[not a Review] Film Wonder dan Kenangan Masa Kecil

Kemarin akhirnya menyempatkan nonton Wonder. SENDIRI! Yak, setelah sekian lama nggak nonton sendiri di bioskop, demi Wonder gue bela-belain nonton sendiri. Bisa dibilang kepengen nonton ini karena terhasut rekomendasi orang-orang di media sosial yang bilang film ini sedih dan menyentuh. Jadi, walaupun sebenarnya sudah diprediksi filmnya akan sedih, gue nggak tahu tuh apakah gue akan serta-merta mewek atau cuma berlinangan air mata kaya gue nonton Coco. Seingat gue, terakhir gue mewek terus-terusan nonton film di bioskop itu pas nonton film Jepang “Her Love Boils Bathwater”. Nah, pas banget kan kemarin itu gue lagi ‘dapet’ tuh. Sebuah kombinasi sempurna, kan? Film sedih + hormon! Telen aja noh aer asin~~

Oke baiklah, gue akan serius dan tentu saja sesuai judulnya, ini bukan review. INI CURHAT! Yang pasti ini film sukses bikin eik mulai meneteskan air mata, bahkan di menit-menit pertama. Persoalan inferioritas, sekolah, keluarga memang selalu bikin emosi gue dibolak-balik. Ada banyak momen dan adegan yang sebenarnya beberapa kali membuat gue mewek (nggak nyampe sesenggukan sih). Yang paling gue ingat justru bagian ketika August “Auggie” Pullman pertama kali masuk sekolah umum setelah sebelumnya selalu homeschooling. Kenapa? Continue reading

Advertisements