ke laut

aku terlalu cemas
kau tak akan menemukannya

selembar kertas dan sebuah pena
adalah jejak yang kutinggalkan

itu akan membuat kau mengerti

betapa kertas menjadi saksi perasaan yang aku tulis untukmu
betapa pena menuntunku berbicara lewat keindahan bahasa

kertas tanpa kata-kata
hanya ditemani pena usang

aku yakin
kau cukup mengerti tentang itu


>>lagi ga bisa mikir banyak. tapi banyak hal meluap-luap dalam otak. kayanya tambah aneh kalo ga dikeluarin. alhasil, dari kemarin buat puisi tentang yang “satu itu” mulu…Yaelah, sentimentil sekali…! <<

Advertisements

suatu saat nanti

suatu saat
akan kukirimkan sekardus kata-kata padamu
melalui titipan kilat angin senja

apakah kurang?

oh, ok…
akan kutambahkan seplastik rasa
dengan jalinan pita asa

tunggu saja,
sampai pelangi tiba

tenanglah…kirimanku pasti datang
suatu saat nanti…

ujung-ujungnya….ya, selalu kamu!

mengusir hadirmu seperti menghitung satu demi satu butiran pasir di tengah gurun

menghapus bayangmu seperti menunggu pelangi di tengah kemarau

susah, melelahkan, juga menyakitkan…

tapi kamu datang…lalu pergi…
lalu datang lagi…

pergi, dan datang lagi…
selalu seenaknya…

Hey! aku lah si pemilik hati…
bukan jalan setapak yang seenaknya kau lewati tanpa permisi
bukan rumah tak bertuan yang semaunya kau masuki tanpa salam dan ketuk pintu

pintu hati ini memang tak kan pernah bisa tertutup rapat
tapi tidak seharusnya kamu perlakukan hatiku seperti itu

aku lah si pemilik hati

aku
:
:
hanya diriku